
Setelah berbicara dengan Gauri kemarin, akhirnya Manika memutuskan untuk berhenti bekerja. Ia akan mengurus Cloe sendiri dan tidak akan merepotkan mertuanya lagi.
"Mas...," panggil Manika saat Bryan baru saja keluar dari kamar mandi. Manika mengambilkan baju ganti untuk suaminya, lalu berjalan mendekat kearah suaminya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Bryan melingkarkan tangannya ke pinggang sang istri.
"Sudah aku putuskan kalau aku akan berhenti kerja dan fokus sama Cloe. Apa tidak apa-apa jika begitu, Mas?" tangan Manika mengambil alih handuk yang dipegang oleh Bryan, lalu membantu suaminya itu mengeringkan rambutnya yang mulai sedikit panjang.
"Aku kan sudah pernah bilang, kalau kamu di rumah saja. Biarkan aku yang akan memanjakan kalian," ucap Bryan kemudian mengecup singkat bibir Manika.
"Makasih Mas, telah mengerti aku selama ini. Maaf, jika aku belum menjadi istri yang nurut sama kamu, Mas." lirih Manika seraya menundukkan kepalanya.
Bryan begitu gemas melihat sikap istrinya yang tiba-tiba saja berubah seperti ini.
__ADS_1
"Kamu tuh ngomong apa, sih Sayang? Aku tuh malah bersyukur kamu masuk ke dalam kehidupanku. Apalagi sekarang kamu cinta mati sama aku," goda Bryan di akhir kalimatnya.
Langsung saja Manika melayangkan cubitannya pada perut sang suami. Ia sekarang merasa lebih bahagia dari sebelumnya. Pernikahan yang dia anggap hal yang paling menakutkan karena takut akan sebuah pengkhianatan, ternyata tidak seperti yang ia kira selama ini.
Pria yang berdiri di depannya ini mampu merubah pandangannya, terhadap sebuah ikatan yang bernamakan pernikahan.
Hari pun silih berganti. Tanpa terasa kini usia Cloe menginjak satu tahun. Dan selama itu Bryan selalu gagal untuk mengajak sang istri pergi berbulan madu. Karena Cloe selalu sakit disaat mereka sudah merencanakan hal itu dengan matang.
"Ma, Mama ikut Bry ya?" bujuk Bryan pada sang mama.
"Emang kamu mau kemana, Bry?" sahut Arya yang kemudian duduk di samping istrinya. Mengecup singkat kening Shakki.
Membuat Bryan memutar bola matanya, jengah melihat keromantisan mereka. Meski umur mereka yang terbilang tidak muda lagi, tapi mereka selalu bersikap mesra. Bahkan, Bryan dan Manika pun kalah mesra dari mereka.
__ADS_1
"Bryan ada projek, Pa. Tapi membutuhkan bantuan Papa dan Mama. Papa mau bantu, kan?" tanya Bryan dengan nada yang sengaja di lirihkan. Takut jika Manika akan mendengarnya.
Selain Cloe yang tidak mau jauh dari mama-nya, Manika juga selalu menolak jika diajak untuk berbulan madu. Dia merasa tidak enak jika meninggalkan Cloe pada mertuanya, hanya untuk kepentingan mereka pribadi.
"Bry mau buatkan Papa dan Mama cucu lagi," lirih Bryan.
Sontak, Arya langsung melempar bantalan kursi tepat mengenai Bryan. "Papa kira ada hal apa yang lebih penting. Kalau itu bukannya kalian udah nyicil setiap malam?"
"Kali ini beda, Pa. Semenjak Bryan menikah, kita belum pernah pergi berlibur berdua. Kan Papa selalu ngasih Bryan pekerjaan tambahan." protes Bryan pada Arya. Karena memang Bryan sering lembur beberapa bulan terakhir ini.
Jangan dikira karena dia seorang direktur, lalu bisa seenaknya keluar masuk perusahaan. Tentu saja pekerjaannya sangatlah banyak. Bahkan kerap kali dia bertemu kliennya di luar kota. Sehingga mengharuskan pulang ke rumah terlalu larut. Waktu bermain untuk sang putri pun juga mulai berkurang.
"Udah, udah. Nanti Mama yang jagain Cloe. Tapi selesain dulu pekerjaanmu, jangan sampai membuat Miko kesusahan karena kamu tinggal," putus Shakki tidak mau ada perdebatan kecil diantara suami dan putranya.
__ADS_1
"Makasih, Ma! Mama emang terdabes deh pokoknya!" ucap Bryan seraya memeluk Shakki. Kemudian Bryan menatap Arya dengan tatapan mengejek. Karena mama-nya kali ini membela dirinya.
"Minggir! Jangan peluk-peluk istriku!" Arya menyingkirkan tangan Bryan yang tengah memeluk istrinya. Tentu saja perebutan kecil itu terjadi lagi diantara mereka.