
"Namanya Casandra. Wanita yang pernah menjadi kekasih, bahkan tunangan ku, dulu. Wanita itu juga yang telah menggoreskan luka di hatiku terlalu dalam. Dan yang paling kamu harus tau, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun untuknya, Sayang. Perasaanku kini aku serahkan padamu seutuhnya. Eh! bukan, bukan. Hanya separuhnya," Bryan menggeleng seraya merapat ucapannya.
Deg!
Hati Manika kian terasa semakin sakit, saat suaminya bilang kalau perasaan untuknya hanya separuhnya. Tanpa disuruh, bulir bulir air matanya pun jatuh membasahi pipi mulusnya.
Sedikit kasar, Manika melepas tangan Bryan dari kedua pipinya. Ternyata dia salah telah mempercayakan hatinya untuk pria yang ada dihadapannya ini.
"Kamu tega, Mas," ucap Manika dengan air mata yang mengalir deras. Ia tidak bisa menutupi perasaannya dengan sempurna. Kali ini Manika tidak bisa untuk berpura-pura tegar seperti tadi. Dia terlihat sangat rapuh kali ini.
Dan Bryan merasa bersalah, karena candaannya sangat keterlaluan. Dia begitu panik saat Manika kerap kali menghempas tangannya disaat dirinya ingin meraih wajah cantik istrinya itu.
__ADS_1
"Sayang, dengerin dulu lanjutan dari kalimat ku," ujar Bryan saat berhasil menarik tubuh sang istri masuk ke dalam pelukannya.
Bryan memeluk dengan erat tubuh istrinya yang bergetar karena menangis. Ia semakin mengeratkan pelukannya, saya Manika mencoba lepas darinya.
"Aku kira, aku bisa mempercayakan hatiku padamu, Mas. Dan percaya, kalau kamu akan membuktikan indahnya sebuah pernikahan itu. Tapi apa yang aku dapat, Mas! Oke, aku bisa mengerti saat kamu dipeluk oleh wanita lain. Karena mungkin masih berat bagimu untuk langsung terlepas dari kehidupan masa lalu mu. Tapi kalau untuk masalah hati, aku tidak bisa membaginya. Dan aku hanya ingin memiliki kamu seutuhnya. Tubuh maupun hati kamu, Mas!" Manika mengungkapkan semua apa yang dirasa seraya memukul dada Bryan berkali-kali.
Bryan tersenyum mendengar semua itu. Dia membiarkan Manika memukulnya sampai puas. Ada rasa lega dihatinya saat mengetahui Manika sangat mencintai dirinya. Posisi mereka sekarang masih sama. Berada di dalam mobil yang terparkir di tempat parkir khusus di perusahaannya.
"Sayang... Dengerin baik-baik ya. Kamu memang menempati separuh hatiku, tapi bukannya aku akan menempatkan wanita lain untuk bersanding denganmu di dalam hatiku. Karena yang separuhnya lagi sudah ada yang punya," jelas Bryan membuat air mata Manika jatuh lagi.
"Kamu jahat, Mas! Jahat!" Manika kembali menangis histeris di pelukan Bryan. Membuat Bryan tidak bisa menahan tawanya.
__ADS_1
"Augh, sakit Sayang...," keluh Bryan saat mendapat beberapa cubitan dari Manika yang sangat keras di perutnya. "Dengerin dulu, jangan KDRT seperti ini," imbuhnya lagi seraya menangkap tangan Manika agar tidak memberinya cubitan lagi.
Bryan begitu gemas dengan sikap ibu dari anaknya ini. Sangking gemasnya, ia menarik ujung hidung Manika yang mancung itu.
"Aku tuh gemes tau, liat kamu seperti ini. Memang kamu udah se-cinta ini ya? sama aku, Sayang?" tanya Bryan dengan senyum jahilnya. Manika melayangkan cubitannya lagi ke perut suaminya.
"Ampun Sayang... Ampuunn...! Iya, iya. Aku nggak akan goda kamu lagi," ucap Bryan. "Yang separuhnya lagi itu Cloe, Sayang. Dia, kan juga perempuan. Masa iya, kamu cemburu sama anak kamu sendiri? Hahaha," akhirnya tawa Bryan pecah saat melihat wajah Manika yang berubah merah seperti tomat.
"Ngeselin, ih!" kesal Manika seraya melepas diri dari pelukan Bryan. Kemudian memalingkan wajahnya kearah jendela. Dia merasa sangat malu dengan sikapnya sendiri.
"Haha... Ya udah, yuk!" ucap Bryan tertawa kemudian menyalakan mesin mobilnya.
__ADS_1
"Hah? Kemana?" tanya Manika bingung. Pasalnya jam makan siang telah usai tiga puluh menit yang lalu.