
*
*
*
Besoknya saat Alingga ke kantor di ruangan nya sudah ada mama nya dan beberapa orang , salah satunya pengacara keluarga mereka .
"mulai hari ini kamu sudah bukan Ceo di sini , serahkan semua ATM dan mobil sama mama !" bu Dewi berkata dengan tegas .
Alingga tidak berkata apa apa , ia mengeluarkan dompet dan kunci mobil melemparnya ke atas meja . setelah itu menanda tangani surat pengalihan lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka .
Bu Dewi terkejut melihat Alingga menyerahkan begitu saja semua , ada perasaan menyesal di hatinya . tapi ia ingin melihat sampai mana Alingga bisa bertahan tanpa harta keluarga . mungkin sebulan lagi ia akan kembali padanya dan meninggalkan perempuan itu . pikir bu Dewi .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alingga pergi dengan taxi menuju apartemen nya , mengemasi semua barang miliknya dan pergi ke rumah Ane . Saat sampai di depan rumah Ane , ia melihat bi Sumi yang sedang mengeluarkan motor .
"lho den Alingga tumben sudah datang " bi Sumi menyapa Alingga , ia sedikit heran saat melihat Alingga datang membawa sebuah koper .
"mau kemana bi ?" tanya Alingga
"mau jemput Nana den "
"biar saya saja bi " Alingga mengambil alih motor dari bi Sumi , setelah meletakkan kopernya ke dalam rumah .
"bibi jangan bilang sama Ane ya kalau saya datang , biar saya bilang sendiri . oh ya setelah jemput Nana sekolah kami akan ke kantor Ane untuk makan siang bersama , bibi makan sendiri dulu ya " jelas Alingga , bi Sumi mengiyakan .
Setelah itu Alingga mengendarai motor ke sekolah Alina . bertepatan saat Alingga sampai , sekolah baru saja bubar .
"Papa .. " seru Alina dari jauh saat melihat papanya duduk di atas jok motor , Alingga melambaikan tangan nya .
"kok papa yang jemput , mobil papa mana ?" tanya Alina .
"mobil papa rusak , Alina mau enggak sama papa kalau papa naik motor ?" Alingga bertanya , sebenarnya ia takut mengecewakan Alina jika sudah tidak punya apa apa lagi .
"ya mau lah pa " jawab Alina
"kita ke kantor mama yuk , makan siang bareng mama gimana " ajak Alingga , Alina mengangguk semangat .
meskipun cuaca sedikit panas , tapi Alina terlihat tidak mengeluh . Alingga hanya kasihan melihat Alina yang kena panas karena mereka naik motor .
__ADS_1
sampai di depan kantor Ane , Alingga mengatakan kalau ia sudah di depan kantor Ane bersama Alina .
Ane bergegas keluar kantor , sedikit heran karena tidak melihat mobil Alingga di depan kantornya .
"Mama .. sini " Alina yang sedang duduk di atas jok motor di bawah pohon memanggil Ane .
"kalian naik motor ?" tanya Ane saat sampai di depan mereka .
"iya , nanti aku jelasin . sekarang kamu mau makan apa Nana juga sudah lapar katanya "
"tempat makan yang paling dekat sini saja ya " kata Ane , setelah itu mereka bertiga naik ke atas motor dan pergi ke restoran kecil dekat kantor Ane .
*
"kamu kenapa ?" tanya Ane saat mereka makan siang , Ane bertanya dengan suara pelan . sedangkan Alina sibuk dengan makanan nya .
"mama mengambil semua nya " jawab Alingga
"Lingga .. kamu boleh kok ninggalin aku , aku tidak akan melarang kamu bertemu sama Nana "
"aku tidak akan meninggalkan kamu sayang , kamu masih mau sama aku walau aku sudah miskin ?" tanya Alingga , Ane tertawa mendengar pertanyaan Alingga .
"aku bisa bertahan kok asal kamu enggak ninggalin aku , akhir minggu ini kita nikah ya " Alingga berkata dan mengeluarkan sebuah kotak beludru yang isinya sudah pasti bisa di tebak .
Ane tersenyum dan mengulurkan tangan nya , biarpun lamaran ini tidak romantis tapi tetap saja ia terharu . bahkan sudut mata nya akan mengeluarkan air mata . Alingga mengelap air mata Ane yang hampir jatuh , setelah itu ia memasangkan cincin di jari manis Ane .
