
*
*
*
"Apakah dia tau , atau ini adalah rencana nya untuk masuk ke perusahaan " Alingga mengeluarkan dugaan nya terhadap Brama .
"Setau ku , sampai saat ini ia belum mengetahui Erlangga adalah ayah nya " sahut pak Ronald
"Lalu kenapa ia bisa muncul di sini " tukas Alingga
"kalau soal itu lebih baik kita bertanya pada mama mu " balas pak Ronald .
Seketika mereka berdua mengalihkan pandangan pada bu Dewi yang sejak tadi hanya diam saja .
Bu Dewi menggelengkan kepalanya .
"Dari sekian banyak kandidat , mama memilih dia karena prestasi dan kinerja nya di perusahaan sebelum nya " jelas bu Dewi .
"aku tidak percaya dengan kebetulan seperti itu " Alingga berkata dengan sarkas .
"Saat ini yang paling penting adalah , apakah kalian akan membuka status nya sebagai anak Erlangga atau tidak ?" tanya pak Ronald
"Ya "
"Tidak "
Alingga dan bu Dewi menjawab bersamaan .
"Ma .. apakah mama tidak membaca pesan papa di surat itu ! kalau kita harus memberikan hak nya sebagai anak papa juga !" tegas Alingga
"Mama tidak peduli , ini salah mereka .. ini salah papa mu ! dia telah ... mengkhianati mama selama ini !" pekik bu Dewi , melihat emosi mamanya Alingga langsung memeluk mamanya memberikan ketenangan . Ia mengerti perasaan mama nya saat ini , bagaimana pun sangat sulit membayangkan seorang suami yang selama ini ia banggakan ternyata membuat luka yang tidak akan bisa di obati .
"kita harus menghargai keinginan papa , ma .. bagaimana pun , ia sudah tenang di sana " bujuk Alingga .
Alingga melepaskan pelukan mama nya dan berjalan menuju pintu , ia membuka pintu tersebut "panggil Brama ke ruangan saya " kata Alingga pada Sarah , karena memang meja Sarah berada tepat di hadapan ruangan Alingga .
__ADS_1
Alingga kembali duduk di sebelah mamanya , ia sudah terlihat lebih tenang dari sebelumnya .
Tidak lama pintu di ketuk dari luar , setelah di persilahkan masuk .
Brama masih berdiri di depan mereka bertiga .
"Duduk lah "Alingga mempersilahkan
Setelah berbasa-basi singkat , Alingga menanyakan masalah-masalah sepele seputar kehidupan Brama .
"Lalu di mana orang tua mu bekerja ?"tanya Alingga
"ibu saya membuka toko bunga kecil-kecilan " jawab Brama .
"Oh .. kalau begitu saya akan memesan bunga di tempat nya jika membutuhkan " sahut Alingga basa-basi . Brama hanya tersenyum menanggapi .
"Sebelum membuka toko bunga di mana ibu mu bekerja ?" tanya Alingga lagi .
"Ia bekerja sebagai Marketing officer di sebuah perusahaan lokal " jawab Brama . Ia berpura menunjukan keheranan dengan pertanyaan yang di lontarkan Alingga sejak tadi .
"Kalau ayah mu " Akhirnya Alingga bisa menanyakan intinya .
Alingga dan bu Dewi saling memandang , setelah itu Alingga menyodorkan sebuah map pada Brama . Brama mengerutkan dahinya , "Bukalah " kata Alingga .
Brama membuka map tersebut , mencoba mencari tau isinya . yang sebenarnya ia sudah tau . Ia berpura terkejut saat membaca semua yang ada di dalam map tersebut . Sebenarnya ia sedikit terkejut karena isi map yang di berikan oleh Alingga lebih lengkap dari pada yang di berikan pak Ronald .
Dan ia juga cukup terkejut melihat Alingga yang tidak menyembunyikan apapun perihal tersebut . Diam diam , ia sedikit memuji sifat Alingga . ini membuktikan kalau ia tidak serakah .
Hening tercipta di ruangan tersebut , masing-masing setiap orang larut dalam pemikiran mereka sendiri . Alingga menunggu reaksi apa yang akan di keluarkan oleh Brama , setelah mengetahui kebenaran nya .
