Bertahan Dalam Batas Asa

Bertahan Dalam Batas Asa
Bab 44


__ADS_3

*


*


*


Hari minggu ini rumah Ane terlihat ramai dari biasanya , sebenarnya Alingga dan Ane hanya mengundang Rio dan Felicia untuk ikut merayakan pesta kecil di rumah Ane . Tapi entah kenapa kedua orang tua Rio pun ikut serta .


Para perempuan terlihat sibuk menyiapkan hidangan , sedangkan para lelaki di gazebo belakang sedang membicarakan bisnis .


"Papa setuju dengan keputusan kamu , untuk menjadikan Alingga wakil Ceo di perusahaan kita " kata pak Dani


"Tapi om , jujur saja . saya mungkin tidak akan selamanya di sana " terang Alingga


Kedua ayah dan anak itu saling memandang , sebenarnya ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan pada Alingga .


"Mama kamu sudah memulai .. " hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Rio , Alingga mengangguk mengerti .


"sepertinya ia akan melakukan segala cara untuk memisahkan kami , dan itu di mulai dengan menargetkan Setya Group " jelas Alingga


"Tapi itu semua terserah kalian , apakah tetap akan mempertahankan ku atau tidak . ketahuilah urusan bisnis ini tidak akan mempengaruhi hubungan kita , aku bersedia mengundurkan diri jika keberadaan ku menyulitkan Setya Group " Alingga berkata dengan tegas , pak Dani menepuk punggung Alingga .


"saya hanya berpikir , apakah kamu mau bergabung dengan kami melawan perusahaan mu sendiri " Gurau pak Dani "jika kamu bersedia , maka mulai besok kamu bisa membantu Rio di kursi wakil Ceo "sambung pak Dani , kali ini dengan nada yang serius .


Alingga berpikir dalam diam , apakah mamanya benar-benar menyudutkan nya seperti ini . Lalu apa yang harus ia lakukan . Alingga meminta izin pada mereka untuk menghubungi mamanya sebentar . Pak Dani mengerti , bagaimana pun perusahaan itu di dirikan oleh papa Alingga sendiri . Dan selama ini Alingga telah berusaha keras memajukan perusahaan itu .


Alingga pergi menjauh dari Rio dan pak Dani , ia langsung menghubungi mamanya .


"apa kamu sudah menyadari kesalahan mu sekarang ?" tanya bu Dewi langsung saat mengangkat panggilan Alingga .


"ma .. apakah harus seperti ini " Alingga mencoba bersikap lembut pada mamanya .


"kalau kamu hanya ingin mengatakan hal yang sia-sia , lebih baik tidak usah menghubungi mama "


"mama yang memaksa ku , jadi jangan salahkan aku jika melawan mama " Alingga berkata dengan tegas , lalu menutup panggilan tersebut .


Ia kembali lagi ke gazebo , di mana pak Dani dan Rio masih berada di sana .


"Keputusan nya tidak bisa di ubah kan ?" tanya Rio , saat Alingga sudah duduk di samping nya . Dari raut wajah Alingga memang sudah jelas , kalau ia tidak mendapatkan hasil yang baik dari percakapan dengan mamanya tadi .

__ADS_1


"Jangan terlalu di pikirkan , om yakin nanti mama kamu akan luluh dengan sendirinya . Apalagi Ane saat ini sedang mengandung anak kedua kalian , bagaimana pun ia juga seorang ibu " pak Dani memberikan semangat pada Alingga .


"mungkin kita tidak perlu melawan nya " ujar pak Dani lagi .


"maksud papa ?" Rio bertanya


"Ya .. kita tidak perlu melawan bu Dewi selama kita masih bisa menghindar " jawabnya


Kedua orang itu mengangguk , paham dengan apa yang di maksud pak Dani .


"apa yang kalian bicarakan di weekend seperti ini , masih saja membicarakan pekerjaan " bu Retno datang bersama Alina ke gazebo menghampiri para lelaki yang sudah berjam-jam berdiskusi .


"papa , mama lagi muntah-muntah di kamar mandi " Alina memberitahukan kondisi mamanya pada papanya itu . Alingga langsung bangkit dari duduk nya dan berlari mencari Ane .


Setelah kepergian Alingga , bu Retno bergabung dengan suami dan putranya itu .


"tuh Rio , Alingga saja sudah mau dua . kamu kapan nyusul " bu Retno mulai mendesak Rio untuk memiliki momongan .


