
*
*
*
Alingga sudah datang ke tempat pertemuan nya dengan Ane malam ini , Ia datang lebih awal dari jam perjanjian mereka . Ia juga sudah mempersiapkan beberapa hadiah untuk Alina .
Membayangkan bagaimana ia akan makan malam keluarga nanti . ahh ... bisakah ini di sebut makan malam keluarga ...
"Maaf lama menunggu " Alingga tersadar dari lamunan nya mendengar suara yang telah lama ia nantikan menyapanya . Tapi saat melihat siapa yang datang , wajah Alingga berubah masam .
"Tidak .. " Mood Alingga hancur seketika , ia melihat Rio menggandeng tangan anak nya .
"duduk " kata Alingga dingin
mereka berempat duduk mengelilingi meja , setelah memesan makanan suasana terasa canggung . tidak ada yang berbicara , hanya terdengar celotehan Alina . "Papa .. setelah makan malam , apa Nana boleh makan es krim ?" tanya Alina pada Rio
"Tentu .. "jawab Rio
Apa ?
Papa ?
Anaknya memanggil musuhnya papa ?
Alingga menatap tajam Ane , dengan raut wajah yang seolah bertanya 'apa maksudnya ini '
"em .. itu Lingga , karena aku dan Rio akan segera menikah . maka Nana membiasakan diri memanggil Rio papa " Ane berkata canggung
"Lalu aku ?" tanya Alingga sinis
"kamu juga papanya "Jawab Ane serba salah
"Tidak mungkin Ia punya dua papa !" Alingga mencoba menahan emosinya , di sini ada Alina . ia tidak ingin Alina takut padanya .
"Kenapa ? jika ia sudah besar nanti ia juga akan mengerti " ujar Rio
"Ia akan mengerti kalau mamanya tidak menikah dengan papanya , apa itu maksud mu !" sindir Alingga .
pembicaraan mereka berhenti , karena pelayan datang membawakan pesanan mereka .
Setelah itu mereka makan malam dalam diam , lebih tepatnya Alingga yang diam . Ia kesal melihat interaksi mereka bertiga , Ane sesekali mengajari Alina cara makan . Sedangkan Rio bertugas memberi Alina minum atau mengelap mulut Alina yang terkena sisa makanannya .
__ADS_1
Apa apaan ?
Kenapa jadi mereka yang makan malam keluarga !
Alingga frustasi , ia menghembuskan nafasnya kasar segera ia mengambil bingkisan yang telah ia beli tadi untuk Alina . menyodorkan bingkisan itu padanya "Alina ini untuk kamu " kata Alingga tersenyum . "makasih om " jawab Alina dengan mulut penuh makanan .
Alingga bangkit berdiri dan berkata dengan sinis pada Ane "Jika kamu sudah serius membicarakan masalah kita , kamu bisa datang lagi padaku . tanpa membawa orang luar " . Setelah mengatakan itu Alingga pergi meninggalkan mereka .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
SIAL .. SIAL .. SIAL ..
Berkali kali ia pukul kemudi mobilnya , karena kesal .
Ia sudah menyiapkan semuanya , tapi Rio sialan itu mengacaukan semuanya .
Ia mengendarai mobilnya , sekarang ia akan menunggu Ane dekat rumah nya saja .
Hampir dua jam ia menunggu Ane pulang di dekat rumah nya , sampai sebuah mobil terparkir di depan rumah Ane . lalu Ane turun dengan menggendong Alina . menunggu sampai mobil Rio pergi , Ane masuk ke dalam rumah .
Segera ia melajukan mobilnya , ke depan rumah Ane .
Ting Tong
Alingga memencet bel rumah Ane , tidak berapa lama pintu terbuka . menampilkan seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah bi Sumi .
"saya cari Ane " jawab Alingga
"Siapa bi ?" tanya suara Ane dari dalam
"ada yang cari neng Ane " kata bi Sumi , setengah berteriak . ia menunggu Ane datang dan melihat tamu nya , barulah bi Sumi pergi .
"Lingga .. ?" Ane heran tiba tiba saja melihat kedatangan Alingga di rumah nya
"kamu tidak akan mengajak ku masuk ?" tanya Alingga . Ane tidak menjawab , ia hanya bergeser dari pintu tanda mempersilahkan Alingga masuk .
tanpa basa basi mereka langsung duduk di sofa tamu .
