
*
*
*
Alingga menuntun Alina keluar dari pemakaman , di belakang nya Brama berjalan dengan lesu . Sesekali ia menoleh ke belakang , melihat makam yang baru saja ia tinggalkan . Sekarang ia benar-benar tidak punya siapapun lagi , menyesal pun sudah terlambat . jika saja ia tidak di buta kan oleh dendam dan keserakahan , mungkin sampai saat ini mamanya masih bersama nya .
Alingga menghentikan langkah nya di gerbang pemakaman , ia menoleh ke belakang untuk melihat Brama .
"Apakah kau ingin pulang ke rumah ku ?" tanya Alingga
"Tidak perlu , terima kasih "jawab Brama
"Hei .. kau tidak sendiri , kau masih punya aku kakak mu "Hibur Alingga
"Aku tau perkataan ini sudah terlambat , tapi aku sungguh menganggap mu sebagai adik ku " sambung nya lagi .
Brama menatap Alingga , ia sungguh tidak bisa berkata apapun . Seketika Brama memeluk Alingga , ia menumpahkan air mata nya di bahu Alingga . Alingga menepuk-nepuk punggung Brama dengan pelan .
"Sudah .. kita akan baik-baik saja jika bersama " kata Alingga , ia merasakan perasaan lain di hati nya saat merasakan pelukan dari Brama .
Brama melepaskan pelukan nya dan berkata dengan canggung "aku pulang dulu " tanpa menunggu Alingga menjawab nya , ia langsung pergi menuju mobil nya .
Alingga menggelengkan kepalanya , setelah itu ia mengajak Alina untuk pulang .
Di dalam mobil terasa hening , Alina hanya menatap ke arah jalan . Sesekali Alingga memperhatikan putrinya itu , ia merasa sakit karena keceriaan Alina kini sudah hilang .
"Apakah mama akan seperti Oma Hana ?" tanya Alina tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan nya dari jalan .
Alingga menepikan mobilnya ke tepi jalan .
"Nana .. " panggil Alingga , Alina mengalihkan pandangan nya pada papanya .
"Setiap orang pada saat nya pasti akan meninggal , kita hanya tidak tau kapan dan bagaimana cara kita meninggalkan dunia ini " terang Alingga .
"Tapi .. kata mereka mama sebenarnya sudah tidak ada lagi .. papa hanya memaksakan mama untuk bertahan "
"Selama jantung mama masih berdetak ... papa akan terus berusaha dan berharap .. "
__ADS_1
"Apakah mama kesakitan ?"
"mama pasti akan baik-baik saja .. papa yakin itu .. ia sudah berjanji tidak akan meninggalkan papa .. " Alingga menjawab dengan pasti .
Alina tidak mengatakan apa apa lagi , meskipun papanya sangat yakin . tapi ia bisa melihat kesedihan dalam matanya .
Alingga menjalankan kembali mobilnya . Ia berusaha menutupi kesedihan dalam hatinya .
*
"Apa yang sakit ?" Felicia bertanya pada suaminya saat ia melihat suaminya itu mengerutkan dahi .
Ia bersyukur karena Rio baik-baik saja . Untung saja peluru itu tidak terkena organ vital nya , jika terjadi sesuatu pada Rio ia sungguh tidak tahu bagaimana hidupnya nanti .
"Aku tidak apa .. " jawab Rio
"Mama akan datang membawa Bian nanti .. " kata Felicia .
"oh ya .. aku rindu padanya "
"iya setelah pemakaman tante Hana nanti ia akan datang "
"Sayang .. " panggil Felicia , melihat suaminya itu termenung ia berusaha menghibur nya . Meskipun mereka tidak kenal siapa Hana tapi kejadian yang menimpa Hana sangat tragis .
"Bagaimana keadaan Nana ?" Rio mengalihkan pembicaraan .
"Luka nya tidak serius , hanya saja .. keadaan psikologis nya tidak baik , dokter yang menangani nya mengatakan kalau perubahan sifat Nana sekarang adalah bentuk pertahanan dirinya dari rasa trauma " jelas Felicia
"Kasihan Nana .. ia pasti merasa sangat ketakutan saat itu " kata Rio iba .
