
*
*
*
Di ruangan VIP ini , hanya terdengar suara mesin EKG . sudah tiga malam Ane dalam kondisi seperti ini , menurut keterangan dokter Ane saat ini dalam kondisi vegetatif .
Dunia nya terasa hancur saat mendengar berita yang di sampaikan oleh dokter itu .
Bahkan sudah tiga malam Alingga tidak beranjak dari sisi Ane , penampilan nya saat ini sudah tidak bisa di jelaskan . Bu Dewi setiap hari pun datang ke rumah sakit untuk mengantarkan makanan dan perlengkapan Alingga .
Saat ini ia tinggal di rumah Alingga , membantu bi Sumi mengurus Alina . Karena saat kecelakaan terjadi Alina berada di sana , jadi kondisinya saat ini cukup memprihatinkan . Setiap malam ia mimpi buruk , juga setiap saat menangis karena teringat akan mamanya .
CEKLEK
Pintu ruangan terbuka , menampilkan bu Dewi yang masuk membawa rantang makanan .
Ia membawa rantang tersebut ke meja yang berada di ruangan itu , tapi ia melihat makanan yang ia bawa tadi malam tidak di sentuh oleh Alingga .
"makan dulu Lingga , kamu boleh bersedih tapi jangan seperti ini . Alina di rumah pun membutuhkan kamu , belum lagi minggu depan putra kalian sudah boleh di bawa pulang . kamu harus sehat buat putra putri kamu , juga untuk menunggu Ane sadar " bu Dewi membujuk Alingga , dengan nada yang lirih .
Alingga hanya terdiam tidak menanggapi . Bahkan posisinya tidak bergeming sedikit pun .
"Lingga .. maafin mama ya .. " melas bu Dewi , akhirnya tangisan itu keluar juga . Kini ia baru menyadari kalau cinta Alingga untuk Ane begitu besar dan dalam . Ia pikir dulu hanya frustasi sesaat karena di tinggalkan Ane , tapi lihat lah ia sekarang . kondisinya bahkan tidak lebih baik dari Ane yang terbaring koma ,
Akhirnya Alingga menoleh pada mamanya , ia memeluk mamanya dengan erat . menumpahkan tangisan yang sejak semalam ia tahan . bu Dewi membalas pelukan putranya , ia mengusap dengan lembut punggung kokoh Alingga yang saat ini terasa lemah .
"Sampai kapan Ane seperti ini ma .. Lingga .. takut "Lirih Alingga di sela isak tangisnya .
"kita hanya bisa berdoa , semoga Ane bisa kembali lagi bersama kita " balas bu Dewi menguatkan .
Tidak berapa lama , pintu kamar di buka oleh Rio . Alingga melepaskan pelukan mamanya , dan mengalihkan perhatian nya ke Rio .
"aku tau perasaan mu saat ini , tapi kamu juga harus bangkit . kita masih punya tugas untuk mencari pelaku di balik semua ini " Rio berujar .
"Bagaimana penyelidikan polisi ?" tanya Alingga
"masih belum menemukan titik terang , aku sudah menyewa beberapa detektif swasta untuk membantu penyelidikan ini "jawab Rio
__ADS_1
"saat ini bantuan kita hanya dari sketsa pelaku yang di jelaskan oleh bu Dewi " sambung nya lagi .
Alingga menganggukan kepala .
"sekarang , lebih baik kamu pulang . Nana tidak berhenti menangis , ia juga sudah mengalami hal berat . saat ini Ane tidak ada di sampingnya , apakah kamu sebagai papanya juga tidak memperdulikan nya " bujuk Rio
"kita bisa bergantian menjaga Ane di sini , mama ku juga sekarang di rumah mu bersama Felicia ikut menemani Nana . lihatlah keadaan nya " Rio mengusulkan .
