
"Mas-- eh! Bapak aja yang makan terlebih dulu. Saya nanti setelah Bapak selesai," ralat Manika kemudian mulai menyuapi Bryan.
Bryan tersenyum melihat istrinya yang segera meralat panggilan untuknya. Manika terlihat begitu menggemaskan saat panik seperti itu. Bryan menerima suap demi suap dari tangan sang istri sambil menikmati wajah sang istri yang menunduk.
"Mas, jangan melihatku seperti itu. Nanti ada yang curiga sama kita," lirih Manika memperingatkan Bryan.
Bryan tersenyum dan menatap lebih intens lagi kepada wanita yang duduk di depannya ini.
"Bagaimana bisa aku memalingkan pandanganku, jika ada bidadari yang kelewat cantik sedang duduk di depanku," ucap Bryan dengan tersenyum lembut.
Membuat orang yang mendengar ucapannya menganga tak percaya. Bagaimana bisa direktur mereka berkata hal yang begitu romantis di tempat umum. Apalagi orang yang ditatapnya termasuk pegawai biasa seperti mereka.
Manika memalingkan wajahnya kearah yang lain, karena malu dengan kalimat yang diucapkan suaminya. Ingin sekali tangannya itu mencubit pinggang Bryan. Agar tidak ngelantur lagi omongannya.
"Apa-an sih, Mas. Lagian sejak kapan suka ngegombal," lirih Manika seraya menatap kesal pada Bryan.
__ADS_1
"Emang kamu beneran kelewat cantik, Say--" Bryan belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Manika sudah memotongnya terlebih dulu.
"Pak!" tanpa sadar Manika memekik terlalu keras, sehingga beberapa orang menatap mereka.
"Maaf, saya permisi lebih dulu, Pak," pamit Manika tidak mau menjadi bahan gosip lebih lama lagi. Karena sedari tadi dirinya mendengar beberapa orang membicarakan dirinya yang tengah dekat dengan direktur mereka.
Namun, sikap Bryan justru menambah gosip itu semakin berkembang. Pasalnya kini tangan Manika digenggamnya begitu lembut dan mengajak Manika pergi dari sana. Mereka berjalan beriringan meninggalkan kantin.
Bryan berjalan sembari menggandeng tangan Manika. Membawa wanitanya itu menuju mobilnya yang berada di tempat parkiran khusus.
Bryan tersenyum lalu menggenggam tangan istrinya kembali dengan lembut, saat dirinya sudah sempurna mendudukkan tubuhnya di tempat kemudinya.
"Panggil aku seperti biasanya saja, Sayang," ucap Bryan menatap lembut Manika. Namun, Manika menggeleng tidak setuju.
"Kita sedang berada di kantor, Pak," jawab Manika dengan nada sedikit ketus. Dia tiba-tiba merasa kesal saat mengingat Bryan dipeluk oleh wanita lain.
__ADS_1
"Aku berencana akan memperjelas status kita, agar tidak ada kesalahan-kesalahan yang akan membuatmu membenciku seperti sekarang ini," ujar Bryan dengan
Manika mengalihkan pandangannya, tapi dengan gerakan cepat Bryan meraih dagu Manika dan diarahkan untuk menghadapnya kembali.
"Sayang, aku belum selesai bicara," ada yang beda dengan Bryan kali ini. Sedari tadi dia berkata dengan nada lembut. Sangat lembut.
Manika memang tidak mempermasalahkan masa lalu Bryan. Karena dirinya juga mempunyai masa lalu yang tidak patut dibanggakan. Tapi, dia bukan wanita yang tabah dan sabar jika melihat suaminya dipeluk oleh wanita lain. Hatinya terasa perih, sakit, tapi tak berdarah.
"Apa kamu tidak penasaran, siapa wanita yang memelukku tadi?" Bryan tersenyum melihat wajah Manika yang cemberut. "Apa kamu tidak cemburu, Sayang?" goda Bryan dengan tatapan jahilnya.
"Enggak!" jawab Manika dengan ketus. Ia mencoba memalingkan wajahnya ke arah yang lain, tapi dengan segera Bryan cegah.
Bryan menangkup wajah Manika dengan kedua telapak tangannya. Memposisikan tubuhnya menghadap ke Manika sepenuhnya. Senyuman manis di bibir Bryan tak memudar sedari tadi, saat mengetahui bahwa istrinya itu sedang cemburu.
"Yakin, tidak cemburu? Hmm?" goda Bryan lagi, semakin membuat Manika bertambah kesal. Dan Bryan sangat menyukai wajah istrinya yang kesal kepadanya.
__ADS_1