"Nana juga mau cincin kaya mama "Alina berkata
"besok kita beli ya , Nana bebas pilih apa saja " balas Alingga . setelah itu mereka melanjutkan makan siang mereka dan mengantar kan Ane kembali ke kantor , sebelum pamit pulang Alingga mengatakan sesuatu pada Ane .
"sayang .. aku juga sudah bawa semua barang aku ke rumah kamu , mulai hari ini aku menggantungkan hidupku sama kamu " kata Alingga setengah bercanda , Ane mencubit lengan Alingga dan membalas "kamu tidur di sofa , di rumah ada bi Sumi . enggak mungkin kita tidur sekamar "
"lho , kita kan mau nikah " protes Alingga
"kan baru mau nikah , tapi belum " ejek Ane , seraya berlalu pergi meninggalkan Alingga dan masuk ke dalam kantor nya .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya Alingga sudah berada di depan kantor Ane lagi , menjemput Ane .
"kamu enggak capek , bolak balik antar jemput aku Lingga " Ane bertanya saat sudah duduk di atas motor .
__ADS_1
"enggak , peluk aku yang kuat ya sayang malam ini dingin " goda Alingga , Ane mendorong pelan bahu Alingga dari belakang .
"anggap saja kita kayak dulu , waktu masih SMA aku anter jemput kamu ke sekolah " katanya lagi
Ane memeluk pinggang Alingga erat , mengingat saat mereka masih berpacaran dulu waktu masih sekolah . Setelah resmi berpacaran Alingga berhenti mengikutinya naik bus setiap pulang sekolah , berganti dengan mengantar Ane dengan motornya . manisnya masa dulu untuk remaja seperti mereka yang baru mengenal cinta , saat ini pun masih terasa manis karena perasaan itu masih ada sampai sekarang .
Berbeda dengan Ane , Alingga saat ini memikirkan pekerjaan nya . Semua kenalan dan koneksi nya telah ia hubungi berharap salah satu dari mereka bisa membantunya mendapat pekerjaan , tapi sepertinya mamanya itu sudah lebih dulu mengambil tindakan . terbukti tidak ada satupun dari mereka yang bisa menolong Alingga saat ini .
Sebelum pulang ke rumah , mereka menyempatkan diri makan malam di luar .
"minggu ini kita menikah , aku sudah mempersiapkan semua nya . tapi apa kamu mau pernikahan kita tanpa resepsi " kata Alingga
"kamu yakin akan tetap melawan mama kamu ?" Ane bertanya memastikan , Alingga mengangguk pasti .
"besok kita pindah ke rumah ku ya , biar kamu tidak perlu membayar kontrakan lagi . lagipula acara pernikahan kita di adakan di sana , kamu tenang saja ya aku akan mencari pekerjaan agar kamu tidak perlu bekerja lagi " jelas Alingga
"rumah kamu terlalu jauh dari sekolah Nana dan kantor ku , kamu sudah ada rencana mau kerja di mana ?" tanya Ane
"tapi rumah itu terlalu kecil Ane , aku belum mendapat pekerjaan sepertinya mama ku sudah menekan semua koneksi nya agar aku tidak mudah mendapat pekerjaan "
"Lingga .. aku tidak akan menanyakan lagi kepastian kamu , tapi aku punya saran tapi kamu janji jangan marah ya "
"apa ?"
"kamu bisa melamar pekerjaan di tempat Rio " cicit Ane "karena kerja sama kamu dan Rio sudah berakhir , pastinya mama kamu enggak akan menekan perusahaan Rio sekalipun menekan aku yakin Rio tidak akan menuruti nya "sambung nya lagi
"oh .. kamu sangat mengenalnya ya " sinis Alingga
"Maaf .. kalau begitu lupakan perkataan ku tadi " Ane berkata dengan menyesal , ia mengerti kalau Alingga saat ini pasti merasa rendah diri .
"tapi apapun keputusan kamu nanti aku akan selalu mendukung kamu oke " kata Ane menyemangati
"aku akan memikirkan nya , banyak waktu untuk berbicara dengan nya nanti . bukan kah kamu mengundang keluarga mereka untuk menjadi saksi di pernikahan kita , sekarang kamu tenang saja fokus sama pernikahan kita . tabungan ku pun masih cukup bahkan jika kamu ingin pergi bulan madu ke luar negeri " Alingga menjelaskan dan mengecup punggung tangan Ane .
"bulan madu apa .. " Ane tersipu malu .
*
*
*
__ADS_1