"bulan depan ma kami akan coba program hamil ma , karena Felicia harus memastikan kesehatan nya saat ini benar-benar pulih dan tidak mengganggu kehamilan nya nanti " Jelas Rio .


Ia memang tidak pernah mengatakan pada keluarga nya , tentang kesehatan Felicia secara rinci .


*


"aku nggak apa " jawab Ane lemas .


Felicia bangkit dari duduk nya , memberi kesempatan untuk Alingga di sebelah Ane .


"apakah kita perlu ke dokter ?" tanya Alingga cemas . Ane menggelengkan kepalanya "kan sudah di kasih obat anti mual sama dokter nya , lagian ini kan wajar untuk orang hamil " Ane menjelaskan agar Alingga tidak khawatir lagi .


"tapi aku kasian sama kamu , kalau terus kaya gini " balas Alingga sambil mengusap rambut Ane


"aku kan sudah pernah mengalami ini sebelumnya , jadi nggak terlalu risau lagi " Ane menenangkan Alingga


"Maaf ya , aku nggak ada waktu kamu hamil Nana dulu " ujar Alingga penuh sesal .


"bukan salah kamu sayang " Ane membalas perkataan Alingga .


Setelah kondisi Ane lebih baik , mereka melanjutkan acara makan bersama . Semua berkumpul di ruang makan , tidak terkecuali bi Sumi .

__ADS_1


Bi Sumi memang sudah di anggap sebagai bagian dari keluarga , ia pun tidak bekerja di rumah . karena Alingga sudah menyewa ART untuk mengurus rumah , bi Sumi hanya membantu mengurus Alina saja di rumah atau membantu Ane memasak . Tapi setiap bulan nya Alingga selalu memberi bi Sumi uang belanja walau ia sudah menolaknya .


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Esoknya , bu Dewi datang ke perusahaan suaminya untuk memeriksa pekerjaan . Ceo baru itu yang bernama Brama Pramudya menyambut bu Dewi , di ruangan nya . Mereka terlibat pembicaraan serius , sampai bu Dewi menanyakan kondisi Setya Group .


"Sepertinya Setya Group mendukung sepenuhnya pak Alingga , karena saat ini pak Alingga sudah resmi menjabat sebagai wakil dari Rio Prasetya " jelas Brama pada bu Dewi .


Bu Dewi terlihat kesal mendengar berita tersebut , Bagus ! jadi sekarang Alingga akan melawan nya setelah meninggalkan nya !


"Maaf bu , bukan saya mau ikut campur . tapi apa perlu melakukan ini semua . pada akhirnya pak Alingga akan kembali ke sini , karena hanya dia satu-satunya putra ibu " Brama mencoba memberi saran .


Bu Dewi mendengus kesal , mendengar nya .


"Aku akan melakukan segala cara , agar putraku terlepas dari wanita itu !" tandas bu Dewi , setelah itu ia pergi dari ruangan tersebut .


Ia pergi menuju mobilnya , dan menyuruh supir untuk mengantarkan nya ke suatu tempat .


*


Ting Tong


Bu Dewi menekan bel rumah itu , tidak lama ia melihat pintu di buka oleh seseorang yang ingin ia temui .


"Tante " sapa Ane sedikit terkejut , melihat mamanya Alingga sudah berada di depan rumah nya . Ia mempersilahkan bu Dewi masuk dan duduk . Setelah itu ia meminta tolong pada ART untuk membuatkan minum .


"Tidak perlu basa basi " ketus bu Dewi setelah duduk di sofa . Ane berusaha tersenyum .


"Tinggalkan Alingga dan serahkan Alina " bu Dewi berkata tanpa basa basi


"Maaf tante , sampai saat ini saya tidak mengerti apa yang membuat tante sangat tidak menyukai saya " Ane berkata dengan sopan .


"kamu sudah membuat Alingga depresi dulu , dan tentu saja status sosial mu yang tidak pantas bersama Alingga " balas bu Dewi sengit .


"Tapi .. " belum sempat Ane melanjutkan kalimat nya , bu Dewi sudah beranjak dari sofa ia menatap Ane dengan penuh kebencian "Ini bukan permintaan , tapi ini adalah peringatan ! kamu akan tau akibatnya melawan saya " ujar bu Dewi penuh penekanan , setelah itu ia pergi begitu saja .


Ane terduduk lemas , ia sungguh tidak ingin membuat perseteruan Alingga dan mamanya menjadi dalam . Tapi ia juga tidak bisa meninggalkan Alingga , ia sangat mencintainya . Ia tidak akan pernah melepaskan Alingga jika Alingga tidak pernah meminta nya .


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2