
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di dalam sebuah kamar seseorang perempuan yang tengah merasakan kebahagian yang sangat luar biasa di dalam hidupnya. Terlihat perempuan itu tengah tersenyum bahagia, sembari memeluk sang buah hati yang terlelap di dalam pelukannya.
Perempuan itu tidak tahu saja, jika pria yang baru saja menjadi tunangannya tersebut merasakan kegundahan yang sangat luar biasa. Kegundahan akan hatinya harus memilih siapa diantara mereka.
Berbeda dengan wanita yang baru saja bertemu dengan mantan kekasihnya itu. Dia merasa menyesal karena telah meninggalkan pria yang teramat dia cintai. Lalu wanita itu meyakinkan dirinya, kalau mantan kekasihnya masih memiliki rasa terhadap dirinya. Sehingga membuat bibir wanita itu tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman yang sangat sulit diartikan oleh siapa saja yang melihatnya. Hanya dia sendiri yang tahu.
Pagi ini, ada yang berbeda dari Bryan. Dia tidak menjemput Manika seperti yang biasa pria itu lakukan beberapa bulan terakhir ini. Padahal semalam pria itu sangat antusias saat melamar Manika, sebelum bertemu mantan kekasihnya.
Manika datang ke kantor menggunakan transportasi umum. Dia tidak menghubungi Bryan dan menanyakan kenapa pria itu tidak menjemputnya. Manika berpikir mungkin pria itu sedang ada sesuatu hal yang lebih penting dan tidak bisa dia tinggal.
__ADS_1
Sesampainya di gerbang perusahaan, tiba-tiba saja keadaan berubah hujan. Manika segera berlari sembari menutup kepalanya dengan tas yang tidak terlalu besar. Tas yang sering dia pakai untuk menaruh barang-barang keperluan dalam menunjang penampilannya sebagai resepsionis.
"Tumben berangkat sendiri? Sampai kehujanan, lagi." Gauri menyerahkan kain kecil dengan tekstur yang halus kepada Manika. Manika menerimanya tanpa menjawab pertanyaan dari rekan kerjanya tersebut.
"Kamu naik bus lagi?" tanya Gauri merasa masih penasaran dengan teman kerjanya ini. Karena bisanya Manika selalu berangkat dan pulang bareng bersama bos mereka.
"Iihhh... Kamu itu ditanya kok! Kenapa nggak bareng dia lagi?" tanya Gauri kesal kepada Manika karena tak kunjung menjawabnya. Dia juga semakin penasaran apa yang terjadi diantara mereka.
"Dia lagi sibuk mungkin, Ga. Kan kerjaan dia nggak cuman ngantar jemput aku doang. Kamu tau sendiri, kan?" tangan Manika begitu terampil mengaplikasikan lagi lipstik berwarna pink itu ke bibir ranumnya. Kemudian membenahi bulu matanya yang lentik, lalu melapisinya dengan maskara berwarna hitam.
__ADS_1
"Iya juga sih, ya! Kirain terjadi masalah diantara kalian berdua. Karena bisanya sesibuk apapun dia, pasti akan meluangkan waktunya untuk menjemput atau mengantarmu terlebih dulu," ucapan Gauri memang benar. Bryan selalu mementingkan dirinya terlebih dulu.
Manika juga merasa sedikit curiga, tapi dia mengusir rasa curiga nya itu dengan segera. Daripada mencurigai Bryan seperti ini, lebih baik dirinya menanyakannya lewat pesan singkat.
Manika mengeluarkan ponselnya, lalu mengetikkan sebuah pesan dan kemudian dikirim ke nomor pria yang sekarang menjadi tunangannya itu.
"Udah ah, jangan kepo lagi. Mending kita lanjut kerja," ucap Manika saat Gauri ingin mempertanyakan sesuatu lagi. Terlebih dia melihat cincin yang baru pertama kali Manika gunakan. Karena semenjak mereka menjadi rekan kerja, Manika tidak pernah terlihat menggunakan cincin. Dia hanya memakai jam tangan di pergelangan tangan sebelah kiri.
Mereka pun memulai aktivitas di pagi hari ini dengan disambut oleh hujan yang semakin lebat. Suasana dingin pun semakin menusuk ke tulang mereka. Namun, mereka tetap berusaha sesempurna mungkin dalam bekerja. Tidak melakukan kesalahan sekecil apapun itu.
__ADS_1