Bibit Bayaran

Bibit Bayaran
Penyebabnya


__ADS_3

"Oohh... Jadi suamimu penyebabnya?" Shakki mengangguk-nganggukkan kepalanya mengerti. Mendengar itu wajah Manika langsung terasa panas. Dia menundukkan kepalanya karena malu.


"Namanya juga pengantin baru, Ma," sahut Bryan seraya menarik kursi untuk Manika tempati. "Duduk, Sayang. Aku ambilin. Pasti kamu capek banget, kan?" goda Bryan seraya mengerlingkan matanya.


Membuat Manika semakin menunduk tak berani menatap wajah mertuanya. Bahkan untuk menyapa sang putri yang ada di pangkuan papa mertuanya pun tak berani. Karena sangking malunya.


Bryan begitu gemas melihat ekspresi istrinya. Wanita itu ternyata memiliki sisi manis yang baru Bryan ketahui.


"Tapi jangan terlalu banyak membuat tanda yang mudah dijangkau oleh mata, Boy. Kasihan istrimu nanti kalau dia ingin keluar." kini suara Arya yang ikut tersenyum kearah pasangan pengantin baru tersebut. Sementara di pangkuannya, sang cucu sedang asik memainkan jemarinya.


"Tapi suka lupa, Pa." Bryan semakin ingin menggoda sang istri. Manika pun menghadiahi sebuah cubitan keras di pinggang suaminya. Suaminya sangat tidak peka dengan apa yang tengah ia rasakan. Malu yang begitu teramat sangat.

__ADS_1


Melihat hal itu, Shakki mengalihkan topik dengan menyuruh mereka untuk mulai sarapan. Bryan dan Manika pun memulai sarapan mereka. Sesekali terdengar gelak tawa diantara mereka karena tingkah Cloe yang sangat menggemaskan. Ruang makan yang biasanya sepi, kini berubah menjadi sangat ramai karena adanya Cloe di tengah-tengah mereka.


Tak terasa seminggu sudah pernikahan mereka terlewati. Di dalam sebuah kamar, sedang terjadi perdebatan antara sepasang suami istri yang terbilang masih baru tersebut. Bryan melarang istrinya untuk tidak usah bekerja lagi. Namun, sifat keras kepala Manika selalu meminta ijin pada sang suami untuk diperbolehkan tetap bekerja.


"Ayolah Mas... Lagian aku juga kerja di perusahaan Mas, kan. Mas juga masih bisa mengawasiku," bujuk Manika berusaha meminta ijin pada suaminya.


"Tapi aku takut nanti kamu kecapean, Sayang. Apa tidak sebaiknya di rumah saja merawat putri kita," Bryan tetap keukeh dengan pendiriannya. Selain takut Manika akan kecapean, Bryan tidak mau kalau istrinya itu di dekati oleh karyawan lain.


Hal itu membuat Bryan merasa cemburu untuk pertama kalinya. Maka dari itu perdebatan itu terjadi sekarang ini. Karena Bryan tidak mau hal itu terulang lagi.


Egois memang. Namun, dia tidak mau apa yang sudah menjadi miliknya diusik oleh orang lain. Entah apa yang dilakukan Manika kepadanya. Sehingga dia menjadi over protektif pada Manika.

__ADS_1


"Tapi, Mas... Akan sangat aneh jika aku tiba-tiba keluar. Sedangkan masa kontrakku tinggal iga bulan lagi," kali ini Manika memilih alasan yang logis. Karena memang dirinya masih mempunyai sisa kontrak kerja di sana tiga bulan lagi.


"Aku, kan bosnya, Sayang! Kalau kamu lupa," kesal Bryan dengan sifat sang istri.


Melihat itu, Manika meraih tangan suaminya dengan lembut. Lalu menarik tubuh kekar sang suami ke dalam dekapannya. Memeluknya dengan penuh kelembutan.


"Mas tidak lupa, kan? Kalau tidak ada yang tahu pernikahan kita?" tanya Manika pelan. Bryan mengangguk sebagai jawaban. "Bukankah nanti aku akan dianggap tidak bertanggung jawab oleh rekan kerjaku? Karena tidak menuntaskan kewajibanku yang sudah aku sepakati dari awal," dengan nada lembut, Manika mulai bernegosiasi dengan suaminya.


Mendapat perlakuan penuh kasih dari sang istri, dan juga apa yang dikatakan oleh istrinya itu benar. Bryan mengaku kalah kali ini. Ia akan membiarkan istrinya itu tetap bekerja.


"Hanya tiga bulan." tekan Bryan dan diangguki oleh Manika. kemudian mengusap lembut kepala Manika.

__ADS_1


__ADS_2