
*
*
*
Alingga menghempaskan semua barang yang ada di ruangan itu , untuk melampiaskan amarah nya . Ia berjalan mendekati Dara yang tergolek di lantai , dengan kekesalan nya ia menginjak-injak tubuh Dara .
"Apa yang kau lakukan ! ia bisa mati !" Seru Rio
Ia dan beberapa orang lain nya , menahan tubuh Alingga .
"Jika sesuatu terjadi pada putriku , aku akan membuatmu jauh lebih mengenaskan dari ini !" ancam Alingga , Dara tidak mengatakan apa pun . Bahkan untuk menggerakkan jarinya saja ia merasa kesakitan .
Ponsel Brama berdering , Alingga langsung merampas ponsel yang ada di tangan Brama .
"Di mana putri ku " sungut Alingga saat mengangkat panggilan tersebut .
"Bukankah sudah ku bilang untuk tidak melibatkan polisi ! jangan sampai terlambat nanti sore ! aku takut putri kecil mu tidak dapat menahan nya " kata Ronald di iringi oleh suara tawanya , setelah mengatakan itu ia langsung memutuskan panggilan tersebut .
Jika tidak teringat bahwa ponsel itu milik Brama , ia sudah membanting nya sampai hancur .
"Kita berangkat sekarang , sesuai yang kita bicarakan tadi . jangan ada yang turun tangan sebelum aku mendapatkan putriku !" Setelah mengatakan itu , Alingga langsung bersiap untuk pergi ke tempat pertemuan nya dengan Ronald bersama Brama .
Sedangkan Rio dan beberapa polisi lain akan mengikuti mereka dari belakang , dengan menjaga jarak .
Alingga mengendarai mobil nya dengan kecepatan maksimal , sepanjang perjalanan tangan nya terus mengepal . memendam kemarahan .
Di jok belakang Dara terduduk dengan tangan terikat .
Selama satu jam lebih perjalanan , mereka akhirnya sampai di tempat yang di sebutkan Ronald tadi .
Sepertinya tempat ini sebuah pabrik kecil yang sudah tidak terpakai .
Di seberang mereka terdapat sebuah mobil yang mesin nya menyala . dan di antara mobilnya dan mobil itu ada sebuah meja , seperti meja kantor hanya saja sedikit usang .
Alingga pikir Ronald ada di dalam mobil itu , ia keluar dari mobilnya di ikuti oleh Brama .
__ADS_1
setelah ia keluar dari mobil , pintu gudang itu terbuka . menampilkan Ronald yang berjalan di depan , di belakang nya terdapat dua orang lelaki bertubuh tegap . Salah satu nya mendorong kursi roda yang berisikan seorang wanita yang terikat di tangan dan kaki nya , wanita itu mengenakan dress panjang yang menutupi tubuh nya . juga sebuah topi pantai di kepala nya . Sedangkan orang satunya lagi hanya membawa sebuah tas .
Setelah melihat wanita yang di kursi roda , Brama sontak bergegas menghampiri . tapi langkah nya terhenti karena dari sampingnya muncul satu orang lagi yang menodongkan pistol ke arah nya .
Alingga menoleh ke samping , ia juga mendapati seseorang di samping nya yang berbuat serupa .
Terdengar suara tawa Ronald yang membahana .
"Kalian kelihatan sangat tidak sabar "ejek Ronald
"Di mana putri ku !" seru Alingga
Ronald mengalihkan pandangan nya ke sebuah mobil di seberang nya , setelah itu keluar lah seorang dari dalam mobil menggandeng tangan Alina .
"Papa !!" Panggil Alina ketakutan , ia ingin berlari ke arah papanya tapi tangan di cekal dengan kuat oleh orang tersebut . Ia langsung menangis memanggil manggil papanya .
Ronald langsung berjalan ke arah meja tersebut , orang di belakang nya yang membawa tas mengikuti nya . ia meletakan tas di atas meja dan mengeluarkan sebuah map dari dalam tas tersebut . meletakkan nya juga di atas meja dan sebuah pena di atas map tersebut .
Ronald melirik ke arah orang yang berada di samping Alingga , orang itu langsung mengerti . Ia mendorong tubuh Alingga agar berjalan menghampiri Ronald .
