Bibit Bayaran

Bibit Bayaran
Sebuah Keputusan


__ADS_3

Niat Bryan yang ingin menginap di hotel dan akan langsung pergi berlibur gagal, saat mendapat kabar dari mama-nya kalau Cloe tiba-tiba saja demam tinggi. Tentu saja istrinya itu merengek padanya agar langsung pulang. Bryan merasa sedikit kesal, tapi kesehatan putrinya yang lebih utama untuk saat ini.


"Bagaimana Ma, keadaan Cloe?" tanya Manika begitu panik saat baru saja masuk ke dalam kamar Cloe. Terlihat Shakki tengah menjaga cucu-nya.


"Sudah mendingan, Sayang. Tadi juga sama dokter sudah dikasih sirup." jelas Shakki menenangkan menantunya. Lalu dia melihat ke arah sang putra dengan tatapan yang tajam.


"Kamu apakan menantuku?" tanya Shakki kesal pada putranya.


"Meneriakkan nama Bryan," jawab Bryan asal.


Emosi Shakki semakin tersulut setelah mendengar jawaban dari putranya. Kemudian Shakki melangkah mendekati Bryan, sedang Cloe sekarang berada di gendongan Manika.


"Kamu itu ya, nggak bisa apa jika nanti saja bikin dedek untuk Cloe?" Shakki begitu geram pada putranya. Langsung saja Shakki melayangkan cubitan demi cubitan pada Bryan.


Bryan hanya diam, tidak mau lagi membuat keributan dengan mama-nya. Kemudian dia melangkah mendekat ke tempat Manika yang tengah menggendong putrinya.

__ADS_1


"Bagaimana Sayang? Apa sudah reda demamnya? Apa perlu kita bawa ke dokter lagi?" tanya Bryan seraya menempelkan tangannya di kening Cloe.


"Udah mendingan sih, Mas. Kita tunggu besok, kalau masih demam baru kita bawa ke rumah sakit lagi," ucap Manika.


Kemudian Shakki keluar dari kamar cucu-nya. Membiarkan mereka yang menjaga Cloe malam ini.


Dua hari pun telah berlalu, Cloe pun juga sudah tidak demam. Selama Cloe sakit, Manika ijin tidak masuk kerja. Sebenarnya, Shakki juga sudah bilang kalau Manika sebaiknya di rumah saja dan fokus mengurus Cloe.


Namun, menantunya itu tetap keras kepala. Manika tetap keukeh ingin menyelesaikan masa kontraknya, baru risegn. Shakki pun akhirnya menyerah pada kemauan menantunya itu.


"Udah baikan anakmu, Ka?" tanya Gauri yang baru tiba. Manika menganggukkan kepalanya seraya merapikan meja kerjanya.


"Katakan saja, Ka," ucap Gauri yang mengerti maksud Manika. pasti ingin menanyakan statusnya dengan direktur mereka. Tebak Gauri.


Manika nampak ragu ingin menanyakan sesuatu pada Gauri. Ia memikirkan kata-kata yang pas. Setelah cukup lama diam, akhirnya Manika mulai membuka suaranya.

__ADS_1


"Menurutmu bagaimana kalau aku berhenti?" lirih Manika. Lalu melirik kearah Gauri yang berada di sampingnya.


Seketika tawa Gauri pecah setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Manika. Bagaimana bisa rekan kerjanya itu bertanya sesuatu yang begitu sepele, tapi terlihat takut saat mengatakannya.


"Iiihh... ditanya, juga. Malah ketawa kayak gitu," kesal Manika memukul pelan lengan rekan kerjanya itu.


"Hahaha... lagian kamu tuh aneh, Ka. Ngapain juga nanya ke aku. Harusnya kamu tuh nanya ke suami kamu, bukan malah ke aku." Gauri tidak bisa berhenti menertawakan sifat polos Manika.


"Aku, kan nggak mau pisah dari kamu, Ga." ucap Manika seraya mengedip-ngedipkan matanya. Dan hal itu membuat Gauri jengah menatap rekan kerjanya yang seperti itu.


"Apa suamimu keberatan kalau kamu bekerja?" Gauri begitu enggan untuk menyebutkan nama Bryan. Karena pasti pernikahan mereka juga disembunyikan.


Buktinya tidak ada yang tahu kalau Manika adalah istri dari direktur tempat mereka bekerja. Gauri juga tidak akan menanyakan hal itu pada Manika. Yang terpenting baginya, Manika bahagia sekarang dan Cloe juga dapat bertemu dengan ayah kandungnya.


"Mereka menyuruhku untuk fokus pada Cloe, Ga," jawab Manika yang terlihat begitu berat meninggalkan pekerjaannya.

__ADS_1


"Menurutku mending kamu turuti saja apa kata mereka deh," usul Gauri. "Cloe sudah kamu tinggal dari kecil. Ini saatnya kamu menikmati tumbuh kembang putrimu. Karena momen-momen seperti itu tidak akan terulang lagi, Ka. Bukannya kamu yang lebih tahu tentang itu?" lanjut Gauri.


Manika membenarkan apa yang dikatakan oleh Gauri. Dia tidak boleh egois hanya untuk menyelesaikan sisa kontraknya. Toh, ini adalah perusahaan suaminya sendiri. Meski berat, Manika tetap harus memprioritaskan Cloe lebih dulu.


__ADS_2