Bibit Bayaran

Bibit Bayaran
Awas Kalo Genit


__ADS_3

"Tubuhku merasa sangat kedinginan jika tidak memelukmu dalam tidurku," goda Bryan sambil tertawa melihat reaksi Manika yang melotot kepadanya. Selanjutnya suara tawa Bryan itu berubah sebuah pekikan kecil saat jemari lentik Manika mencubit pinggangnya dengan keras.


"My Princess....Mama jahat pada Daddy," adu Bryan kepada Cloe dengan menampilkan wajah yang begitu lucu. Sehingga membuat bayi perempuan itu tertawa, seraya kedua tangan mungilnya itu memukul-mukul wajah Daddy-nya.


Hari pun silih berganti. Manika menjalani kehidupannya sama seperti sebelumnya. Namun, kali ini ada yang berubah sedikit dalam hidup Manika. Setiap kali pulang berangkat dan pulang kerja, dia selalu di antar maupun di jemput oleh bos-nya sendiri. Siapa lagi kalau bukan Bryan, kekasih sekaligus ayah dari putrinya.


"Kita mau kemana dulu, Beib?" tanya Bryan saat mobil mereka keluar dari gerbang perusahaan Natakusuma Corp.


Meskipun sering berangkat dan pulang bareng, Manika tetap tidak mau terlihat berjalan berdampingan dengan Bryan. Dia merasa tidak nyaman jika menjadi pusat perhatian. Belum lagi para karyawan perempuan lain yang mengidolakan direktur baru mereka itu.

__ADS_1


"Kita mampir ke indoApril dulu, Mas. Stok bubur buat Cloe udah habis," jawab Manika seraya mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas.


"My Princess udah makan makanan pendamping ASI?" tanya Bryan menatap sekilas ke arah Manika dengan wajah yang terkejut. Pasalnya Cloe masih umur enam bulan. Dan Bryan tidak tahu jika bayi yang sudah berumur enam bulan boleh dikasih makan makanan pendamping ASI.


"Cloe, kan sudah umur enam bulan, Mas. Jadi sudah waktunya dia makan dan minum susu formula." jelas Manika.


Bryan terlihat terdiam sejenak. Mendengar kalau Cloe sudah mulai minum susu formula dan mulai bisa makan makanan pendamping ASI, seketika otaknya yang tak pernah disapu itupun bekerja dengan baik.


Bryan menggeleng ke arah Manika, lalu kembali fokus pada kemudinya. Sikap Bryan yang seperti itu, bukannya Manika tak tahu. Pasti pria mesum yang duduk di sampingnya itu sedang merencanakan sesuatu.

__ADS_1


"Mas nggak lagi merencanakan sesuatu yang aneh, kan?" tatap Manika curiga terhadap Bryan. Bryan hanya tersenyum tipis tanpa melihat ke arah Manika. Dan itu semakin menguatkan rasa curiga Manika terhadap Manika.


Semenjak memutuskan untuk saling terbuka satu sama lain, hubungan Manika dan Bryan semakin hangat. Mereka terkadang saling melempar sebuah candaan yang berujung membuat Manika cemberut. Pasalnya Bryan selalu punya sesuatu untuk membuat Manika kesal padanya. Dan hal itu sangat disukai oleh Bryan.


Sesampainya di indoApril, sebuah toko swalayan yang menyediakan hampir berbagai macam kebutuhan, Manika menggandeng tangan Bryan dengan sangat amat mesra saat memasuki toko tersebut. Membuat Bryan tersenyum senang melihat perubahan sikap Manika kepadanya yang begitu posesif.


Bukan tanpa alasan Manika bersikap seperti itu. Karena saat mereka masuk ke dalam toko, terlihat ada wanita yang begitu terang-terangan menatap Bryan dengan intens. Sampai-sampai wanita itu tidak sadar kalau mulutnya hampir meneteskan air liurnya.


"Mas nggak usah genit seperti itu!" ketus Manika, saat melihat Bryan melayangkan kedipan nakal kepada para wanita yang melihatnya.

__ADS_1


Bryan terkekeh lalu mengaduh kesakitan. Karena setelahnya Manika menghadiahi perut Bryan dengan cubitan panasnya.


"Awas aja kalau masih genit. Aku juga bisa seperti itu," bisik Manika tersirat makna sebuah ancaman yang mengerikan baginya.


__ADS_2