
*
*
*
Brama mengendarai mobilnya dengan pelan , setelah berpisah dengan pak Ronald di cafe tadi malam . Ia langsung menuju rumah ibu nya , untuk memastikan info yang di berikan oleh pak Ronald .
"Dari mana kamu tau ini semua ?" itu lah yang di tanyakan ibunya saat ia memberi tau perihal ayah kandung nya .
"mama hanya cukup menjawab , benar atau tidak !" tegas Brama
"Rama , memang benar dia adalah ayah mu . tapi mama mohon .. tidak usah mengungkit keluarga mereka , bukankah kita baik baik saja tanpa mereka !" pinta Hana , ibunya Brama .
"mengapa mama tidak ingin mereka tau , bukankah ini tidak adil "
"hubungan kami adalah kesalahan , dia sudah cukup bertanggung jawab secara finansial " tegas Hana .
"itu tidak cukup ! semua uang yang dia berikan tidak akan cukup menghapus dosanya padaku !"
"jika bukan uang darinya , kamu pikir mama sanggup menyekolahkan kamu sampai kamu sukses seperti ini "
"itu belum seberapa di banding semua yang telah aku lalui , setiap hari mendapat ejekan di sekolah karena tidak mempunyai ayah . mama yang selalu di hina oleh orang karena tidak mempunyai suami , apa semua uang yang di berikan nya bisa merubah pandangan orang " sentak Brama .
"Maaf .. " Lirih Hana .
"aku tetap akan memberitahu mereka , dengan bantuan pak Ronald !" tegas Brama
"jangan berhubungan dengan orang itu ! mama mohon , menjauh lah dari pak Ronald !"
"kenapa ?" tanya Brama heran , melihat ekspresi mamanya yang sangat cemas .
"dia jahat , licik ! mama tidak mau kamu di peralat olehnya "
"sudah terlambat , aku sudah bekerja sama dengan nya " ujar Brama , setelah itu ia pergi dari rumah mamanya .
Tin Tin
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan nya , ia menjalankan mobilnya lagi karena lampu sudah berubah menjadi hijau .
Ia teringat percakapan dengan mamanya tadi malam , sampai ia tidak fokus .
Kenapa mamanya melarangnya mengusik keluarga Erlangga ?
__ADS_1
Kenapa mamanya bertahan selama ini , demi kebahagiaan rumah tangga seorang bajingan .
Brama memarkirkan mobilnya , ia berjalan menuju ruangan nya . saat ini ia masih bekerja di perusahaan Erlangga , atau lebih tepatnya papanya . apakah ia bisa mendapatkan status dan hak yang sama seperti Alingga ?
*
Seminggu telah berlalu , setiap malam Alingga selalu tidur di rumah sakit untuk menjaga Ane . Siangnya , bi Sumi dan mamanya bergantian menjaga Ane . Alingga juga mempekerjakan seorang baby sitter untuk putranya , kemarin putranya itu sudah bisa di bawa pulang .
Nadean Pramudya , itulah nama bayi lelakinya . 'Nadean' yang dalam bahasa Perancis berarti harapan , ia sungguh berharap putra mereka dapat membawa harapan nya saat ini terkabulkan .
"Sayang .. apakah kamu tidak ingin melihat putra kita " ujar Alingga sambil mengelus punggung tangan Ane .
Tidak ada jawaban .
"Sayang .. aku merindukan mu .. kamu tau , mama sudah merestui kita . bahkan ia sendiri ikut menjaga kamu , ia juga sekarang tinggal di rumah kita . membantu ku merawat Nana dan Dean , makanya .. kamu bangun ya , biar anak kita tidak di rebut sama Oma nya "
Masih hening .. hanya suara monitor detak jantung yang mengisi ruangan .
"Kalau kamu bangun , aku janji .. aku tidak akan pernah pulang telat lagi .. "
*
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini Alingga resmi kembali lagi ke perusahaan nya sendiri , ia pergi ke perusahaan bersama mamanya . setelah menitipkan Nana dan Dean pada mamanya Rio , karena bi Sumi akan menjaga Ane pagi ini di rumah sakit . Ia tidak akan pernah meninggalkan anak-anak nya hanya dengan ART dan baby sitter , itu sebabnya ia meminta tolong bu Retno mengawasi sebentar sementara ia dan mamanya mengurus masalah perusahaan hari ini .
