Bibit Bayaran

Bibit Bayaran
Kangen


__ADS_3

"Tenang aja, Beib. Aku udah puas kok dengan ini," lirih Bryan sambil meremas bongkahan semangka milik Manika dengan tangan nakalnya. "Jadi jangan khawatir kalau aku akan berpaling darimu," imbuhnya lagi.


Sontak saja perbuatan Bryan barusan membuat Manika tak percaya. Pasalnya mereka sedang berada di tempat umum dan lumayan banyak pengunjung yang datang. Dan Bryan berani melakukan tindakan yang tidak senonoh padanya.


Dengan hati yang semakin jengkel terhadap Bryan, lalu Manika melepaskan tangannya dari lengan Bryan dan melangkah terlebih dulu. Meninggalkan Bryan sendirian di belakangnya.


"Bry!" sapa seorang perempuan dari arah pintu masuk toko indoApril tersebut.


Perempuan berparas cantik dan mempunyai bentuk tubuh yang tidaklah jauh berbeda dengan Manika itu, berjalan mendekat ketempat Bryan yang tengah berdiri mematung saat ini.


Bryan tertawa melihat Manika yang ngambek padanya. Kemudian dia melangkahkan kakinya menyusul Manika yang sudah berada jauh di depannya. Namun, saat hendak melangkahkan kakinya, ada suara sapaan dari arah belakang tempatnya berdiri.


Bryan menoleh ke belakang, ingin mengetahui siapa yang memanggil dirinya hanya dengan sebutan namanya saja. Terlebih lagi yang memanggil dirinya adalah suara perempuan. Dia semakin penasaran.


"Bry!" sapa perempuan itu lagi saat tidak mendapat respon dari Bryan. Karena kini Bryan malah terdiam terpaku melihat dirinya.

__ADS_1


Alangkah terkejutnya Bryan saat melihat siapa perempuan yang tengah memanggilnya. Jantungnya terasa berdegup lebih kencang dari biasanya. Matanya membola tak berkedip melihat perempuan yang kini ada dihadapannya.


"Hai! Apa kabar Bry?" sapa perempuan itu dengan senyum yang sumringah. Sebuah senyuman yang tidak berubah di mata Bryan, masih tetap terlihat cantik. "Bry?" perempuan itu menggerakkan tangannya di depan wajah Bryan. Karena tidak mendapat respon dari pria yang kini menatapnya dengan tatapan tak percaya.


Bryan terkesiap, lalu mengerjapkan matanya berkali-kali. Kemudian memalingkan arah pandangannya ke samping. Dia cukup terkejut dengan apa yang matanya lihat. Lalu mencoba mengatur kembali jantungnya agar lebih tenang dan tidak berisik di dalam sana.


"Eh, ya," Bryan terlihat sangat gugup meskipun sudah berusaha bersikap tenang. Apalagi tanpa aba-aba perempuan itu memeluk dirinya tanpa permisi terlebih dahulu.


"Aku kangen, Bry!" ucap perempuan itu memeluk erat tubuh Bryan yang terdiam menegang. Tanpa memberikan respon kepada tindakan perempuan tersebut.


Beberapa menit menikmati rasa yang menurutnya nyaman, otaknya kembali bekerja dengan normal. Dia teringat akan keberadaan Manika yang juga satu ruangan dengan mereka saat ini.


"Lepas Sel," ucap Bryan sembari melepas tangan Sela yang melingkar di pinggangnya dengan gerakan pelan.


Akan tetapi Sela tetap tidak mau melepaskan tubuh Bryan dari dekapannya. Dia merasa sangat rindu dengan pria itu. Rindu aroma dari pria yang hampir seminggu sekali membuatnya menjerit penuh nikmat, dulu.

__ADS_1


"Kamu nggak kangen sama aku? Nggak pingin merasakan itu?" tanya Sela dengan wajah cemberut sekaligus menggoda kepada Bryan.


Bryan akui, perempuan yang ada di depannya ini memang hebat. Namun, rasanya tidak bisa ia bandingkan jika dengan Manika. Tapi perempuan ini lebih agresif dan itu yang sangat Bryan sukai darinya. Tetapi itu dulu, sebelum dirinya mencicipi rasa nikmat dari tubuh Manika.


"Jangan begini, Sel!" ucap Bryan dengan suara sedikit meninggi.


Sela mengangkat wajahnya, menatap Bryan tak percaya. Padahal selama mereka bersama sebagai partner, dulu. Bryan tidak pernah sekalipun bersikap kasar kepadanya. Kecuali jika di atas ranjang. Tapi itu sangat disukai oleh Sela.


"Kenapa?" tanya Sela heran. Padahal ini pertemuannya kembali dengan Bryan. Setelah dirinya memutuskan untuk pulang duluan ke dalam negri.


Bryan sangat takut jika dirinya dipergoki oleh Manika dalam keadaan sedang berpelukan dengan perempuan lain. Bisa-bisa rencana nanti malam gagal total.


Bryan dengan cepat melepas diri dari Sela, agar tidak ketahuan. Akan tetapi semuanya terlambat.


"Khem!!" dehem Manika yang sengaja ia keraskan saat melihat dua mahluk yang saling melepas rindu tersebut.

__ADS_1


Mampus dah aku! Batin Bryan. Dia kalah cepat untuk mengambil sebuah tindakan. Terlihat kini Manika sedang berdiri menatapnya dengan tatapan yang menusuk. Bagai predator yang siap untuk melenyapkan mangsanya.


__ADS_2