Bibit Bayaran

Bibit Bayaran
Kenyataan


__ADS_3

"Tapi kenapa kamu tidak pernah bilang, jika kamu direktur di perusahaan ini, Mas! Kenapa?" tanya Manika seraya melepaskan diri dari Bryan.


Bryan mencoba meraih tangan Manika kembali, akan tetapi Manika menghempaskan tangan Bryan begitu saja. Luka di hatinya karena merasa di bohongi oleh seorang laki-laki, masih begitu terasa perih.


"Baiklah. Aku minta maaf, jika aku salah," pasrah Bryan. Lebih baik dia mengalah daripada harus berdebat dengan perempuan, yang ujung-ujungnya lelaki tempatnya salah bagi kaum hawa.


Dengan lembut, Bryan melangkah mendekat ke tempat Manika berdiri. Tangannya menarik pelan tubuh wanitanya itu ke dalam pelukannya. Meski ada sedikit perlawanan, Bryan mampu mematahkan pendirian Manika.


Bryan mengusap lembut puncak kepala Manika. Mencoba meredakan amarah wanitanya tersebut. Dengan gerakan lembut dan sangat romantis, Bryan mengecup kening wanitanya yang berada di dalam dekapannya itu berkali-kali.


Hati Manika merasa tersentuh, mendapat perlakuan manis serta kelembutan sikap dari pria yang menjadi ayah dari putrinya tersebut. Sakit yang dirasa hatinya tadi, entah kenapa perlahan mulai mereda.

__ADS_1


Namun, air mata yang terlanjur mengalir dari pelupuk matanya tersebut tidak bisa ia hentikan begitu saja. Ia menangis meraung ke dalam dekapan pria bertubuh kekar itu. Rasa kecewa itu masih ada di hati Manika, tapi anehnya rasa sakit itu semakin menghilang ketika mendapat perlakuan lembut yang diberikan oleh Bryan berkali-kali.


"Udahan ya, nangis nya. Nanti dikira aku ngapa-ngapain kamu, pas kamu keluar dari ruangan ini," goda Bryan sembari mengusap air mata Manika yang membasahi pipi mulusnya itu.


Dan Manika pun langsung memukul lengan Bryan dengan wajah yang cemberut. Namun, Bryan tak hanya berhenti di situ saja. Dia kembali menggoda wanitanya tersebut.


"Meskipun aku ingin ngapa-ngapain kamu, sih! Pasti akan beda sensasi yang dihasilkan jika melakukannya disini," bisik Bryan menggoda Manika kembali. Seketika wajah Manika merona karena malu dengan ucapan absurd yang dilontarkan oleh Bryan.


Bryan semakin terkekeh melihat ekspresi yang ditampilkan oleh ibu dari anaknya tersebut. Begitu terlihat sangat menggemaskan, dan Bryan suka wajah Manika yang seperti itu.


Dan sikap Bryan selanjutnya membuat hati Manika bergetar. Pasalnya Bryan menarik wajahnya dengan lembut, lalu menempelkan kening mereka satu sama lain. Hingga ujung hidung mereka pun juga menempel.

__ADS_1


Bau mint yang menjadi ciri khas dari Bryan, sangat kuat tercium oleh hidung Manika. Mata Manika menatap ke bawah, tak mampu jika harus menatap mata Bryan dengan posisi yang seperti ini.


Bryan menghembuskan napasnya pelan. Matanya menatap lekat ke arah mata Manika, lalu turun beralih ke bibir wanitanya yang sangat terlihat menggoda di matanya. Kedua tangannya membingkai sempurna di wajah Manika.


Mereka terdiam untuk beberapa saat dalam posisi yang masih sama. Hingga wajah Manika terasa lebih panas dari sebelumnya.


"Dengar aku, Sayang," ucap Bryan menatap lekat mata Manika dengan hidung yang saling menempel.


Manika mencoba menatap mata Bryan dengan gerakan pelan. Deg! Hatinya bergetar saat mata mereka saling pandang. Saling bertukar gambar cerminan diri mereka, yang tertangkap oleh bola mata mereka masing-masing.


Bibir Manika terbuka sedikit. Ingin mengucapkan sepatah kata, tapi bibirnya tak mampu mengeluarkan suaranya. Dia cukup merasa gugup dengan ditatap seperti itu, serta posisi mereka yang terlihat sangat romantis.

__ADS_1


"Mulai sekarang, ceritakanlah apa yang ingin kamu ceritakan padaku. Dan aku pun akan sebaliknya. Mari kita lebih terbuka lagi ke depannya," kata Bryan dengan nada serius.


__ADS_2