
*
*
*
"Mau kemana lo ? tumben buru-buru pulang ?" Fabian bertanya pada Dean , ia heran melihat sahabat nya itu bergegas pulang setelah bel berbunyi .
"Kakak gue hari ini pulang " jawab Dean .
"Oh ya ? berapa lama ?" tanya Fabian lagi
"nggak balik lagi , kakak gue udah wisuda . bulan kemaren mama papa gue kan ke sana buat hadirin wisuda nya" jelas Dean .
"Eh gue balik dulu .. " Dean bergegas meninggalkan Fabian yang hanya berdiam diri , karena terburu-buru Dean tidak memperhatikan Fabian yang sedang tersenyum sumringah .
'Gue juga kangen banget sama dia .. ' gumam Fabian pada dirinya sendiri .
*
Entah sejak kapan ia mulai memperhatikan Alina , awalnya ia menganggap kalau ketertarikan nya pada Alina hanya sekedar perasaan karena ia sedang dalam masa pubertas .
Tapi aneh nya terhadap teman perempuan nya yang lain , ia tidak merasakan ketertarikan seperti pada Alina . Bahkan ia pernah mendapatkan pernyataan cinta beberapa kali , tapi hatinya tidak pernah merasakan dag dig dug seperti saat ia memikirkan Alina .
Ia tau kalau ia terlihat konyol karena menyukai wanita yang lebih tua enam tahun dari nya , apa lagi saat ini baru masuk SMA . Tapi entah kenapa ia selalu merasa bahagia setiap bertemu dengan Alina setiap tahun nya . walaupun Alina tidak pernah berbicara dengan nya , juga hanya menjawab pertanyaan nya dengan gumaman saja .
Tapi itu selalu bisa membuat jantung nya bergetar , bahkan bisa di bilang saat ia pertama kali melihat senyuman Alina . Dunia nya terasa berhenti berputar . Padahal Alina tersenyum bukan pada nya , melainkan pada tante Ane . mama nya .
Ia sudah berusaha menepis perasaan di dalam hati nya , tapi itu hanya membuat nya semakin penasaran . Ia sering stalking akun media sosial Alina , walau isinya hanya sekitar kegiatan kampus . Tapi itu membuat dia merasa bahagia karena Alina tidak pernah mempunyai kekasih sampai saat ini .
Mungkin karena sikap dingin nya , membuat ia tidak ingin memiliki kekasih . Itu membuat ia hanya lebih ingin mengejar Alina , bayangkan jika ia memiliki kekasih yang hanya akan melihat ia seorang dalam dunia nya .
Sekarang Alina telah kembali , ia juga sudah bukan anak-anak lagi . tiga tahun mendamba membuat keinginan di hati nya menjadi lebih kuat untuk memiliki Alina .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Selamat datang kembali .. "
__ADS_1
Sama seperti saat perpisahan , kembalinya Alina juga di hadiri mereka semua . Malam ini Ane mengadakan acara makan malam untuk Alina . Ia membuat acara ini agar Alina sedikit menghilangkan sikap acuh tak acuh nya , juga lebih mendekatkan dia pada orang lain .
Alina tersenyum melihat mereka semua datang menyambut nya di pintu rumah orang tua nya , setelah memeluk setiap orang yang ada - kecuali Fabian - mereka melanjutkan acara makan malam sambil berbincang-bincang .
"Bagaimana London ?" tanya Rio
"Baik .. mungkin " Jawab Alina
Mereka semua saling memandang setelah mendengar jawaban Alina .
"Bagaimana pria di sana , apa tidak ada yang membuat kamu tertarik ?" tanya Felicia menggoda .
"Uhuk .. uhuk .. " Fabian batuk mendengar pertanyaan mama nya .
"Biasa saja .. " jawab Alina singkat .
Dan .. mereka terdiam untuk kedua kalinya .
"Hahahaha ... bagus .. bagus .. putri papa memang terbaik , tidak perlu lelaki .. Hahaha " Alingga tertawa riang , Ane langsung menyikut perut suami nya itu . Apakah ia tidak berpikir kalau di usia Alina saat ini seharusnya ia pernah merasakan cinta monyet dan memiliki kekasih .
