Bertahan Dalam Batas Asa

Bertahan Dalam Batas Asa
Bab 49


__ADS_3

*


*


*


"Apakah dia tau , atau ini adalah rencana nya untuk masuk ke perusahaan " Alingga mengeluarkan dugaan nya terhadap Brama .


"Setau ku , sampai saat ini ia belum mengetahui Erlangga adalah ayah nya " sahut pak Ronald


"Lalu kenapa ia bisa muncul di sini " tukas Alingga


"kalau soal itu lebih baik kita bertanya pada mama mu " balas pak Ronald .


Seketika mereka berdua mengalihkan pandangan pada bu Dewi yang sejak tadi hanya diam saja .


Bu Dewi menggelengkan kepalanya .


"Dari sekian banyak kandidat , mama memilih dia karena prestasi dan kinerja nya di perusahaan sebelum nya " jelas bu Dewi .


"aku tidak percaya dengan kebetulan seperti itu " Alingga berkata dengan sarkas .


"Saat ini yang paling penting adalah , apakah kalian akan membuka status nya sebagai anak Erlangga atau tidak ?" tanya pak Ronald


"Ya "


"Tidak "


Alingga dan bu Dewi menjawab bersamaan .


"Ma .. apakah mama tidak membaca pesan papa di surat itu ! kalau kita harus memberikan hak nya sebagai anak papa juga !" tegas Alingga


"Mama tidak peduli , ini salah mereka .. ini salah papa mu ! dia telah ... mengkhianati mama selama ini !" pekik bu Dewi , melihat emosi mamanya Alingga langsung memeluk mamanya memberikan ketenangan . Ia mengerti perasaan mama nya saat ini , bagaimana pun sangat sulit membayangkan seorang suami yang selama ini ia banggakan ternyata membuat luka yang tidak akan bisa di obati .


"kita harus menghargai keinginan papa , ma .. bagaimana pun , ia sudah tenang di sana " bujuk Alingga .


Alingga melepaskan pelukan mama nya dan berjalan menuju pintu , ia membuka pintu tersebut "panggil Brama ke ruangan saya " kata Alingga pada Sarah , karena memang meja Sarah berada tepat di hadapan ruangan Alingga .

__ADS_1


Alingga kembali duduk di sebelah mamanya , ia sudah terlihat lebih tenang dari sebelumnya .


Tidak lama pintu di ketuk dari luar , setelah di persilahkan masuk .


Brama masih berdiri di depan mereka bertiga .


"Duduk lah "Alingga mempersilahkan


Setelah berbasa-basi singkat , Alingga menanyakan masalah-masalah sepele seputar kehidupan Brama .


"Lalu di mana orang tua mu bekerja ?"tanya Alingga


"ibu saya membuka toko bunga kecil-kecilan " jawab Brama .


"Oh .. kalau begitu saya akan memesan bunga di tempat nya jika membutuhkan " sahut Alingga basa-basi . Brama hanya tersenyum menanggapi .


"Sebelum membuka toko bunga di mana ibu mu bekerja ?" tanya Alingga lagi .


"Ia bekerja sebagai Marketing officer di sebuah perusahaan lokal " jawab Brama . Ia berpura menunjukan keheranan dengan pertanyaan yang di lontarkan Alingga sejak tadi .


"Kalau ayah mu " Akhirnya Alingga bisa menanyakan intinya .


Alingga dan bu Dewi saling memandang , setelah itu Alingga menyodorkan sebuah map pada Brama . Brama mengerutkan dahinya , "Bukalah " kata Alingga .


Brama membuka map tersebut , mencoba mencari tau isinya . yang sebenarnya ia sudah tau . Ia berpura terkejut saat membaca semua yang ada di dalam map tersebut . Sebenarnya ia sedikit terkejut karena isi map yang di berikan oleh Alingga lebih lengkap dari pada yang di berikan pak Ronald .


Dan ia juga cukup terkejut melihat Alingga yang tidak menyembunyikan apapun perihal tersebut . Diam diam , ia sedikit memuji sifat Alingga . ini membuktikan kalau ia tidak serakah .


Hening tercipta di ruangan tersebut , masing-masing setiap orang larut dalam pemikiran mereka sendiri . Alingga menunggu reaksi apa yang akan di keluarkan oleh Brama , setelah mengetahui kebenaran nya .


