
*
*
*
Perlahan tapi pasti selama setengah tahun ini Alina di bimbing oleh tiga orang Ceo hebat , papanya , om Rio dan juga om Brama . Bisa di pastikan kalau Alina benar akan mengambil alih semua urusan perusahaan dan membiarkan papanya pensiun dini .
"Kamu yakin nggak apa ?" tanya Ane saat mendengar kalau perusahaan akan di ambil alih oleh putrinya .
"iya ma .. lebih baik kalian habiskan waktu bersama lebih banyak , kalau nunggu Dean lulus sekolah mama sama papa kapan bisa liburan " jawab Alina lugas .
"Ini sudah menjadi tanggung jawab kami , tapi kamu harus ingat ! papa tidak pernah menekan kamu untuk bekerja terlalu keras !" kata Alingga .
"Papa tenang aja , papa hanya perlu fokus membahagiakan mama mulai saat ini " balas Alina .
"mama tau dalam hati kamu sangat menyayangi kami " Ane berkata sambil memeluk putrinya itu .
"tapi apa perlu pindah ke apartemen ?" Alingga bertanya .
Ane yang tidak tau soal kepindahan Alina , sangat terkejut mendengar nya .
"Nana ingin mandiri pa .. " Alina beralasan .
"Selama ini kamu sudah mandiri sayang .. "
"papa sama mama jangan khawatir Nana bisa jaga diri baik baik "
"Mama nggak setuju !" kata Ane dengan tegas .
"Dean juga boleh ikut tinggal sama aku , lagian sekolah Dean juga lebih dekat dari sana " bujuk Alina .
"Terus mama harus sendirian di rumah "
"kan ada papa .. ma " kata Alingga .
"kalau mereka kenapa napa gimana ?"
"Ma .. kita masih di kota yang sama , aku akan pulang setiap minggu .. oke "
"Kamu harus ajak adik kamu , biar dia bisa ngingetin kamu agar tidak terlalu capek bekerja dan lupa makan juga istirahat "
Alina mengangguk dengan permintaan mamanya , bagaimana pun ia ingin kedua orang tua nya memiliki waktu eksklusif berdua .
itu sebab nya ia memutuskan untuk tinggal di apartemen , dan lebih bagus lagi kalau adiknya bisa ikut pindah dengan nya .
*
Jadi hari minggu ini Alina dan Dean resmi pindah ke apartemen , Fabian membantu mereka pindahan . Alingga dan Ane tidak berhenti memberikan nasehat untuk keduanya .
Besok , Alingga dan Ane akan memulai liburan panjang mereka . Dan menyerahkan segala urusan pada Alina .
"Minum kak .. " Fabian membawakan sebotol air mineral pada Alina yang terlihat sibuk menyusun barang di kamar nya .
Tanpa di persilahkan Fabian memasuki kamar Alina dan duduk di pinggir ranjang nya .
__ADS_1
"Kamu sudah boleh pergi .." Kata Alina datar .
"Aku nunggu jawaban kak .. " balas Fabian santai , nyatanya dalam hatinya sangat berdebar karena berada dalam satu kamar dengan pujaan hatinya .
"jawaban ?" Alina bertanya heran .
"Iya .. kakak belum jawab pernyataan cinta aku malam itu "
"Hah ? kamu serius ?" tanya Alina lagi .
"Aku sangat serius kak , aku suka sama kakak dari dulu " jawab Fabian yakin .
"Kamu masih kecil , belajar sana yang rajin " Alina mengacuhkan Fabian , ia melanjutkan pekerjaan nya lagi yang tadi sempat terhenti . Karena tidak hati-hati saat mengangkat sebuah koper untuk di letakkan ke atas lemari , ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang .
Alina terkejut , ia terjatuh di atas karpet dan menutup wajah nya dengan kedua lengan nya agar tidak tertimpa koper yang jatuh .
Bruk
Rasa sakit yang di tunggu Alina tidak datang , perlahan ia membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi .
Di hadapan nya ia bisa melihat wajah Fabian sangat dekat , bahkan hembusan nafas Fabian terasa hangat menyapu wajah nya .
Ternyata Fabian menghalangi koper yang akan jatuh , dengan tubuh nya sendiri . berada di atas tubuh Alina .
Selama persekian detik mereka hanya saling menatap , bisa Alina rasakan jantung nya pun berdebar hebat . Untuk pertama kali nya ia berada sangat dekat dengan seorang cowok , apalagi posisi mereka saat ini sangat intim .
Fabian mendekatkan wajah nya ke arah Alina , ia mulai menyapu sudut bibir Alina dengan bibir nya . Sampai kecupan itu berubah menjadi ******* kecil .