Setelah itu dengan berat hati Alingga meninggalkan Ane , mamanya akan berjaga di sini . Sedangkan Rio harus mengurus perusahaan dan juga melihat perkembangan kasus Ane .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini di tempat lain , pak Ronald sudah mendapatkan kabar . kalau dua orang suruhan nya itu telah di bersihkan , ia menyunggingkan senyum . 'bukankah sudah ia bilang , kalau ia tidak akan meninggalkan bukti dan saksi . Apalagi kasus ini sudah membuat Ceo Setya Group ikut turun tangan ' batin pak Ronald .
Sekarang yang harus ia pikirkan adalah bagaimana , membuat pembukaan rencana kedua nya .
Ia membuka ponselnya , dan menghubungi seseorang .
"Halo " jawab orang di telepon
"kita bertemu di tempat biasa malam ini pukul delapan " kata pak Ronald , setelah itu ia mematikan panggilan tersebut .
*
"Bagaimana keadaan kantor ?" tanya pak Ronald saat baru saja menempatkan bokong nya di dalam pondok .
"Stabil .. bu Dewi belum datang sampai saat ini " jelas Brama
"Alingga ?" tanya pak Ronald lagi . Brama menggelengkan kepalanya , menjawab pertanyaan pak Ronald .
"apakah kau tau kenapa aku memilih mu untuk bekerja sama dengan ku " kata pak Ronald
"jelaskan saja point nya "tukas Brama
pak Ronald tertawa kecil .
"kamu adalah anak haram Erlangga " lanjut pak Ronald santai . seolah olah ia sedang mengatakan cuaca malam ini .
Tapi tidak dengan Brama , wajah nya menunjukan keterkejutan sedetik kemudian ekspresi nya berubah datar .
__ADS_1
"apakah ini rencana kedua mu , membuat ku berpura sebagai anak haram Erlangga ? "
Pak Ronald tidak menjawab pertanyaan Brama , ia hanya melemparkan sebuah map padanya .
Brama mengambil map tersebut dan membukanya , lalu melihat isinya satu persatu . ekspresi nya berubah-ubah saat membaca sehelai demi sehelai lembaran tersebut .
Saat di lembar terakhir , tangan nya mengepal juga meremas dokumen tersebut .
Pak Ronald tertawa puas , melihat emosi yang di tunjukan Brama .
"apakah bibit dendam sudah tumbuh di hatimu sekarang " ejek pak Ronald .
Brama menatap tajam pada pak Ronald , bajingan ini ternyata sudah memanfaatkan ia dari awal .
Pantas saja ..
Ia memang selalu berpikir kalau ia adalah anak haram dari pria kaya , sebab mamanya selalu mendapatkan kiriman uang setiap bulan dalam jumlah yang tidak sedikit .
Bahkan untuk ukuran seorang pegawai biasa seperti mamanya , bisa menyekolahkan ia sampai ke luar negeri . itu sangat tidak mungkin .
Apakah ia harus tertawa puas sekarang ?
karena menemukan ayah kandungnya , atau ia harus bersedih . karena sejak ia bisa mengingat , ia sama sekali tidak pernah melihat sosok ayah dalam pertumbuhan nya .
"apa rencana mu ?" tanya Brama
"kita hanya perlu berpura tidak tau semua nya , lalu serahkan semua nya padaku . kau hanya perlu memberitahu ku kapan bu Dewi datang ke kantor , lalu kita bisa kebetulan bertemu " jelas pak Ronald .
"bagaimana jika wanita itu tidak akan menuruti semua yang tertulis di surat itu ?" tanya Brama lagi .
"itu akan menjadi urusan ku , untuk membujuk Dewi dan Alingga " jawab pak Ronald .
"Sekarang kau hanya perlu bekerja seperti biasa , saat Dewi datang ke kantor . kita akan memulai semuanya " ujar pak Ronald lagi .
Brama mengangguk mengerti , setelah itu pak Ronald pergi dari cafe itu duluan . Selang beberapa waktu , barulah Brama yang beranjak dari sana .
Sepertinya ia akan menemui mamanya dulu sebelum membuat rencana sendiri , ia tidak bisa percaya begitu saja dengan orang licik seperti Ronald .
*
__ADS_1
*
*