
"Bry!" kaget orang tersebut dengan berkata lirih. Menatap tak percaya pada orang yang ada di hadapannya sekarang.
Orang yang selama ini ia rindukan. Namun ia tidak berani untuk menemuinya. Wanita itu menunduk malu, lalu melangkahkan kakinya cepat agar Bryan tak sampai mengejarnya.
Belum sampai ia berhasil kabur dari sana, Bryan lebih dulu mencekal tangannya dengan genggaman yang begitu erat. Sehingga dirinya tidak bisa kabur dari pria yang sangat dia rindukan.
"Cas," panggil Bryan lirih. Memastikan kalau perempuan yang tengah ia tangkap itu adalah Casandra, mantan kekasihnya.
"Maaf, anda salah orang." dalih Casandra dengan nada yang panik.
Casandra Haruna, seorang gadis berparas cantik namun tidak berlebihan dalam hal berpenampilan. Dia lebih suka berpenampilan sederhana dibandingkan seperti gadis jaman sekarang.
Tapi itu dulu, sebelum dirinya berpisah dengan Bryan. Penampilannya sekarang sangat berbanding terbalik dengan penampilannya yang dulu.
Kini penampilan Casandra bak wanita yang kekurangan bahan dalam hal berpakaian. Bahkan sampai membuat Bryan tak percaya dengan apa yang matanya tangkap malam ini.
"Kenapa penampilan mu jadi seperti ini? Apa yang terjadi padamu, Cas? Dan dimana anakmu itu?" Bryan memberondong berbagai pertanyaan untuk perempuan yang ia yakini sebagai Casandra, mantan kekasihnya.
__ADS_1
Casandra semakin gugup. Karena Bryan tidak mau melepaskan genggaman tangannya. Dia harus mencari cara agar bisa terlepas dari pria yang dulu ia sakiti.
"Maaf, Tuan. Anda salah orang," dalih Casandra kembali.
"Tidak! Kau adalah Casandra Haruna." gigih Bryan mempertahankan keyakinannya.
Casandra tak kuasa jika terus terusan berhadapan dengan Bryan seperti ini. Ingin sekali Casandra berhambur ke dalam dekapan pria yang sampai saat ini menempati di hatinya.
"Lepas, Bry!" akhirnya Casandra menyerah juga. Dia menghempaskan dengan kasar tangan Bryan hingga lepas.
"Kamu mau kemana dengan pakaian seperti ini? Ini sudah sangat larut, Cas." tanya Bryan. Ada nada khawatir di dalam perkataannya itu.
"Iya, aku tahu. Tapi ini sudah sangat larut, nggak baik kamu jalan sendiri dengan pakaian yang seperti ini," Bryan tak menyerah.
Meski sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, tapi dia tidak akan membiarkan terjadi sesuatu pada perempuan itu.
Casandra melangkah meninggalkan Bryan. Dia taku jika berlama-lama berada di dekat Bryan, dirinya tidak kuasa menahan keinginannya.
__ADS_1
Bryan tidak menyerah begitu saja. Biar bagaimanapun, perempuan itu pernah mengisi hari-hari indahnya bersama Casandra. Dan di relung hatinya yang paling dalam, nama perempuan itu masih ada.
"Aku antar." Bryan menarik tangan Casandra kembali dan melangkah menuju mobilnya.
Casandra menatap bingung ke arah Bryan yang kini duduk di kemudinya. Di dalam hatinya bertanya-tanya, apakah pria ini masih mencintainya? Terlihat dia begitu sangat khawatir padanya.
"Pakai ini, biar nggak kedinginan," Bryan mengambil jaketnya yang terletak di jok bagian belakang dan menyerahkan nya pada Casandra.
"Makasih," ucap Casandra. Ia semakin yakin kalau memang Bryan masih mencintai dirinya. Terbukti dia masih sangat perhatian terhadapnya.
Suasana menjadi sunyi seketika. Ada rasa canggung diantara mereka. Tidak bertemu sekian lama, dan dipertemukan lagi dengan keadaan seperti ini. Di tambah lagi Bryan sudah mempunyai seorang tunangan dan putri. Sementara Casandra masuk ke dalam kehidupan malam.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Bryan memecah kehilangan diantara mereka.
Casandra terkesiap mendapat pertanyaan seperti itu dari Bryan. Sudah sangat lama, dirinya tidak mendengar suara Bryan yang begitu lembut saat berbicara kepadanya. Seperti saat ini.
"Baik," jawab Casandra seraya tersenyum kearah Bryan. Bryan pun mengangguk pelan dan melemparkan sebuah senyuman yang sangat dirindukan oleh Casandra.
__ADS_1
Bolehkah dirinya beranggapan kalau Bryan-nya masih sama? Yang begitu sangat mencintainya.