Saat Alingga berjalan ke arah Ronald , orang yang membawa Alina pun menghampiri Ronald .
Alingga melihat berkas yang ada di atas meja , tanpa pikir panjang ia langsung menandatangani berkas tersebut .
Ronald tertawa puas , mengambil berkas tersebut dan menyimpan nya ke dalam tas . Setelah itu orang yang sejak tadi menahan Alina melepaskan nya .
Alina berlari ke arah papanya , Alingga langsung memeluk putrinya dan menggendong nya .
"Transaksi kita sudah selesai , kamu bisa pergi ! Biarkan adik mu sekarang yang datang !" Perintah Ronald .
Alingga langsung berbalik ke arah mobil nya .
"Tunggu !" Seru Ronald , menghentikan Alingga yang baru berjalan dua langkah . Di gendongan nya Alina memeluk nya dengan erat . tubuh nya gemetar menahan tangis dan takut .
"Keluarkan putriku dari sana !" kata Ronald
Tanpa menoleh ke belakang Alingga melanjutkan langkah nya , sesampainya di samping mobil Alingga menurunkan Alina dari gendongan nya . Ia membuka pintu mobil belakang lalu menyeret Dara keluar dari sana .
__ADS_1
Ronald melihat keadaan Dara yang mengenaskan , bukan nya marah ia malah tersenyum dan berkata . "Sepertinya kalian melayani putri ku dengan baik "
Alingga meletakkan Alina ke dalam mobil , mendudukkan nya di jok belakang . "Nana duduk di sini ya , jangan keluar apapun yang terjadi !" kata Alingga tegas dan mengusap rambut putri nya dengan lembut . Alina hanya mengangguk .
"Bawa ia bersama mu !" Ronald memerintahkan Brama membawa Dara ke hadapan nya .
Tanpa di suruh dua kali Brama membawa Dara dan menghampiri Ronald .
Ronald tidak mengatakan apapun pada Brama , ia hanya menyodorkan sebuah pena padanya . Tanpa membaca isi berkas tersebut ia menanda tangani nya tanpa ragu .
Orang yang menahan Alina tadi , membawa Dara masuk ke dalam mobil yang masih menyala .
Setelah mendapatkan tanda tangan Brama , Ronald membereskan berkas nya lalu beranjak pergi menuju mobil nya . Brama ingin menahan nya , tapi pistol di samping nya langsung menempel di pelipis kirinya .
Akhirnya Brama membiarkan Ronald menaiki mobil tersebut dan pergi meninggalkan nya .
Orang yang memegang kursi roda , meninggalkan Hana begitu saja di sana . Ia berjalan ke arah sepeda motor yang terparkir di depan nya , setelah menghidupkan nya . orang yang mengancam Brama dengan pistol bergegas menaiki motor tersebut bersama kawan nya .
Brama langsung berlari ke arah Mamanya yang berada di kursi roda , setelah ia sampai di hadapan mamanya ia langsung melepas semua ikatan di tangan dan kaki mama nya .
"Mama " panggil Brama cemas , sebab ia tidak mendapat reaksi apapun dari mamanya .
Alingga menekan earphone yang ada di telinga nya "Sekarang !" kata Alingga .
Alingga berlari menyusul Brama .
Wajah Brama sudah sangat ketakutan , ia melepas topi yang ada di kepala mama nya . setelah ia melihat luka besar terbuka di kening atas mamanya . Ia tercengang , ia baru memperhatikan kalau wajah mama nya sudah seputih kapas .
sejak tadi ia tidak melihat wajah mamanya karena terhalang oleh topi besar yang ada di kepala mama nya .
"Mama .... " Jerit Brama , sambil memeluk tubuh mamanya .
Alingga datang dan langsung memeriksa kondisi Hana . "Cepat kita bawa ke rumah sakit , Ronald dan kawanan nya sudah di bereskan oleh polisi dan orang-orang kita " kata Alingga .
Dengan perasaan kalut Brama membopong tubuh mamanya , meletakkan nya dengan hati hati ke dalam mobil di sebelah Alina .
*
__ADS_1
*
*