Alina merasa otak nya blank , tapi kesadaran nya dengan cepat kembali . Ia langsung mendorong tubuh Fabian dari atas tubuh nya . Sampai punggung Fabian terbentur ke pintu lemari .
"Maaf .. " kata Alina sambil membuang muka , ia yakin saat ini wajah nya pasti sudah merah merona karena ciuman singkat tadi .
"Punggung ku sakit kak .. "
"Biar ku lihat " Tanpa merasa malu Alina mengangkat kaus yang di pakai Fabian ke atas dan melihat punggung nya .
"Ada memar di sini .. biar aku obati "Alina baru teringat kalau Fabian tadi menahan koper yang ingin jatuh menimpanya dengan punggung Fabian . Dan tadi ia terlalu kuat mendorong Fabian hingga punggung nya terbentur pintu lemari .
Ia bangkit menuju meja rias nya dan membuka laci , mencari salep yang biasa ia pakai untuk meredakan nyeri . Lalu kembali lagi ke Fabian yang masih duduk di atas karpet .
"Salep itu nggak mempan kak " kata Fabian .
"Kamu biasanya pakai merk apa ? " tanya Alina
Fabian menggelengkan kepalanya .
"Kakak hanya perlu mencium nya , maka sakit nya akan hilang " Goda Fabian .
Blush
Wajah Alina kembali memerah , terlintas bayangan saat Fabian mencium nya tadi . Dan sekarang ia baru memperhatikan punggung tegap Fabian , ini bukan pertama kali ia melihat tubuh bagian atas cowok . Tapi harus ia akui kalau tubuh Fabian cukup bagus untuk remaja seusianya .
"Kak ?" Fabian tidak mendapat respon apa pun dari Alina . Ia berbalik ke belakang dan melihat Alina dengan wajah yang memerah , ia tersenyum .
"Kakak jangan malu , aku udah bukan anak kecil lagi . Kakak mau ya jadi pacar ku " Fabian mencoba usaha nya lagi .
__ADS_1
Alina tersadar , ia langsung membalikan tubuh Fabian dan mengoleskan salep ke punggung Fabian yang memar .
"Kak .. "
"Hmm "
"Jawab dong "
"Aku nggak suka sama kamu "
Jlebb
Jawaban Alina menusuk hatinya , tapi segera ia menepis perasaan itu dan menebalkan wajah nya untuk merayu Alina lagi .
"Kakak nggak suka aku dari apa , kakak kan belum tau aku kaya gimana "
"Kamu juga , kita bahkan bertemu hanya setahun sekali dulu . dari mana kamu bisa suka sama aku "
"Mungkin kakak nggak tau , kalau aku sering perhatiin kakak dulu . aku suka sama semua yang ada sama kakak . Senyum kakak , sikap dingin kakak , dan wajah cantik kakak semua itu bikin hati aku berdebar debar "
Alina mengerutkan dahi mendengar alasan Fabian , apa anak ini mempunyai kelainan . kenapa ia bisa suka dengan perempuan yang usia nya jauh di atas nya .
"Mending kamu cari perempuan yang seusia dengan mu "
"Aku nggak bisa kak , di hati dan pikiran ku selalu hanya ada kamu "
Apa apaan ! Kenapa remaja seusianya sudah pintar menggoda . Ia mengatakan rayuan itu dengan wajah polosnya , membuat Alina merasa salah tingkah di rayu dengan tatapan seperti itu .
Fabian mendekatkan wajah nya ke arah Alina , ia berbisik di depan wajah Alina dengan sangat dekat sampai membuat wajah Alina memanas .
"Jadi kekasih aku ya kak .. please .. dalam hidup ini aku hanya menginginkan kamu Alina ... "
Alina di buat tidak bisa berkutik dengan kelakuan Fabian , tiba tiba ...
"Bian ... lo di mana ... berat banget weehh bantuin gue dong " teriak Dean dari arah luar .
Alina merasa terselamatkan dengan teriakan adiknya itu , ia langsung bangkit dan membuka pintu kamar nya .
Dean langsung menghampiri kakak nya itu , dan melihat kalau Fabian ada di kamar kakaknya dengan baju yang sudah setengah terbuka .
Ia memasang ekspresi terkejut yang berlebihan .
"Kalian ... kalian abis ngapain .. "
Alina menjewer telinga adiknya itu ,
"Dia abis bantuin kakak naikin koper , terus nggak sengaja jatuh . kakak cuma bantuin dia oleskan obat di punggung nya . " terang Alina .
"Hah ??? aku jadi tambah curiga karena kakak mau jelasin panjang lebar gitu ... "
Setelah mengatakan itu ia berlari menjauh dari kakaknya , karena ia yakin kakaknya akan menganiaya nya .
*
*
__ADS_1
*