
Semua orang pun telah membagi tugasnya. Erlangga yang kebetulan bersama Langit pun juga ikut membantu mencari keberadaan istrinya Bryan. Sementara itu di rumah sakit keadaan sedikit mencengkam. Karena sampai sekarang Bryan belum juga sadar. Padahal empat jam sudah berlalu dari Langit menemukan Bryan yang tak sadarkan diri di jalan.
Terlihat Arya dan Shakki pun ada di sana. Arya curiga kenapa mobil putranya belum juga menyusul mereka ke bandara, karena mobil Arya yang datang lebih dulu. Merasa ada yang janggal, Arya menyuruh anak buahnya untuk menyusul Bryan.
Setelah sampai di persimpangan jalan menuju bandara, anak buah Arya bertemu dengan Samuel yang sedang mengevakuasi mobil Bryan, serta menghilangkan jejak terjadinya perkelahian di TKP. Karena banyaknya tetesan darah, entah itu dari Bryan atau orang yang mengeroyoknya.
Langit tidak mau melibatkan polisi kali ini. Karena kalau sampai Dirga tahu apa yang terjadi dengan anak angkatnya, pria tua itu bisa saja berbuat lebih nekat lagi. Langit tidak mau ada banyak korban lagi karena kebrutalan pamannya itu.
"Bagaimana Dev?" tanya Langit saat mengangkat telpon dari Devan.
"Dia ada di pinggiran kota. Dekat bar milik Ayumna," jawab Devan dari seberang sana.
__ADS_1
"Awasi terus jangan sampai lengah. Lo jangan jauh-jauh dari Franky, karena gue nggak mau nantinya digebukin sama Barbie devil-nya si Erlan, kalau dia tahu gue ngasih lo pekerjaan kayak gini lagi," ingat Langit akan keselamatan Devan. Karena ilmu beladiri Devan masih di bawah Franky. Devan lebih mahir menggunakan senjata api.
Setelah berkata seperti itu, Langit memasukkan ponselnya ke saku celana. Dia dapat melihat tatapan mengejek dari Erlangga yang mendengar obrolan mereka barusan.
"Segitu takutnya lo sama adik gue," ledek Erlangga. Kini mereka berada di depan ruangan Bryan dirawat.
"Gue nggak takut, cuman ngeri aja. Cewek yang terlihat cantik dan lemah lembut seperti Nisha, bisa berubah wujud jadi malaikat pencabut nyawa. Pantes aja Devan jauhin dia sekarang." elak Langit.
"Sudah, sudah! Jangan ribut seperti ini," Arya datang dan melerai bibit percekcokan yang akan terjadi pada Langit dan Erlangga. "Lebih baik temuin Bryan dan bilangin kalau istrinya nggak selamat. Biar cepet bangun dari tidurnya, dia," usul Arya.
Arya baru kembali dari ruangan dokter yang menangani Bryan. Dokter mengatakan kalau sebaiknya pasien terus diajak bicara dengan hal positif. Merangsang otak Bryan melalui kata demi kata yang dapat membantunya cepat sadar.
__ADS_1
Kemudian munculah ide seperti itu. Karena Arya tahu, putranya itu sangatlah mencintai Manika. Dia sendiri juga sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan sang menantu, tapi sampai sekarang belum mendapat kabar.
"Devan sudah menemukan keberadaan Nika, Pa." ucap Langit tahu akan kegelisahan mertuanya.
"Dimana Nika, Lang?" tanya Arya penuh harapan.
"Dekat dengan bar milik Aya, Pa," jawab Langit.
"Kalau begitu hubungi Om Adi. Suruh dia mengerahkan anak buahnya untuk mengawasi tempat dimana Nika berada. Pastikan keselamatan Nika." perintah Arya.
Kemudian Arya menghubungi anak buahnya dan menyuruhnya ke pinggiran kota ini. Setelah itu mereka bertiga masuk ke dalam ruangan Bryan dirawat. Di sana sudah ada Shakki dan Ayumna yang menemani Bryan. Sementara para bocil mereka titipkan pada pengasuh yang berada di kediaman Natakusuma.
__ADS_1