
*
*
*
Sudah dua hari ini Alingga , Rio dan Brama tidak pulang ke rumah . Mereka masih sibuk mencari Hana yang sampai saat ini belum di temukan . Dara saat ini sudah di sekap oleh anak buah Alingga .
Mereka mencoba menghubungi Ronald , tapi masih belum tersambung .
Mereka menyewa satu kamar di rumah sakit , di sebelah ruangan Ane . Alingga begitu takut meninggalkan Ane sendirian , ia tidak dapat membayangkan jika sesuatu terjadi pada Ane .
Di lantai kamar rumah sakit , Dara tergeletak dengan kondisi mengenaskan . semua luka di tubuh nya lebih banyak di buat oleh Brama untuk melepaskan amarah nya .
Suara ponsel Brama menghentikan kegiatan mereka masing-masing .
"Halo " Brama mengangkat panggilan itu , dan menekan tombol pengeras suara .
"Apa kau menikmati tubuh putriku " terdengar suara tawa di akhir kalimat .
"Sialan kau Ronald , bahkan dengan putrimu sendiri kau sangat tega . " bentak Brama
"Ia sudah tidak ada guna nya untuk ku , sama seperti ibunya . heh bahkan menggoda Alingga saja ia tidak mampu , dasar pelacur bodoh " kata Ronald dengan santai tanpa merasa bersalah .
"Bahkan menyentuh kulit nya saja , aku merasa jijik " Alingga membalas perkataan Ronald .
"Oh .. kalian sudah bekerja sama ? hahaha baguslah , kalian harus lebih akrab ! bagaimana pun kalian adalah adik kakak " ejek Ronald
"Di mana Hana ?" tanya Alingga kesal
"Oh .. dia sedang berada di bawah tubuh ku" Ronald menjawab dengan tawa yang keras .
Semua orang di ruangan itu merasa tegang campur gelisah . Sangat jijik dengan kelakuan Ronald .
"Datanglah ke Gudang Barat , kavling tiga belas sore ini . aku menunggu kalian , jangan lupakan bawa putriku tersayang !" Ronald berkata dan langsung menutup panggilan itu .
Brama menghentakkan kakinya menuju Dara yang terbaring tidak berdaya , ia langsung menarik rambut Dara dengan sekuat tenaga . membuat wanita itu menjerit kesakitan .
"Kau dengar sendiri apa yang ia katakan tentang putrinya " kata Brama .
Dara hanya terdiam , ia sudah tidak bisa melawan lagi . Seluruh tubuh nya sakit , tapi hatinya saat ini lebih sakit . Karena ayahnya sendiri tidak memperdulikan nya dan membiarkan nya menjadi bulan-bulanan musuh ayah nya .
"Sakit ... " Dara hanya bisa mengeluh .
Brama menghempaskan kepala Dara ke lantai dengan cukup keras , hanya Rio yang meringis melihat keadaan Dara . Sedangkan Alingga hanya menunjukan ekspresi datar .
__ADS_1
*
"Bersiaplah , putramu akan datang nanti " Ronald berkata sambil memakai pakaian nya .
Hana terbaring lemah di atas kasur , kondisi nya tidak jauh berbeda dengan Dara . Bedanya Ronald terus melecehkan nya sedang Dara satu orang pun tidak ada yang ingin menyentuh nya .
Ronald membuka pintu dan memanggil para anak buah nya .
"Kalian bisa menikmati sepuasnya , berikan ia pengalaman terindah karena nanti sore ia akan pergi dari sini " Ronald memerintah kan anak buah nya lalu tertawa puas .
Hana yang masih ada sedikit kesadaran diri , mendengar perkataan Ronald . Lalu tidak lama masuk lah anak buah Ronald , mengelilingi Hana .
Dengan tenaga yang tersisa Hana mencoba melawan , ia menjerit sekuat-kuatnya . jeritan nya terdengar memilukan , tapi Ronald tertawa lebih keras saat jeritan Hana lebih kuat .
Di dalam ruangan itu , ada tiga orang lelaki . Mereka semua menyeringai melihat Hana yang tanpa pakaian . Seumur hidup Hana ia hanya sekali melakukan hubungan dengan Erlangga , dan ia melahirkan Brama . Sampai saat ini tidak ada lelaki yang menyentuh nya lagi , sehingga tubuh Hana masih terlihat kencang dan terawat .
Itu sebab nya saat Ronald menangkap Hana kemarin , ia langsung tergiur oleh tubuh Hana .
