Bibit Bayaran

Bibit Bayaran
Lebam


__ADS_3

"Tapi kamu menikmatinya, Sayang. Buktinya kamu menjeritkan namaku juga," jawab Bryan tersenyum seraya melempat kedipan nakalnya ke arah Manika.


Hal itu sukses membuat wajah Manika bersemu malu. Karena paa yang dikatakan oleh Bryan benar adanya.


Beberapa menit kemudian mobil yang mereka tumpangi sampai di plataran kediaman Natakusuma. Manika sedikit enggan saat akan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tersebut. Dia merasa sangat malu atas apa yang ia katakan tadi siang.


Namun, dengan penuh kelembutan Bryan meraih tangan Manika dan menggenggamnya erat. Seolah berkata semua akan baik-baik saja. Manika menganggukkan kepalanya pelan, lalu merek melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam kediaman Natakusuma.


Mereka tidak menemukan adanya penghuni rumah tersebut di ruangan itu. Lalu Bryan berjalan menuju kamar Ayumna yang berada di rumah ini. Diikuti Manika yang berjalan di belakangnya.


Terlihat dua orang paruh baya saling melingkarkan tangan mereka. Disisi tengah mereka ada seorang bayi perempuan yang begitu menggemaskan. Bryan tidak tega membangunkan mereka. Begitu juga dengan Manika yang tidak enak hati jika harus membuat orang tua Bryan terjaga kembali.


"Ambil Cloe dengan pelan, Mas. Aku harus segera pulang." ucap Manika yang dimengerti oleh Bryan. Karena tadi pagi Bryan meminta ijin kepada neneknya, untuk membawa Manika hanya sampai jam delapan malam. Tidak lebih.

__ADS_1


Dengan pelan dan penuh kelembutan, Bryan mencoba mengangkat tubuh gembul Cloe tanpa membuatnya bangun. Bryan membawa Cloe keluar dari kamar itu lalu memberikan kepada Manika.


"Dia sangat mirip denganku. Apa kau tidak menyadarinya?" ucap Bryan tiba-tiba seraya mengusap pelan kepala Cloe yang masih terlelap di gendongan Manika.


"Aku baru menyadari itu, jika kalian sedang berdekatan." balas Manika kemudian mengecup lembut kening putrinya.


Kemudian Bryan mengantar Manika pilang ke rumahnya. Meskipun berat melepas mereka, akan tetapi Bryan akan sedikit lebih bersabar untuk hari berkumpulnya mereka nanti. Karena dia harus membicarakan hal ini dengan kedua orang tuanya dan juga orang tua Manika.


Keesokan harinya, Manika bekerja seperti biasa. Dia hampir terlambat datang ke perusahaan, karena baru sadar begitu banyak jejak karya yang dibuat oleh Bryan di leher jenjang milik Manika kemarin.


Tumben temannya itu datang dengan wajah yang ditekuk. Penampilannya juga sangat aneh. Saat ini sedang musim kemarau, tapi apa yang digunakan oleh Manika sangatlah aneh dan mengganggu pemandangan.


Bagaimana tidak aneh, jika saat ini Manika mengenakan syal yang melingkar di leher jenjangnya. Karena rasa penasaran Gauri sangatlah tinggi. Ditambah Manika yang tidak menjawab pertanyaannya, dengan tingkat kepo yang sangat tinggi, Gauri melangkah mendekat ke tempat dimana Manika berdiri.

__ADS_1


Tanpa Manika sadari, Gauri mengangkat tangannya dan membuka kain yang menutupi leher teman kerjanya tersebut. Apa yang dilihat oleh mata kepala Gauri sendiri, membuatnya memekik tertahan. Karena kini keadaan loby sangat ramai dengan pegawai yang baru datang.


"Ni-nika...a-apakah kamu siluman seekor macan?" tanya Gauri dengan suara lirih, tapi juga dengan nada ketakutan.


Pertanyaan Gauri sukses membuat Manika membungkam mulut temannya itu dengan kedua telapak tangannya. Bisa-bisa semua orang akan tahu jejak di lehernya.


"Sshhtt!!! Kamu bisa diam nggak? Bisa-bisa semua orang akan menatap kearah kita," ucap Manika kemudian menurunkan tangannya dari mulut Gauri.


"Aku kaget saja. Kulit lehermu yang putih mulus itu kok banyak sekali bekas lebam-lebam. Seperti motif yang ada di tubuh macan tutul," celetuk Gauri membuat Manika tersipu malu.


Tidak mungkin Manika menceritakan kejadian yang sebenarnya terhadap rekan kerjanya tersebut. Bisa-bisa dirinya akan disemprot habis-habisan oleh temannya yang paling cerewet kepadanya.


Kemudian mereka melanjutkan pekerjaan mereka. Manika tetap tidak melepas syal yang melingkar di lehernya. Padahal sebum berangkat tadi, dia sudah memakai foundation pada bekas gigitan dari Bryan tersebut. Namun, sangking banyaknya jejak itu sehingga foundation yang dia punya tidaklah cukup. Mau beli juga waktunya sudah mepet untuk berangkat kerja.

__ADS_1


"Pagi Mbak," sapa seorang pemuda yang berpenampilan kharismatik dan hal itu mampu mengagetkan mereka berdua. Terutama Manika.


__ADS_2