"Apakah mama cukup akrab dengan nya ?" tanya Alingga .
"tidak juga , selama ini setiap pertemuan kami hanya seputar pekerjaan " jawab bu Dewi .
"aku hanya merasa tidak asing dengan wajahnya " ujar Alingga .
pembicaraan mereka terhenti , karena ponsel bu Dewi berbunyi . Ia mengangkat panggilan tersebut , berbicara sebentar dengan si penelpon lalu tidak lama panggilan pun berakhir .
"Mau apa lagi dia ?" tanya Alingga , menanyakan maksud dari seseorang yang menghubungi mamanya barusan .
Bu Dewi mengedikan bahunya , "ada hal yang sangat penting katanya , ia mengajak mama bertemu di luar . tapi mama bilang , di kantor saja karena mama sibuk hari ini " jelas mamanya .
Tidak lama mobil mereka sampai di kantor , mereka berjalan menuju lift untuk ke tempat tujuan mereka .
"Selamat datang kembali pak Alingga " sapa Sarah di depan mejanya .
Alingga mengangguk dan berterima kasih pada Sarah .
__ADS_1
"Apakah Brama ada di dalam ?" tanya bu Dewi
"iya bu , pak Brama sudah di dalam " jawab Sarah
Setelah itu mereka masuk ke dalam ruangan , Brama berdiri dari kursinya menyambut kedatangan bu Dewi dan Alingga . Hatinya bergetar sedikit saat bersalaman dengan Alingga .
Mereka bertiga fokus membicarakan masalah pekerjaan dan kondisi perusahaan saat ini , beberapa hal yang berubah sejak kepergian Alingga , semua di perbaiki .
"Di mana keluarga mu Brama ?" tanya Alingga , saat mereka sedang rehat sejenak .
"Ibu saya di rumah , ia membuka toko bunga untuk mengisi waktu luang . sedangkan ayah saya tidak punya " jawab Brama .
"kemana ayah kamu memangnya ?" tanya bu Dewi
"saya tidak tau , sejak kecil saya tidak pernah bertemu dengan nya " jelas Brama
Percakapan mereka berhenti karena ketukan di pintu , tidak lama Sarah masuk dan memberitahu kalau pak Ronald sudah datang .
"Oh .. biarkan dia masuk , maaf Brama saat ini kami akan membicarakan sesuatu dengan pak Ronald " kata bu Dewi sambil menoleh ke Brama .
"Oh baiklah bu , saya undur diri dulu . saya akan kembali ke ruangan saya "pamit Brama .
Saat ia berjalan menuju pintu , tiba-tiba saja pak Ronald masuk . Dengan ekspresi seolah terkejut dengan pertemuan nya dengan Brama .
Sedetik kemudian ia langsung mengabaikan Brama dan menghampiri bu Dewi dan Alingga .
Setelah basa basi singkat , pak Ronald berpura menanyakan tentang Brama pada bu Dewi . ia memainkan akting nya dengan baik . lalu ia mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya dan meletakkan nya di meja .
"Maafkan saya karena sudah menyembunyikan hal ini terlalu lama , tapi saya belum lega jika tidak menyampaikan pesan ini pada kalian " kata pak Ronald , sambil mendorong map tersebut ke arah bu Dewi .
Dengan ragu ia membuka map yang di serahkan oleh Pak Ronald .
Seperti yang di harapkan pak Ronald , ekspresi bu Dewi kali ini sungguh luar biasa terkejut . Alingga mengambil alih map tersebut dan membacanya , ia juga tak kalah terkejut . Di dalam map tersebut terdapat keterangan tes DNA , bukti bukti pengiriman uang dan juga secarik kertas tulisan tangan papanya . yang sudah di sahkan oleh pengacara .
Dengan wajah yang penuh dengan rasa bersalah pak Ronald menjelaskan .
"kamu masih ingat dengan Hana ?"tanya pak Ronald .
Bu Dewi mengerutkan kening , mencoba mengingat siapa Hana .
"Sekertaris Erlangga dulu .. " gumam bu Dewi
*
__ADS_1
*
*