"Iya .. Nana sudah tidak riang lagi seperti dulu , ia sangat dingin dan acuh tak acuh "
"Semoga ia bisa kembali seperti semula "Rio berharap .
*
Sudah tiga bulan berlalu sejak kejadian penculikan itu , Alingga sudah membawa putrinya untuk konsultasi rutin dengan psikolog terbaik . Tapi Alina belum ada perubahan , ia menjadi lebih pendiam . Ia bahkan tidak acuh pada adiknya , tetapi ia masih tetap peduli pada adiknya itu karena Nana pernah menolong Dean yang hampir terjatuh di tangga . Meskipun ia berubah menjadi lebih dingin , tapi rasa kepedulian nya tidak hilang .
Menurut dokter itu baik-baik saja , Alina akan kembali seperti semula seiring berjalan nya waktu .
__ADS_1
Saat di bawa ke tempat Ane pun ia tidak banyak bicara , dan yang paling Alingga cemaskan ialah putrinya tidak pernah menangis sejak kejadian itu .
Ia mengutuk Ronald yang telah membuat putrinya yang periang itu berubah , sebelum di jebloskan ke penjara ia dan Brama sempat menyiksa Ronald . Sedangkan Dara hidup nya saat ini sudah tidak jelas , karena kekayaan Ronald banyak yang di sita . Karena kasus penggelapan dana nya di perusahaan , membuat istrinya pergi dari rumah meninggalkan Dara begitu saja .
Ia juga memberi tekanan pada Sean , kekasih gelap Dara agar tidak membantu Dara sedikit pun . kalau tidak ia akan membeberkan perselingkuhan nya dengan Dara ke istrinya dan media .
Ronald di berikan hukuman seumur hidup karena perbuatan nya , membuat ia terkena pasal berlapis .
Alingga cukup puas dengan keputusan tersebut , tentu saja ia juga mengirimkan beberapa hadiah untuk Ronald yang berada di dalam penjara . Heh .. semoga ia menikmati nya .
Mama nya sudah mulai merubah sikap nya pada Brama , bagaimana pun perbuatan papanya dulu bukan atas kehendak nya sendiri . Ia juga memasukan Brama ke dalam kartu keluarga mereka . Saat ini Brama memimpin anak perusahaan Erlangga , yang Alingga berikan untuk nya .
Sesekali ia juga datang ke rumah Alingga untuk sekedar makan malam , atau acara keluarga .
*
Saat ini Alingga berada di rumah sakit , menjaga Ane . Ia masih setia menceritakan setiap hal yang terjadi setiap harinya di keluarga mereka . Ia selalu menggenggam tangan Ane , meskipun kondisi Ane belum ada kemajuan sejak terakhir kali putrinya melihat air mata di sudut mata mama nya itu .
"Ane .. kamu harus bangun secepat nya , Nana tidak pernah main lagi bersama Dean .. meskipun ia tetap menjaga adiknya saat sedang bermain , tapi aku tidak pernah melihat senyum dan tangis nya lagi .. " kata Alingga .
Alingga masih berbicara di samping istrinya itu , sesekali ia mencium tangan Ane untuk meluapkan kesedihan nya .
Tapi malam ini mukjizat itu terjadi , Alingga merasakan jari telunjuk Ane bergerak dengan lemah . Ia langsung beranjak dari duduk nya untuk memanggil dokter lewat Nurse call .
Tidak lama seorang dokter dan perawat masuk ke ruangan Ane .
"Ia menggerakkan jarinya dok "Seru Alingga saat melihat dokter masuk .
"kita periksa dulu ya , bapak bisa menunggu di samping dengan tenang " kata dokter itu .
Alingga mengangguk antusias . Ia sungguh berharap kalau keadaan Ane bisa ada kemajuan .
Ia terus berdoa dalam hati saat melihat dokter dan perawat menjalani beberapa pemeriksaan di tubuh Ane .
*
*
*
__ADS_1