
Setelah melakukan pergulatan yang membuat siapapun candu, ingin mengulangnya lagi dan lagi. Kini mereka Mulai melangkah menuju mobil milik Bryan yang terparkir rapi di tempat yang sudah di sediakan.
Wajah sumringah Bryan tidak pernah memudar. Aura bahagia serta kelegaan terlihat sangat kentara di wajahnya yang tampan. Serta penampilannya kini terlihat lebih segar dari biasanya.
Dia berjalan seraya menggandeng mesra tangan seorang perempuan yang berada disisi kirinya dengan begitu lembut. Namun, wajah yang ditampilkan oleh perempuan itu sangatlah berbanding terbalik dari apa yang ditampilkan oleh wajah Bryan.
"Kamu kenapa, Sayang? Apa masih belum puas?" tanya Bryan melihat wajah Manika yang murung.
Manika mendengus kesal kepada Bryan. Bagaimana tidak kesal, mereka melakukan itu hampir tiga jam lamanya. Seolah tidak ada kata puas dalam diri Bryan. Sampai-sampai kaki Manika lemas dibuatnya.
Dan yang paling membuat Manika bertambah kesal terhadap Bryan adalah ketika dirinya dipaksa main di atas tubuh lelaki bertubuh kekar tersebut. Malu sekaligus ngilu yang ia rasa bercampur menjadi satu.
__ADS_1
Seolah tidak mengenal lelah, saat Manika bersusah payah berjalan menuju kamar mandi yang terdapat di kamar milik Bryan, lalu mulai membersihkan dirinya. Tanpa permisi, Bryan kembali menyerangnya dengan posisi berdiri. Posisi yang sangat memberatkan bagi Manika. Posisi yang dengan gampangnya membuat lututnya semakin lemas.
Manika tak bergeming dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Bryan. Dia melepas tangannya dari tangan Bryan dan langsung menuju mobil milik lelaki itu.
Bryan tersenyum tipis melihat sikap Manika yang merajuk padanya akibat ulahnya tadi. Bryan tahu, kini wanitanya itu sangat kesal padanya. Namun, apalah daya jika hasrat tidak segera ia tuntaskan, dia sendiri yang akan menanggungnya. Dan Bryan tidak ingin melewatkan kesempatan yang sangat langka ini baginya.
Satu tahun lamanya dia tidak memproduksi kembali benih yang ada di dalam tubuhnya, dan ini saatnya dia harus memperbarui itu semua. Pikir Bryan.
"Sayang...," panggil Bryan dengan nada mesra ketika dia masuk ke dalam mobilnya. Menoleh sebentar ke arah Manika yang masih memasang wajah cemberutnya, lalu mulai menyalakan mesin mobilnya.
Manika menatap ke arah luar jendela mobil. Dia begitu kesal sekaligus malu. Bisa-bisanya dia terbuai akan sentuhan Bryan berkali-kali. Manika merutuki kebodohannya sendiri.
__ADS_1
"Aku mau pulang," ucap Manika setelah mendiamkan Bryan begitu lama.
"Iya, aku tau kamu capek dan kamu butuh waktu untuk segera beristirahat," jawab Bryan seraya melempar senyum jahilnya ke arah Manika ketika wanitanya itu menatap ke arahnya. "Tapi kita jemput Cloe dulu di rumah." lanjut Bryan.
"Astaga! Ini sudah lewat waktunya Cloe minum Asi!" ucap Manika panik.
Begitu bodohnya Manika sempat melupakan untuk memberi ASI terhadap putri kecilnya tersebut. Dia benar-benar sudah dibuat gila oleh lelaki berbahaya yang duduk di kemudi saat ini.
"Tenang, Sayang. Aya udah ngasih dia formula, dan sekarang Cloe sudah terlelap di samping Mama," ujar Bryan mencoba menenangkan Manika.
Saat Manika tengah beberes, Bryan menghubungi adiknya dan menanyakan keadaan Cloe. Ayumna memberi tahu nya jika Cloe baru saja tidur dengan Oma-nya. Meski tadi sedikit rewel mungkin karena lapar, tapi Ayumna sudah mengatasi hal tersebut.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara kamu, Mas!" ucap Manika menyalahkan Bryan. Ternyata rasa kesal itu belumlah hilang dari diri Manika.