Bibit Bayaran

Bibit Bayaran
Tanggung Jawab


__ADS_3

"Kenapa jomblo seperti kamu lebih mengerti tentang hal ini, sih?" kesal Manika karena merasa malu terhadap Gauri atas sikap kekanakannya.


Gauri ingin sekali tertawa keras, tapi dia begitu segan dengan sesosok orang yang masih setia berdiri di belakang Manika.


"Karena terlalu sering di selingkuhi, kali," jawab Gauri asal.


Kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju ke kantin meninggalkan Manika di belakangnya. Tak lupa pula dia menganggukkan kepala kepada orang yang berdiri di belakang Manika. Hal itu membuat Manika mengernyit heran.


"Ga! Tung--" langkah Manika terhenti saat ada tangan yang mencekal tangannya.


Sontak Manika terperanjat kaget saat tiba-tiba saja tangan itu melingkar di perutnya. Melihat hal itu, Manika tidak tinggal diam. Tangannya mengikut perut orang itu dengan sangat keras. Sehingga membuat orang itu mengaduh kesakitan.


"Aughh... Sayang, kamu kok kasar banget sih?" Manika segera membalikkan badannya saat mendengar suara orang yang sangat dia kenal.

__ADS_1


Sementara itu, banyak pasang mata yang menatap ke arahnya dengan tatapan aneh. Namun, Manika mengacuhkan itu.


"Mas! Eh, Pak Bry," Manika segera meralat panggilannya kepada Bryan.


Bryan meringis merasakan sisa-sisa rasa sakit diperutnya akibat sikutan dari sang istri terlalu keras. Dia menahan tawanya saat melihat ekspresi Manika begitu panik. Apalagi terlihat tangannya yang ragu ingin menyentuhnya.


Bryan sadar, kalau kini mereka tengah berada diantara keramaian para karyawannya yang ingin pergi ke kantin. Dengan sifat jahil bin mesum, Bryan ingin sekali menggoda istrinya.


"Kamu harus tanggung jawab," ucap Bryan langsung mendapat perhatian dari karyawan lain yang berada di sekitar mereka.


"Kamu telah menyakitiku. Jadi, kamu harus menyuapiku makan siang," jawab Bryan dengan senyum miring di bibirnya serta menatap nakal pada Manika.


Manika memutar bola matanya. Jengah melihat tingkah suaminya yang tidak profesional, menurutnya. Ia ingin sekali menolak, biar bagaimanapun hatinya masih sakit saat melihat Bryan dipeluk oleh wanita lain. Namun, dia juga harus bersikap profesional. Saat ini Bryan adalah atasannya dan juga tatapan dari karyawan lain membuatnya merasa tidak nyaman.

__ADS_1


"Hanya menyuapi saja, kan?" Manika memastikan kembali. Dan Bryan mengangguk penuh maksud.


Tidak ingin menjadi pusat perhatian, Manika segera berjalan terlebih dulu menuju kantin meninggalkan Bryan di belakangnya.


"Bapak mau makan apa?" tanya Manika. Kini mereka berada di kantin dan sedang memilih menu mana yang akan Bryan makan.


Kantin adalah satu tempat yang tidak pernah Bryan masuki. Tidak heran jika para karyawan yang berada di kantin begitu riyuh saat ini. Melihat direktur muda yang tengah mengekori pegawai resepsionis di perusahaan ini, membuat mereka menatap penasaran kearah Manika dan Bryan. Ada hubungan apa sebenarnya diantara mereka?


"Capcay, ayam crispy, sama prekedel kentang aja deh," Manika pun mengambil apa yang diucapkan oleh Bryan.


Dan ucapan Bryan membuat karyawan yang berada di dekatnya tercengang. Begitu sederhanakah direktur kita perihal makanan? Padahal dia orang kaya, loh! Begitulah kiranya isi pikiran mereka.


"Kamu nggak ngambil makanan juga?" tanya Bryan saat melihat Manika hanya membawa satu piring menuju ke tempat yang masih kosong. Lebih tepatnya mereka yang langsung memberi tempat untuk direktur mereka.

__ADS_1


"Mas-- eh! Bapak aja yang makan terlebih dulu. Saya nanti setelah Bapak selesai," ralat Manika kemudian mulai menyuapi Bryan.


__ADS_2