"ada apa ?" tanya Ane
"pembicaraan kita belum selesai , bahkan belum di mulai " ketus Alingga . Ane membuang muka "bukankah kamu yang pergi begitu saja , sebelum kita membahas apapun " sinis Ane . setelah itu datang bi Sumi membawa kan dua gelas minuman .
sampai bi Sumi pergi meninggalkan mereka , barulah mereka memulai lagi pembicaraan .
__ADS_1
"Aku sudah tau alasan mu pergi , semua yang di katakan Dara bohong . Hamil apa , bahkan sampai saat ini aku tidak pernah menyentuhnya " Alingga berkata dengan tegas . "semua itu sudah lalu , tidak perlu membahasnya lagi "balas Ane tak enak .
"aku harus membahasnya , kamu tidak tau bagaiman aku seperti orang gila mencari mu Ane . kamu tidak tau apa yang aku rasakan hampir enam tahun ini "sentak Alingga , "aku tau .. ! aku juga merasakannya ! aku akui aku pergi karena kebodohan ku . tapi aku juga tersiksa ngga ... " balas Ane lirih di akhir kalimatnya .
Alingga langsung menghampiri Ane dan bersimpuh di depan nya , sambil menggenggam kedua tangan Ane . "kalau begitu kita kembali bersama ya " pinta Alingga , Ane menggeleng sekuat tenaga ia menahan air mata nya agar jangan keluar "aku tidak bisa , kami sudah mau menikah " .
"Kamu boleh mengunjungi Nana kapan saja , aku juga akan merubah semua data kelahiran Nana . mencantumkan nama kamu sebagai ayahnya , tapi aku tidak bisa kembali "ungkap Ane .
"apakah kamu mencintainya ? " tanya Alingga lirih , wajah nya tertunduk di kedua lutut Ane .
Ane terdiam beberapa saat sebelum menjawab "ya .. aku mencintainya " jawab Ane
"bisakah kamu biarkan Nana memanggilku papa ? terserah Nana mau memanggil nya dengan sebutan apa , tapi aku minta Nana hanya memanggil papa padaku seorang "
"jangan kekanak-kanakan "
"aku hanya minta satu hal , itu saja . bahkan jika aku menikah suatu saat nanti , hanya kamu yang akan di panggil mama oleh nya "
Kenapa hati Ane sakit mendengar perkataan Lingga yang akan menikah , memang apa lagi . apakah ia ingin Lingga sendiri seumur hidupnya . jangan egois Ane , kamu bahkan bilang padanya kalau kamu mencintai Rio . tapi itu sengaja ia katakan agar Lingga , tidak mengharapkan nya lagi . kalau begitu biarkan Lingga bahagia dengan wanita lain suatu saat nanti . Dengan Sharon mungkin .
"Ane .. aku hanya minta itu , jika kamu tetap ingin menikah dengan nya . aku akan menerimanya , ingat Ane ini pilihan kamu sendiri . !" kata Alingga tegas
setelah itu ia bangkit berdiri , dan berlalu pergi . setelah mengecup kening Ane . Ia tinggalkan Ane yang masih termangu di sofa , begitu saja .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rio menghempaskan tubuhnya di atas kasur , kenapa saat pernikahan nya semakin dekat dengan Ane ia malah merasa gelisah . entah apa yang ia pikirkan selama ini , jujur ia menyayangi Ane .
Tapi ia tidak merasakan ketertarikan emosional pada Ane , apakah keputusan nya sudah benar ?
Ia benar benar ingin menjaga dan melindungi Ane juga Nana . Sejak pertama ia bertemu dengan Ane , ia merasa kasihan . Setelah tau hubungan Ane dan Alingga , ia murni ingin berteman dengannya .
Lalu sampai Ane yang pergi dari Alingga , dan melihat keadaan Ane . ia lebih merasa iba . seperti seorang kakak . Lalu kenapa ia melamarnya ?
Mungkin karena rasa lelah .
Lelah menunggu yang tidak pasti .
Tapi ia juga tidak ingin menyakiti Ane , rasanya seperti ada yang tertusuk di hatinya jika melihat Ane menangis atau menderita .
Apakah itu cinta ?
*
__ADS_1
*
*