"Kenapa ? bagus dong kalau Nana tidak punya pacar , ia bisa lebih fokus pada karir . Nanti jika sudah waktunya ia belum memiliki pasangan juga , kita bisa menjodohkan nya dengan anak teman atau relasi bisnis " kata Alingga
"kamu ini gimana sih , makan kaya anak kecil dari tadi batuk-batuk aja " Felicia menegur putra nya itu .
"Maaf .. " kata Fabian .
Alina tidak memperdulikan perbincangan mereka seputar jodoh , ia hanya menjawab jika ada yang bertanya padanya .
Akhirnya makan malam itu selesai , para orang tua terlibat dalam pembicaraan mereka masing-masing . Sedangkan Dean sudah sibuk dengan gadget nya , Fabian yakin kalau Dean pasti sibuk membalas pesan-pesan dari para cewek .
Dean juga termasuk dalam cowok paling populer di sekolah , sama seperti Fabian . Hanya saja Dean suka meladeni para cewek tersebut , lain halnya dengan Fabian . Dean juga sudah berapa kali gonta ganti pacar .
Fabian melihat sekeliling , akhirnya ia menemukan sosok yang sejak tadi ia cari sedang duduk di balkon ruang keluarga di atas sambil membaca sebuah buku .
Fabian berjalan mendekati Alina yang tidak menoleh sama sekali ke arah nya .
"Kak .. " sapa Fabian
__ADS_1
"Hmm " gumaman Alina adalah jawaban nya , Fabian sudah terbiasa dengan jawaban seperti itu . Ia menebalkan wajah nya dan mencoba duduk di samping Alina .
"Kakak beneran terima aja kalau di jodohin sama om ?" tanya Fabian mencoba menarik perhatian Alina dari buku nya tersebut .
Alina hanya mengedikan bahu nya .
"em .. maksud ku , emang kakak nggak ada cowok yang di suka gitu ?" tanya Fabian lagi tidak menyerah .
Alina menggelengkan kepala nya .
"Kalau ada cowok yang suka sama kakak , kakak mau nerima nya nggak ?" Fabian masih semangat mengajak Alina berbicara .
"Entah "jawab Alina singkat .
"Tipe cowok kakak kaya gimana sih ?"
"to the point aja " Alina menutup buku nya dan menoleh ke arah Fabian , jujur ia merasa risih karena Fabian menganggu nya dengan pertanyaan tidak jelas .
"Aku suka sama kakak !" Kalimat itu akhirnya keluar , Fabian membalas tatapan Alina saat dengan tegas menyatakan cinta nya .
Alina terdiam .
"Kakak jangan pikir aku masih kecil , aku serius suka sama kakak . udah lama , setiap hari aku mikirin kakak terus yang jauh di sana . sekarang aku seneng karena kakak udah pulang jadi setiap aku kangen , aku nggak cuma liat foto kakak " Fabian berkata dengan yakin .
Alina tersenyum kecil , ia mengusap puncak kepala Fabian . Jantung Fabian berhenti berdetak seketika , ini pertama kalinya kontak fisik dan ini pertama kalinya Alina tersenyum pada nya .
"Sekolah dulu yang bener , bukan nya mikirin pacaran " kata Alina , setelah mengatakan itu ia bangkit dari duduk nya dan meninggalkan Fabian yang masih belum kembali ke dunia nyata .
Setelah menyadari kalau Alina sudah tidak ada lagi di hadapan nya , Fabian memegang rambut nya yang baru saja di sentuh oleh Alina . Tersenyum seperti orang bodoh , sampai ia tidak menyadari perkataan Alina sebelum pergi .
'Dia senyum sama gue , di ngelus rambut gue ' batin Fabian .
Ia hanya merasa hatinya sedang berbunga-bunga saat ini , bahkan ia tidak memikirkan maksud dari perkataan dan perbuatan nya tadi seperti seorang kakak yang sedang menasehati adik nya .
Yang ia tau adalah , itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Alina katakan padanya sejak ia saling mengenal .
*
__ADS_1
*
*