Bibit Bayaran

Bibit Bayaran
Menikahlah Denganku


__ADS_3

"Mas, kamu nggak salah restoran, kan?" tanya Manika. Bryan menggeleng dengan senyum yang tak pernah pudar di bibirnya.


"Enggak kok. Ya udah. Yuk, masuk!" jawab Bryan kemudian membukakan pintu untuk Manika.


Setelah keluar dari dalam mobil, Annyra mengambil alih sang cucu dari putrinya. Dia tahu apa yang direncanakan oleh Bryan. Karena sebelumnya Bryan meminta ijin pada Annyra dan Dahruslia terlebih dahulu. Bryan ingin meminta restu kepada kedua perempuan yang paling berarti di dalam hidup wanitanya tersebut.


Annyra dan Dahruslia sangat terharu, saat Bryan mendatangi mereka tanpa sepengetahuan Manika. Awalnya Annyra sempat tak percaya jika Bryan ingin menikahi Manika, soalnya dia tahu kalau diantara mereka tidak ada cinta dan hubungan mereka diawali dengan hal yang menurutnya tidak baik. Sehingga menghasilkan Cloe.


Namun, Bryan meyakinkan Annyra, kalau dia benar-benar bersungguh-sungguh ingin memulai biduk rumah tangga dengan Manika. Annyra tidak bisa berkata apa-apa lagi, setelah melihat kesungguhan pria itu dalam meluluhkan hati putrinya.


Terlihat hamparan kelopak bunga mawar merah yang tergeletak begitu banyaknya di jalan yang mereka lalui. Mata Manika berkali-kali mengerjap tak percaya, melihat tempat yang begitu indah dengan suasana sangat romantis seperti saat ini.


Dengan cahaya lampu yang remang-remang. Serta begitu banyaknya lilin-lilin kecil yang menerangi di kedua sisi jalan yang mereka lewati. Menambah kesan romantis yang begitu dalam.

__ADS_1


Bryan menggenggam lebih tangan Manika, melangkahkan kaki mereka melewati hamparan kelopak bunga yang entah menghabiskan berapa tangkai.


Tangan Manika membelai lembut aneka jenis bunga mawar yang tertata rapi di samping kiri dan kanan jalan yang mereka lewati. Dia benar-benar takjub akan tempat ini.


"Mas, kita beneran nggak salah tempat, kan?" tanya Manika memastikan sekali lagi. Karena tempat ini kini terlihat seperti bukan restoran biasa.


"Enggak," jawab Bryan tersenyum lembut kearah Manika yang tak henti-hentinya mengagumi tempat yang sudah ia sulap sedemikian rupa, agar terlihat romantis seperti saat ini.


"Tapi sepertinya tempat ini sudah dipesan oleh seseorang, Mas. Terlihat dari dekornya seperti jalan yang kita lewati sekarang ini," Manika merasa ada yang aneh. Wajahnya nampak ragu untuk melanjutkan langkahnya ke depan.


"Lihat saja ke depan, Sayang. Dan nikmati pemandangan yang begitu indah ini. Kamu suka, kan?" tanya Bryan. Membuat Manika semakin curiga.


"Tapi Mas--" Bryan segera menutup bibir Manika dengan menempelkan jari telunjuknya. Kemudian menggeleng pelan kepada Manika. Mengisyaratkan agar Manika diam dan mengikuti langkahnya.

__ADS_1


Semakin masuk ke dalam, suasana di restoran ini semakin membuat Manika tidak percaya. Terlihat ujung jalan yang mereka lewati, ada sebuah kelopak bunga mawar merah yang berbentuk hati. Serta di dalam lingkaran berbentuk hati tersebut ada dua buah kursi dan meja beserta isinya. Tidak lupa pula lilin bertingkat, yang melengkapi suasana malam ini begitu romantis.


"Mas...," Manika menatap tak percaya dengan apa yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri. Seumur hidupnya, baru kali ini dia mengalami hal begitu romantis.


Matanya berkaca-kaca menatap Bryan. Bryan tersenyum lalu tangannya terangkat untuk membelai lembut pipi wanitanya itu.


"Apa kau suka tempat makan malam kita?" tanya Bryan dengan nada lembut.


"Kita?" tanya Manika bingung. Lalu menoleh ke belakang. Tidak ada mama dan neneknya. Entah sejak kapan mereka menghilang. Dirinya terlalu terhanyut dengan suasana malam ini.


Bryan menarik kursi untuk Manika. Manika begitu tersentuh dengan perlakuan Bryan terhadapnya yang begitu lembut. Lalu Manika pun menduduki kursi itu.


Bukannya duduk di kursi depan Manika, Bryan malah berjongkok tepat di hadapannya dengan satu lututnya yang tertumpu pada lantai. Membuat Manika terkesiap kaget.

__ADS_1


"Mas, kamu ngapain dibawah seperti itu?" Manika mencoba menarik bahu Bryan agar pria itu berdiri kembali. Namun, Bryan tak bergeming.


"Will you marry, Me?" ucap Bryan menatap serius pada manik mata Manika. Serta menengadahkan satu tangannya yang terdapat sebuah cincin berlian.


__ADS_2