
Di pagi harinya Manika dibuat cukup kesal oleh tindakan Bryan semalam. Pria yang baru menyandang sebagai suaminya tersebut, hampir tidak membiarkan dirinya untuk istirahat lebih cepat. Seperti biasa, seolah tidak ada kata puas dalam diri pria itu dalam hal menikmati tubuhnya.
"Stop, Mas!" pinta Manika dengan suara tinggi.
Saat ini mereka tengah berada di sisi yang berbeda dengan sofa yang menghalangi jarak diantara mereka. Manika terlihat tersengal-sengal napasnya, karena sedari tadi berusaha menghindar dari kejaran sang suami.
"Aku bilang stop, Mas!" pekik Manika kembali saat Bryan mulai bergerak dari tempatnya berdiri.
"Ayolah, Sayang... Sebentar saja," rengek Bryan ketika mendapat penolakan dari sang istri berkali-kali.
"Aku capek, Mas. Semalam kita sudah melakukannya lebih dari cukup!" bukannya Manika tidak mau melayani sang suami, tapi tubuhnya tak memungkinkan untuknya kembali melakukan hal itu lagi. Lagian ini juga sudah hampir waktunya sarapan.
__ADS_1
"Sebentar saja, Sayang," ucap Bryan kembali dengan tatapan memohon kepada Manika. Posisi mereka tidak berubah sama sekali. Mereka saling berhadapan dengan sofa yang memisahkan jarak mereka.
"Tapi ini sudah waktunya Cloe untuk sarapan paginya, Mas," Manika berusaha mencari alasan yang tepat. Dan memang ini waktunya untuk menyuapi Cloe. Karena putrinya itu sekarang sudah tidak meminum ASI-nya lagi.
"Kan sudah ada Mama, Sayang. Pasti Mama tidak akan membiarkan cucu cantiknya itu kelaparan," jelas Bryan. Dia masih tidak menyerah untuk melakukan negosiasi dengan sang istri demi kesejahteraan miliknya.
"Sebentar saja lho, Sayang. Kali ini tidak akan memakan waktu lama," bujuk Bryan dengan tatapan memelas pada Manik. "Apa kamu tidak kasihan padanya, menahan siksa sedari tadi," tunjuk Bryan melihat ke barang miliknya yang membuat Manika meneriakkan namanya semalaman.
Manika nampak bimbang. Dia merasa bersalah jika membiarkan Bryan menahan rasa sakit pada 'itu' nya. Nampak ragu, Manika pun akhirnya menyerah. Dia melangkah mendekat ke arah sang suami. Dan hal itu berhasil membuat bibir Bryan tertarik ke atas menyunggingkan sebuah senyuman tipis, yang tanpa Manika sadari.
Tanpa menunggu lama, Bryan langsung menarik pinggang ramping sang istri dan membawanya ke ranjang mereka. Mereka mengulang kembali kegiatan panas mereka seperti tadi malam.
__ADS_1
Sedang diruang makan suasana berubah menjadi ramai karena suara ocehan dari cucu cantik keluarga Natakusuma. Batita itu terlihat sangat gembira pagi ini. Arya dan Shakki nampak tak henti-hentinya menggoda sang cucu. Beberapa asisten rumah itupun juga nampak senang.
Suasana yang biasa sepi, kini berubah hidup lagi karena adanya seorang batita yang sangat menggemaskan. Tak berapa lama, terlihat pasangan pengantin baru itu mulai melangkah menuruni anak tangga dengan berjalan beriringan menuju ruang makan.
Shakki melihat ada yang aneh pada wajah sang menantu. Ada yang beda kali ini. Tidak seperti biasanya yang menampakkan wajah ceria, dengan senyum yang tak luntur dari bibir manis Manika.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Shakki begitu penasaran. Menelisik setiap inci ekspresi Manika.
"Ah, nggak apa-apa Ma," jawab Shakki gugup. Berusaha menutup rasa kesalnya kepada sang suami.
Shakki berjalan mendekati Manika, membuat Manika semakin gugup. Mata mertuanya itu menelisik tajam kearahnya. Memutari tubuhnya seakan ada bagian tubuh Manika yang hilang.
__ADS_1
Shakki tersenyum lalu menganggukkan pelan kepalanya. Kini dia mengerti kenapa wajah sang menantu tidak cerah seperti biasanya. Ternyata semua itu karena tindakan putranya sendiri. Shakki melihat ada tanda memar kemerahan di leher bagian belakang Manika. Dan juga dia menemukan tanda seperti itu lagi tepat dibawah telinga sang menantu.
"Oohh... Jadi suamimu penyebabnya?" Shakki menganggu juga nggak mengerti. Mendengar itu wajah Manika langsung terasa panas. Dia menundukkan kepalanya karena malu.