
*
*
*
Setelah kepergian bu Dewi , Brama menghubungi seseorang di ponselnya .
"hm "gumam seseorang di seberang sana setelah mengangkat panggilan dari Brama .
"Alingga di dukung oleh Setya Group "Brama memberi info pada orang tersebut .
"Buat perselisihan mereka lebih intens , kau harus bisa mengambil saham yang ada di tangan Alingga . jika saham nya di satukan oleh saham putriku , kita bisa mengambil alih perusahaan . setelah itu lenyap kan wanita tua itu "
"lalu ?"
"kau bisa menikahi putriku , bukankah kau akan mendapatkan dua keuntungan sekaligus "
"baiklah " Brama menutup panggilan tersebut , setelah itu ia tersenyum mengejek .
"apakah kau pikir , putrimu itu berharga ? heh , dia tidak lebih dari pelacur Sean " gumam Brama pada dirinya sendiri , saat ini ia akan tetap mengikuti rencana orang itu . seandainya semua berjalan dengan lancar , maka ia akan mengambil alih permainan ini dan menikmati hasilnya .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sepertinya Ceo pilihan Mama mu sangat agresif " ujar Rio , saat ini mereka berdua tengah makan siang bersama .
"Ya .. aku melihatnya , kita tidak bisa seperti ini terus . mungkin kita perlu melakukan sedikit perlawanan " Alingga mengusulkan , ia pun merasa tidak enak jika Setya Group mendapatkan kesulitan karena perseteruan nya dengan mamanya . Maka jalan satu-satunya hanya melawan , jika sudah tidak bisa bertahan .
"apakah kamu yakin ?" Rio bertanya , Alingga mengangguk pasti .
*
Sudah lima bulan sejak pertemuan nya terakhir dengan bu Dewi , saat ini Ane lebih sering di rumah mengingat kandungan nya yang sudah memasuki trimester ketiga . Beruntungnya saat ini Alina pun sudah memasuki liburan sekolah , sehingga Ane tidak perlu keluar untuk mengantar jemput putrinya .
Alingga selama lima bulan terakhir pun cukup sibuk , karena persaingan bisnis dengan perusahaan nya sendiri semakin intens . Apalagi mamanya masih terus menekan Setya Group dan para relasinya .
Ponsel Ane berdering di atas meja , saat ini ia sedang merapikan kamar untuk menyambut kelahiran putranya .
"Hallo "sapa Ane
"Ane apakah kamu mau keluar ? aku sangat bosan di rumah , maukah kamu menemaniku belanja perlengkapan bayi ?" ajak Felicia , saat ini ia juga sedang mengandung enam bulan . Setelah menjalani pemeriksaan intensif akhirnya ia bisa mengikuti program hamil . Dan itu membuat Rio menjadi sangat overprotektif padanya .
"apakah kamu bisa keluar ?" tanya Ane ragu , pasalnya ia juga tau bagaimana Rio menjaga Felicia selama masa kehamilannya ini .
__ADS_1
"iya , aku sudah minta izin padanya dan ia menyetujuinya asalkan aku membawa seseorang untuk menjaga ku "Jelas Felicia
"Ah .. kita bisa mengajak Nana dan bi Sumi " Seru Felicia antusias , ia yakin jika pergi dengan banyak orang Rio tidak akan terlalu khawatir .
"baiklah , aku akan membujuk Lingga agar mengizinkan ku pergi " jawab Ane
"oke , aku akan menjemput mu sekarang "sahut Felicia . setelah itu telepon di tutup .
Ane langsung menghubungi Alingga .
"ya " Alingga menjawab panggilan Ane di sela rapat nya yang sedang berlangsung .
"sayang , aku akan pergi jalan-jalan sebentar bersama Felicia dan Alina . tenang saja , Felicia akan membawa seseorang untuk menjaga kami " jelas Ane , Alingga mau tidak mau menyetujui permintaan istrinya itu . karena ia tidak ingin berdebat dengan Ane saat sedang rapat dan banyak karyawan seperti ini .
Ane yang mendapat izin dari Alingga langsung memanggil bi Sumi dan Alina , menyuruh mereka untuk bersiap begitu juga dengan dirinya .
setengah jam kemudian Felicia sudah datang menjemput mereka , Alina sangat bersemangat untuk pergi . Ia lebih dulu berlari memasuki mobil .
Setelah diskusi singkat di dalam mobil , Ane dan Felicia memutuskan akan pergi ke mall saja . agar semua yang mereka cari ada di satu tempat .
