Bibit Bayaran

Bibit Bayaran
Sebuah Kejujuran


__ADS_3

Bryan berlari kecil menuju tempat dimana Manika yang sedang duduk sembari menyangga dagunya. Tatapannya mengarah luar jendela cafe tersebut.


Dengan napas tersengal, Bryan duduk di depan Manika. Membuat perempuan itu terkejut seketika. Menatap lekat netra coklat itu tanpa menyapanya terlebih dulu. Entah karena apa hatinya terasa sakit ketika mengingat sikap Bryan tadi pagi.


"Maaf, Beibeh. Aku terlambat lagi," ucap Bryan seraya mengusap lembut telapak tangan Manika. Manika hanya mengangguk. Bibirnya masih terkunci rapat.


"Kamu marah?" tanya Bryan panik. Dia sendiri juga tidak mengerti tentang perasaannya. Dia merasa takut jika kehilangan Manika dan Cloe. Tapi juga tidak bisa mengabaikan permintaan sang mantan yang membutuhkan dirinya.


Jika memikirkan hal itu, kepala Bryan serasa mau pecah tanpa adanya solusi yang ia dapat. Selama apapun dia berusaha berpikir.


Manika menggeleng kepalanya pelan, lalu menyodorkan buku menu makanan kepada Bryan. Bryan nampak ragu menatap Manika yang berubah menjadi pendiam seperti ini. Bryan sadar jika sikap Manika yang seperti ini karena dirinya.

__ADS_1


Tidak mau menunggu lama, Bryan langsung memesan menu makanan yang menjadi favoritnya, yaitu nasi goreng seafood. Pelayan cafe itu mencatat semua menu yang di pesan oleh pelanggannya tersebut.


Setelah pelayan cafe pergi, Bryan kembali meraih tangan Manika. Tatapan mata wanita itu mengarah ke samping restoran. Terdapat sebuah taman kecil yang dipenuhi oleh berbagai jenis tanaman bunga hias.


"Maaf," lirih Bryan. Jemarinya tetap dengan setia mengusap punggung telapak tangan ibu dari putrinya tersebut.


"Aku mau sebuah kejujuran, Mas," ucap Manika tak menatap Bryan sekalipun.


Dirinya cukup peka untuk mengetahui perubahan pada sikap Bryan. Pria itu sebelum melamarnya semalam, tidak pernah mangkir untuk membalas pesan singkat darinya. Tapi kenapa setelah pria itu mendapatkan apa yang dia inginkan, dia menjadi berubah seperti tadi pagi, yang tak membalas pesan singkat darinya ataupun memberi kabar jika tidak bisa menjemputnya seperti biasa.


Padahal baru beberapa menit saja Manika mendiamkannya. Bagaimana jika sampai wanita itu mendiamkan dirinya selama dua hari? Bisa membuatnya uring-uringan pastinya.

__ADS_1


"Aku lebih suka kamu jujur tapi menyakitkan, daripada kamu berbohong dan aku mengetahuinya sendiri," seolah mempunyai insting yang kuat, Manika meyakini kalau ada yang disembunyikan oleh Bryan darinya.


Bryan nampak menyugar rambutnya dengan satu tangannya. Dia tidak punya pilihan lain selain menceritakan pertemuannya dengan Casandra, mantan kekasihnya.


"Kamu janji jangan marah dulu?" Bryan menatap takut pada Manika. Mengecup tangannya penuh sayang. Kemudian Manika menganggukkan kepalanya.


"Asal kamu jujur, Mas," tegas Manika. Kemudian Bryan pun mulai menceritakan pertemuannya kembali dengan Casandra, di lampu merah yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal Manika.


"Aku semalam bertemu dengan mantan kekasihku, setelah aku mengantarmu pulang. Dan kami hanya saling menanyakan kabar. Lalu, tadi pagi kenapa aku tidak menjemputmu, itu karena dia mengirim pesan meminta bantuanku. Tanpa berpikir panjang aku langsung ke rumahnya, karena dia bilang penyakitnya kambuh." jelas Bryan menatap lekat mata Manika.


Ada semburat rasa kecewa yang terpancar dari mata wanitanya itu. Bryan tau dia salah. Seharusnya dia mengabari Manika terlebih dulu, kalau memang tidak bisa menjemputnya.

__ADS_1


Manika terdiam membisu. Mendengar kata mantan, hatinya terasa sakit. Jadi, pria yang duduk di depannya ini masih mempunyai rasa pada mantan kekasihnya. Manika berusaha sekuat mungkin untuk menekan rasa cemburunya. Dia belum berhak untuk memaki Bryan dan melarangnya agar menjauhi mantan pria itu.


"Beibeh....," panggil Bryan, karena Manika tak kunjung merespon ceritanya.


__ADS_2