Bibit Bayaran

Bibit Bayaran
Kamu....


__ADS_3

Bryan memeluk Manika dengan sangat erat. Dia berjanji di dalam hatinya, kalau dia akan benar-benar membahagiakan Manika dan sang putri. Dia akan berusaha keras agar tidak goyah, meskipun akan ada orang dari masa lalunya yang datang.


Dunia seakan milik mereka berdua malam ini. Sehingga melupakan keberadaan keluarga mereka yang kini tengah melangkah mendekat ke arah mereka. Bahkan keluarga Natakusuma pun ikut serta hadir.


"Mau sampai kapan pelukan terus?" tanya Shakki mengagetkan keduanya.


Manika terkesiap kaget, lalu menundukkan kepalanya. Ia merasa sangat malu kepergok oleh keluarga Bryan. Apalagi dengan posisi mereka yang tengah berpelukan.


Berbeda dengan Bryan. Dia malah menarik tubuh Manika lagi agar tetap berada disisinya. Bryan sangat menyukai melihat wajah Manika yang tersipu seperti saat ini.


"Apa sih, Ma. Kan bentar lagi juga udah sah." jawab Bryan tanpa ada rasa malu sedikitpun.


"Emang Mama merestui?" tanya Shakki. Membuat Manika mengangkat kepalanya seketika.

__ADS_1


Reaksi Manika yang seperti itu membuat semua orang tertawa, termasuk mama dan neneknya sendiri.


"Tenang, Sayang. Mama malah bersyukur dan berterimakasih kepadamu, karena mau menerima anak bandel Mama. Apalagi dikasih bonus cucu secantik ini. Ya nggak, Pa?" ucap Shakki seraya menggoda cucu perempuannya.


"Lalu kapan kalian akan melaksanakan pernikahan?" tanya Ayumna sangat penasaran. "Nggak usah lama-lama, nanti ditikung orang." tambahnya lagi. Menggoda sang kakak. Karena Ayumna tahu, sejujurnya kakaknya itu sudah ada rasa pada Manika. Tapi enggan untuk mengatakannya.


"Terserah maunya Nika, saja. Kakak mah nurut aja," jawab Bryan menatap Manika. Namun Manika tak bergeming sama sekali. Dia masih belum mempunyai tanggal yang pasti kapan dia akan siap menikah.


Mereka semua tercengang mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Arya. Bagaimana bisa seorang Arya Natakusuma, mengatakan hal seperti itu dengan wajah datar nya. Dan merasa tidak ada yang salah dengan kalimat yang dia ucapkan.


"Boleh juga tuh saran Papa. Bikin adiknya Cloe dulu," timpal Bryan yang langsung mendapat cubitan dari Manika. Tak beda jauh dengan apa yang Manika lakukan pada Bryan, Shakki pun juga melakukan hal yang sama kepada suaminya, Arya.


"Ma, malu dengan calon besan kita," protes Arya dengan suara sengaja dikeraskan.

__ADS_1


Sontak hal itu membuat semua orang yang berada di sana tertawa, melihat tingkah dua orang yang tak muda lagi tersebut. Suasana pun berubah semakin rame yang dihiasi dengan suara canda dan tawa dari mereka. Saling melempar godaan terhadap dua orang yang tengah berbahagia itu.


Dibalik keceriaan yang terpancar dari wajah Bryan, sebenarnya ada sesuatu yang mengganggunya semenjak satu minggu yang lalu. Karena sesuatu tersebut, memutuskan Bryan untuk mengambil sikap yang cepat dan tepat.


Dia tidak mau sampai menyakiti Manika. Maka dari itu, untuk hal yang satu itu Bryan tidak bercerita pada Manika. Dia akan menyelesaikannya sendiri tanpa harus ada yang tau.


Acara itupun akhirnya berakhir sampai pukul sembilan malam. Dengan keadaan Cloe yang sudah terlelap. Sebelum dirinya pulang, Bryan mengantarkan Manika dan keluarganya pulang terlebih dulu.


"Sampai besok, Calon Istri," goda Bryan pada Manika saat dia berpamitan. Karena sikap Bryan yang seperti itu, berhasil membuat wajah Manika blushing seketika.


Kemudian Bryan melajukan mobilnya, membelah jalanan yang mulai sepi oleh pengendara yang lewat. Fokus Bryan teralihkan pada seseorang, saat mobilnya berhenti di lampu merah.


"Kamu...," Bryan terkejut melihat penampilan orang yang mampu mengalihkan fokusnya dari kemudinya.

__ADS_1


__ADS_2