Akhirnya mereka berempat pergi mengelilingi Mall , dengan di ikuti oleh seorang penjaga yang di tugaskan Rio .
Sudah berapa kali bi Sumi menasehati mereka agar tidak terlalu capek .
Sampai akhirnya ia bisa bernafas lega saat mereka sudah dalam perjalanan pulang ke rumah , setelah membeli begitu banyak barang .
"kamu mau kemana ?" tanya Felicia panik , melihat Ane yang tiba tiba keluar mobil dan pergi ke seberang jalan .
"Sebentar , itu mamanya Lingga "jawab Ane sambil menunjuk arah tujuan nya . lalu ia setengah berlari ke arah bu Dewi . Sepertinya bu Dewi sedang ada dalam masalah , ia seperti di paksa masuk ke dalam mobil . Ane mempercepat langkah nya .
Felicia langsung panik dan menyuruh supir juga penjaga itu untuk menyusul Ane , ia takut terjadi sesuatu .
"Hei .. apa yang kalian lakukan "Ane setengah berteriak saat sudah hampir di dekat mobil tersebut . Para pria itu terkejut dengan suara Ane , begitu juga bu Dewi .
"Ane , tolong mereka ingin menangkap saya " seru bu Dewi setengah ketakutan , karena salah satu pria itu meletakan pisau di perutnya untuk mengancamnya agar tidak bersuara .
Karena suara Ane yang cukup keras membuat beberapa orang di sekitar mengalihkan perhatian mereka , membuat para pria itu panik dan tanpa sengaja menggores tangan bu Dewi .
Ane yang panik langsung menghampiri mereka , karena merasa terhalangi para pria itu mendorong Ane agar menyingkir .
"Ahhh "Ane berteriak saat terjatuh ke jalan , lalu tiba-tiba .
BRAKK
__ADS_1
Tubuh Ane terpental sampai ke pinggir trotoar , kejadian itu terjadi dengan cepat . Saat Ane sedang berusaha berdiri lalu mobil pria itu menabrak nya dan menancap gas sekencang nya untuk melarikan diri sebelum di amuk masa .
Orang-orang di sekitar berlari menghampiri Ane , ada beberapa yang melempar mobil yang sudah menjauh itu dengan batu.
Bu Dewi terkejut melihat Ane yang sudah bersimbah darah , supir Felicia sudah sampai di sana dan mendorong orang yang mengerubungi Ane .
Felicia dan bi Sumi langsung pucat melihat kejadian itu sedangkan Alina sudah berteriak histeris ingin menghampiri mamanya , untung saja bi Sumi menahan nya . mengingat mereka sedang berada di jalan raya .
Saat lampu sudah hijau Felicia langsung mengambil alih kemudi dan membelokan mobilnya ke tempat Ane .
"Panggil ambulans cepat "seru bu Dewi panik , ia terlihat cemas apalagi Ane sedang hamil besar .
Belum sempat supir itu menelpon ambulans , mobil Felicia sudah berhenti di samping mereka .
"Ane "Felicia keluar mobil dan berteriak histeris , melihat Ane sudah bersimbah darah dari kepalanya , seketika ia langsung terjatuh pingsan .
Untung saja si supir dengan cepat menahan nya , tidak sampai jatuh ke bawah .
Kepanikan bertambah karena Felicia yang pingsan dan Alina yang berteriak histeris memeluk mamanya yang sudah tidak sadarkan diri .
Akhirnya setelah di telepon orang yang ada di sana , ambulans akhirnya datang .
Dua ambulans itu membawa Felicia dan Ane , menuju rumah sakit .
Bi Sumi sudah berapa kali menghubungi Alingga tapi tidak juga di angkat , mereka sudah di mobil menyusul ambulans . dengan bu Dewi yang turut serta .
"coba hubungi pak Rio bi "usul si supir
Tut ..
"halo " sapa Rio
"den , neng Ane sama non Felicia di bawa ke rumah sakit . neng Ane kecelakaan " bi Sumi berkata dengan panik .
Rio tidak menjawab perkataan bi Sumi , ia bergegas ke ruang rapat mencari Alingga yang sedang bertemu client setelah rapat tadi .
BRAKK
Pintu terbuka dengan keras , membuat setiap orang mengalihkan pandangan .
"Ane kecelakaan "Rio berkata dengan nafas tersengal . Wajah Alingga berubah pucat , ia langsung berlari keluar menuju mobilnya di susul oleh Rio .
*
__ADS_1
*
*