Saat Kedua orang lelaki sibuk membuka pakaian mereka , hanya tinggal satu orang yang akan menyerang Hana . Hana memanfaatkan kesempatan itu untuk bangkit , dan menjauh dari mereka .
Ia sungguh jijik telah di perlakukan seperti itu oleh Ronald , dan sekarang ia akan di gilir oleh ketiga pria tersebut . Ia tidak menginginkan itu .
Lalu tanpa pikir panjang Hana berlari dari tempat tidur , dengan tenaga yang tersisa ia tidak lari menuju pintu keluar melainkan ke dinding di hadapan nya .
BRUGH
Hana menghantamkan kepalanya ke dinding dengan sekuat tenaga , cairan hangat mulai terasa mengalir di keningnya dan terus menetes ke bawah . Tubuh nya ambruk saat itu juga dengan mata yang terpejam .
Ketiga anak buah Ronald terkejut , dengan kejadian yang secepat kilat tadi . mereka langsung bergegas mengenakan pakaian mereka kembali , dan mengecek kondisi Hana .
Satu orang yang sudah berpakaian langsung menghampiri Hana dan memeriksa nafas Hana , di susul satu orang lagi yang mencoba mendengar detak jantung Hana .
"Panggil Bos !" katanya , lalu orang yang terakhir berpakaian langsung berlari keluar untuk menemui Ronald .
Ronald masuk ke ruangan itu dengan emosi , ia langsung menendang kedua anak buah nya yang tersisa di ruangan itu .
"Bodoh .. kalian bertiga melawan satu wanita pun tidak becus " maki Ronald , ia berjalan menghampiri Hana yang tergeletak di lantai . memeriksa Hana dengan teliti .
"bersihkan tubuhnya , lalu pakaikan ia pakaian dengan rapi . nanti sore kita akan membawa nya menggunakan kursi roda " Perintah Ronald pada anak buah nya , lalu beranjak pergi dari ruangan itu .
Untuk memikirkan rencana selanjutnya .
Karena Hana sudah tidak bisa di pakai untuk pertukaran nya nanti .
*
__ADS_1
Bi Sumi mengejar Alina yang sedang mengejar bola nya ke depan pintu pagar rumah .
"Nana .. biar nenek saja yang ambil " teriak bi Sumi
"Nenek tunggu di situ saja " seru Alina
Ia terus mengejar bolanya yang menggelinding dan berhenti di pintu pagar , satpam di luar memperhatikan Alina yang menuju pintu pagar dengan seksama .
Sampai ia tidak menyadari kalau di belakang nya ada seseorang yang memegang sebuah balok kayu berukuran besar .
"Pak Herman AWAAASS " Teriak bi Sumi pada satpam itu . tapi terlambat saat pak Herman menoleh , balok kayu itu mendarat di wajah nya .
Rekan pria itu langsung bergegas membuka kunci pagar dan menarik Alina yang tepat berhenti di depan bolanya .
Bi Sumi berlari sambil berteriak minta tolong .
Mereka langsung membawa Alina ke dalam mobil yang sudah menyala , dan langsung menjalankan nya dengan kecepatan maksimal .
Para penjaga yang di persiapkan Alingga langsung mengejar mereka , dengan mobil .
*
Hati Brama tiba tiba merasa gelisah , ia tidak sabar menunggu hari menjadi sore .
Ia benar benar cemas memikirkan mama nya , entah apa saja yang di perbuat Ronald pada mamanya . Ia bersumpah kalau akan menghajar Ronald sampai mati .
Alingga dan Rio sedang berdiskusi dengan kepala pengawal mereka dan juga kepala polisi setempat , mereka tetap harus membuat polisi turun tangan . Karena Ronald bisa saja melakukan hal yang nekat nanti . Karena Ronald sudah memperingati mereka untuk tidak membawa polisi , maka mereka harus bertindak hati-hati .
Beberapa orang pengawal nya ia tempat kan di depan pintu ruangan Ane , karena ia akan pergi nanti . Ia juga merasa cemas dengan keadaan Hana , ini semua karena kecerobohan nya .
Saat sedang berdiskusi , ponsel Alingga berbunyi .
Ia mengangkat panggilan masuk dari mamanya .
"Alina di culik !" Pekik bu Dewi histeris .
Ponsel Alingga jatuh ke lantai .
Bersamaan dengan setiap orang di ruangan yang sontak menoleh pada Alingga .
*
*
*
__ADS_1