"Well , sejujurnya saya sudah beranggapan kalau mama saya adalah wanita simpanan atau semacam nya . karena setiap bulan mama saya selalu menerima kiriman uang , itulah yang membiayai sekolah saya selama ini . Kalau tidak , hanya mengandalkan gajinya . mana mungkin ia bisa menyekolahkan ku di sekolah yang cukup bonafid " jelas Brama .
"Kapan terakhir mama mu dapat kiriman uang ?" tanya Alingga
"Entahlah , setelah saya mulai bekerja saya telah melarang nya untuk memakai uang tersebut " jawab Brama . "Kalian tidak perlu khawatir saya menuntut hak saya , menurut saya 'dia ' sudah cukup bertanggung jawab . karena tanpa uang nya saya tidak akan bisa seperti sekarang " kata Brama lagi , ia menekan kata Dia untuk papanya atau lebih tepatnya papa mereka .
"Yah .. kau juga tidak perlu khawatir . kita akan mengurus pembagian saham nanti bersama pengacara " sahut Alingga .
__ADS_1
"Lingga !" bantah bu Dewi tidak setuju .
"Ma .. ini semua keinginan papa " tukas Alingga
"Tapi .. " belum selesai bu Dewi berbicara , Brama sudah memotongnya . "Ibu tenang saja , saya juga tidak berharap pembagian harta itu ! maaf , saya permisi izin hari ini pak " ujar Brama , setelah itu ia beranjak pergi dari ruangan Alingga .
pak Ronald menyembunyikan senyum nya , melihat akting Brama . 'Hebat ! ternyata ia bermain tarik ulur untuk mendapatkan simpati' batin pak Ronald .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berganti , minggu pun berlalu . Masalah nya dengan Brama ia serahkan pada mamanya dan pengacara keluarga mereka . Pengacara tersebut tidak terkejut , bagaimana pun surat pribadi ayahnya di sah kan olehnya .
Alingga melanjutkan rutinitas nya seperti biasa , siang hari ia bekerja di perusahaan nya . Malam nya ia pulang ke rumah untuk mengurus Nana dan Dean , setelah mereka tertidur . barulah Alingga pergi ke rumah sakit . Setiap malam ia selalu tidur di rumah sakit dan berangkat ke kantor pagi hari dari sana .
Perkembangan kasus Ane menemui jalan buntu , mobil yang di pakai menabrak Ane di temukan tenggelam di dasar danau . jauh dari perkotaan . Sedangkan kedua orang pelaku nya , di temukan tewas di bangunan kosong terbengkalai . Ia menyerahkan semua penyelidikan pada Leo , di bantu oleh Rio dan pihak kepolisian .
Sepertinya musuh nya kali ini kejam . Karena ia tidak segan membunuh . itu sebabnya ia mengetatkan penjagaan pada seluruh anggota keluarganya .
Alingga duduk di samping Ane yang masih tidak sadarkan diri . Ia menyandarkan kepalanya di sebelah tangan Ane , masih merasa tertekan jika ia melihat Ane seperti ini .
"Sayang .. Hari ini aku bertemu pengacara dan Brama , ia mendapatkan dua puluh persen saham papa . Tapi , entah kenapa ia tidak mau menerimanya . dan aku masih menjadikan nya wakil ku di perusahaan "Kata Alingga
"Kamu tau nggak , Nana masih menangis setiap malam . ia merindukan mu .. " Lirih Alingga
"Dean juga sudah bisa membalikan badan nya , aku yakin kamu pasti kesal karena melewatkan pertumbuhan nya .. " Alingga tetap berbicara walau tidak ada tanggapan dari Ane .
"Sayang .. aku tidak bisa mengurus mereka berdua sendiri .. kamu bangun ya .. "
"bukankah kamu sudah berjanji , kalau kamu tidak akan meninggalkan aku lagi ... "
"Bulan depan ada pertemuan orang tua murid di sekolah Nana .. kamu tau kan , kalau aku sibuk kerja .. siapa yang akan datang nanti " Alingga tidak merasa bosan bicara sendiri . Setiap malam ia selalu mengajak Ane berbicara , ia selalu berharap kalau apa yang ia katakan pada Ane membuat Ane bangun dan membalas perkataan nya .
Sampai kapan pun .. ia tidak akan menyerah .
Mungkin malam ini Ane akan membuka matanya , jika tidak malam ini . mungkin malam besok atau esok nya lagi , atau pun esoknya lagi Alingga yakin itu .
*
__ADS_1
*
*