
Bryan turun dari mobil, kemudian berjalan dengan tergesa-gesa menuju sebuah rumah yang terbilang sangat kecil. Lalu membuka pintunya dengan kasar dan melangkahkan kakinya masuk lebih dalam lagi dari bagian rumah tersebut.
Sebelum dia berangkat tadi pagi, ada sebuah notif yang masuk di ponsel miliknya. Matanya membola dan ekspresi wajahnya berubah panik seketika, setelah membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Tanpa berpikir panjang Bryan langsung menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas nakas, samping tempat tidurnya. Tak lupa pula mengambil jas yang tergeletak di atas tempat tidur, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
Di dalam perjalanan menuju rumah kontrakan Casandra, wajah Bryan terlihat begitu panik dan sangat khawatir. Karena di pesan yang ia terima, Casandra mengatakan butuh pertolongannya segera. Sampai Bryan lupa untuk mengabari Manika, kalau dia tidak bisa menjemput tunangannya tersebut.
"Cas!" pekik Bryan khawatir melihat Casandra yang terduduk di lantai dengan tangan yang memegang perutnya.
Dengan cekatan Bryan membantu Casandra untuk berdiri, lalu membaringkan tubuh perempuan itu ke tempat tidurnya. Dengan menumpuk beberapa bantal untuk Casandra bersandar.
"Apa yang terjadi, Cas" tanya Bryan begitu lembut dan tersirat nada khawatir di dalam pertanyaannya.
Melihat itu, diam-diam bibir Casandra tertarik ke atas. Membentuk sebuah senyuman yang sangat tipis, tanpa terlihat oleh Bryan. Apa yang dia yakini semalam setelah diantar pulang oleh Bryan, benar adanya. Nyatanya pria yang menjadi mantan kekasihnya itu, sekarang ada di sampingnya setelah dia mengirim sebuah pesan singkat.
__ADS_1
"Mungkin penyakit maag ku kambuh," ucap Casandra sembari tangannya memegang bagian perutnya.
Bryan tahu, kalau memang dari dulu Casandra memiliki penyakit maag. Karena perempuan itu selalu tak teratur dalam hal jam makannya.
"Dimana obatnya?" tanya Bryan kemudian mencarinya di laci yang terletak di samping tempat tidur Casandra.
Bryan melangkah keluar menuju dapur, mengambilkan air putih untuk Casandra. Bryan memberikan obat kepada Casandra bersamaan dengan gelas yang berisikan air putih.
"Makasih," ucap Casandra memberikan gelas tersebut kepada Bryan.
"Untuk saat ini, cukup sampai di sini saja." gumam Casandra tersenyum, melihat kepergian Bryan dari rumahnya.
Dia tidak akan melepaskan Bryan untuk kedua kalinya kali ini. Seperti apa yang pernah ia lakukan dulu. Ia sudah mempunyai rencana untuk menaklukkan kembali hati Bryan.
__ADS_1
Bryan melajukan mobilnya membelah ke jalanan yang mulai ramai. Dengan kecepatan di atas rata-rata, tak sampai lima belas menit mobil yang Bryan kemudikan sampai di perusahaan Natakusuma Corp.
Berjalan dengan langkah besar, sampainya di depan meja resepsionis, Bryan menganggukkan pelan kepalanya ke arah Manika dan Gauri. Lalu Bryan melanjutkan langkahnya menuju ruangan direktur berada, tanpa menyapa Manika terlebih dulu.
Ada rasa nyeri di dada Manika saat melihat perubahan sikap Bryan yang begitu cepat. Bahkan Bryan tidak membalas pesan singkatnya yang ia kirim tadi pagi. Manika menggeleng, mengusir pikiran buruknya mengenai perubahan sikap Bryan. Dia berencana akan menanyakan langsung nanti pada jam istirahat.
Gauri melihat ada perubahan pada sikap mereka, hanya bisa menghela napas. Dia tidak mau terlalu ikut campur lebih dalam lagi masalah Manika dan bos-nya tersebut.
Tak terasa, jam makan siang pun datang. Lantas Manika segera mengirim pesan kepada Bryan. Alih-alih menanyakan tentang perubahan sikap pria itu kepadanya, Manika lebih memilih mengajak pria itu untuk makan bareng.
Manika
Mas, ayo makan bareng di cafetaria di depan sana. Aku tunggu di sana ya?
__ADS_1
Bryan mengambil ponselnya yang terletak di atas meja, setelah mendengar ada notif yang masuk fi ponselnya. Ia lantas langsung membuka isi pesan tersebut dan membacanya.
"****!" Rasa bersalah seketika hadir saat membaca pesan dari Manika. Dia melupakan tunangannya itu tadi pagi. Dengan gerakan cepat, Bryan melangkah menuju pintu ruangannya dan pergi menemui Manika yang kini menunggunya di sana.