"Well , sejujurnya saya sudah beranggapan kalau mama saya adalah wanita simpanan atau semacam nya . karena setiap bulan mama saya selalu menerima kiriman uang , itulah yang membiayai sekolah saya selama ini . Kalau tidak , hanya mengandalkan gajinya . mana mungkin ia bisa menyekolahkan ku di sekolah yang cukup bonafid " jelas Brama .


"Kapan terakhir mama mu dapat kiriman uang ?" tanya Alingga


"Entahlah , setelah saya mulai bekerja saya telah melarang nya untuk memakai uang tersebut " jawab Brama . "Kalian tidak perlu khawatir saya menuntut hak saya , menurut saya 'dia ' sudah cukup bertanggung jawab . karena tanpa uang nya saya tidak akan bisa seperti sekarang " kata Brama lagi , ia menekan kata Dia untuk papanya atau lebih tepatnya papa mereka .


"Yah .. kau juga tidak perlu khawatir . kita akan mengurus pembagian saham nanti bersama pengacara " sahut Alingga .

__ADS_1


"Lingga !" bantah bu Dewi tidak setuju .


"Ma .. ini semua keinginan papa " tukas Alingga


"Tapi .. " belum selesai bu Dewi berbicara , Brama sudah memotongnya . "Ibu tenang saja , saya juga tidak berharap pembagian harta itu ! maaf , saya permisi izin hari ini pak " ujar Brama , setelah itu ia beranjak pergi dari ruangan Alingga .


pak Ronald menyembunyikan senyum nya , melihat akting Brama . 'Hebat ! ternyata ia bermain tarik ulur untuk mendapatkan simpati' batin pak Ronald .


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari berganti , minggu pun berlalu . Masalah nya dengan Brama ia serahkan pada mamanya dan pengacara keluarga mereka . Pengacara tersebut tidak terkejut , bagaimana pun surat pribadi ayahnya di sah kan olehnya .


Alingga melanjutkan rutinitas nya seperti biasa , siang hari ia bekerja di perusahaan nya . Malam nya ia pulang ke rumah untuk mengurus Nana dan Dean , setelah mereka tertidur . barulah Alingga pergi ke rumah sakit . Setiap malam ia selalu tidur di rumah sakit dan berangkat ke kantor pagi hari dari sana .


Perkembangan kasus Ane menemui jalan buntu , mobil yang di pakai menabrak Ane di temukan tenggelam di dasar danau . jauh dari perkotaan . Sedangkan kedua orang pelaku nya , di temukan tewas di bangunan kosong terbengkalai . Ia menyerahkan semua penyelidikan pada Leo , di bantu oleh Rio dan pihak kepolisian .


Sepertinya musuh nya kali ini kejam . Karena ia tidak segan membunuh . itu sebabnya ia mengetatkan penjagaan pada seluruh anggota keluarganya .


Alingga duduk di samping Ane yang masih tidak sadarkan diri . Ia menyandarkan kepalanya di sebelah tangan Ane , masih merasa tertekan jika ia melihat Ane seperti ini .


"Sayang .. Hari ini aku bertemu pengacara dan Brama , ia mendapatkan dua puluh persen saham papa . Tapi , entah kenapa ia tidak mau menerimanya . dan aku masih menjadikan nya wakil ku di perusahaan "Kata Alingga


"Kamu tau nggak , Nana masih menangis setiap malam . ia merindukan mu .. " Lirih Alingga


"Dean juga sudah bisa membalikan badan nya , aku yakin kamu pasti kesal karena melewatkan pertumbuhan nya .. " Alingga tetap berbicara walau tidak ada tanggapan dari Ane .


"Sayang .. aku tidak bisa mengurus mereka berdua sendiri .. kamu bangun ya .. "


"bukankah kamu sudah berjanji , kalau kamu tidak akan meninggalkan aku lagi ... "


"Bulan depan ada pertemuan orang tua murid di sekolah Nana .. kamu tau kan , kalau aku sibuk kerja .. siapa yang akan datang nanti " Alingga tidak merasa bosan bicara sendiri . Setiap malam ia selalu mengajak Ane berbicara , ia selalu berharap kalau apa yang ia katakan pada Ane membuat Ane bangun dan membalas perkataan nya .


Sampai kapan pun .. ia tidak akan menyerah .


Mungkin malam ini Ane akan membuka matanya , jika tidak malam ini . mungkin malam besok atau esok nya lagi , atau pun esoknya lagi Alingga yakin itu .


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2