
Ayumna yang mendengar perkataan suaminya pada Bryan, langsung memukul lengan Langit dengan keras.
"Mas, jangan membisikkan sesuatu yang malah membuatnya semakin ber-antusias untuk menyentuh Mbak Nika, lagi." ingat Ayumna pada Langit dengan tatapan tajam.
Langit pun tersenyum, lalu memeluk hangat sang istri serta mengecup mesra kening Ayumna. Dan hal itu sengaja Langit lakukan di depan Bryan.
"Dan jika saat itu tiba, kamu bisa peluk dia sesukamu, Bro. Seperti apa yang aku lakukan saat ini," goda Langit mencoba memanasi hati Bryan.
Tanpa menunggu lama, saat anggota keluarganya tengah sibuk menggoda putrinya, Bryan menarik lengan Manika dengan lembut, namun sedikit menekan. Bryan lakukan itu agar Manika tidak berusaha kabur darinya.
"Ada yang harus kita bahas," ucap Bryan singkat, lalu membawa Manika pergi keluar dari rumahnya dan menuju mobilnya. Tanpa menghiraukan pekikan dari Shakki.
Bryan langsung menjalankan mobilnya keluar dari perkarangan rumah dan membelah jalanan kota tersebut. Di dalam mobil, Manika tak tinggal diam. Dia berusaha membuka pintu mobil, tapi Bryan dengan cepat menekan tombol kunci pintu mobilnya yang terletak di sebelah sisi kanannya.
"Jangan mencoba untuk kabur, Sayang," tekan Bryan pada Manika. "Kalau masih ingin bertemu dengan Cloe," Bryan terpaksa menggunakan putrinya untuk mengancam Manika.
__ADS_1
"Apa aku sedang diancam?" Manika menatap tajam ke arah Bryan. "Apa kau sudah gila? menggunakan putrimu sendiri untuk mengancamku?" geram Manika kemudian.
Bagaimana bisa Bryan menggunakan putrinya sendiri untuk mengancamnya. Meski mereka belum melakukan tes DNA, tapi mengingat bukti serta ingatan kejadian pada waktu itu, Manika juga yakin kalau Bryan adalah ayah dari putrinya. Apalagi tingkat kemiripan mereka di bagian bibir dan hidung mencapai sembilan puluh persen.
"Jika itu bisa menjeratmu untuk tetap berada di sisiku, dengan senang hati aku akan melakukannya." jawab Bryan menatap lurus ke depan sambil mengemudikan mobilnya.
Hati Manika begitu memanas mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Bryan. Pria disampingnya ini benar-benar sudah tidak waras.
"Kau memang sudah gila, Mas! Aku yang mengandungnya sendiri! Aku yang melahirkan serta merawatnya sendiri selama ini. Dengan mudahnya kau datang untuk mengambil putriku dariku! Apa kau tidak pernah memikirkan perasaanku?" tanya Manika di sela isak tangisnya setelah puas memukul tubuh Bryan.
Dengan gerakan lembut, Bryan menarik tubuh Manika yang bergetar karena menangis masuk ke dalam dekapannya.
"Maafkan aku, Sayang." ucap Bryan lembut seraya mengecup kening Manika berkali-kali. Tangannya juga mengusap lembut punggung Manika. Mencoba menenangkan wanita yang menjadi ibu dari anaknya tersebut.
"Kamu jahat, Mas! Kamu jahat!" isak Manika di dalam pelukan Bryan seraya memukul dada Bryan berkali-kali. Bryan diam menerima semua pukulan dari wanita yang kini ada di dekapannya.
__ADS_1
Bryan sadar, jika apa yang dilakukan untuk menjerat wanita ini adalah salah. Namun, Bryan tidak bisa melepas mereka berdua begitu saja. Meskipun rasa cinta terhadap Manika itu memang belum tumbuh di hatinya.
"Menikahlah denganku, Sayang? Kita berikan keluarga yang lengkap untuk Cloe. Untuk putri kita," bujuk Bryan.
Lalu tangan Bryan membingkai wajah Manika. Mengusap lembut air mata yang masih mengalir di pipi mulus wanita berparas cantik ini.
"Tidak semudah itu, Mas. Aku memiliki trauma dengan sebuah kata pernikahan. Aku juga memiliki kisah cinta yang cukup tragis, yang mungkin tidak bisa Mas bayangkan sebelumnya. Dan sejak saat itu, aku tidak percaya pada laki-laki dan cinta secara bersamaan." ungkap Manika mengapa dia menolak untuk menikah.
"Aku pun juga sama, Sayang. Aku juga memiliki kenangan yang buruk mengenai kisah asmara. Namun, ketika melihat tatapanmu pada malam itu, aku ingin membuka hatiku pada orang baru. Dan orang baru itu kamu, Sayang. Karena tatapanmu itulah yang membuatku untuk menaburkan benih ku pada rahimmu. Hal yang selama ini aku hindari," jelas Bryan dengan mantap.
Hati Manika bergetar seketika, saat mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh Bryan. Dia merasa sangat tersentuh, tapi juga merasa sangat bersalah pada Cloe. Jika saja pada saat itu dia tidak langsung meninggalkan Bryan, mungkin putrinya akan mendapat kasih sayang dari seorang ayah selama ini.
Namun, ketika bayangan kehancuran rumah tangga orang tuanya dan juga pengkhianatan yang dilakukan oleh kekasihnya dulu, Manika kembali mengubur angan-angannya untuk mempunyai sebuah keluarga yang lengkap untuk Cloe.
"Maaf, Mas. Aku tetap nggak bisa," jawaban Manika menyulut api yang sudah padam di dalam diri Bryan
__ADS_1