
"Aku akan menemanimu malam ini." putus Tisha. Dan Samuel tahu jika gadis itu sudah berkata seperti itu, maka kaan sulit untuk dia goyahkan.
"Saya mohon, jangan mempersulit posisi saya, Nona. Bagaiman jika Tuan Dirga tau kalau Nona berada di satu ruangan dengan seorang pria?" Samuel cukup kehabisan akal setiap kali menghadapi gadis yang mempunyai sifat keras kepala seperti Tuan besarnya.
"Palingan Ayah akan meledakkan kepala pria itu," jawab Tisha asal.
"Bagaimana jika itu berlaku kepadaku juga, Nona?" geram Samuel. Kepalanya semakin terasa sakit.
"Kamu tenang aja, Mas. Karena aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi padamu," ucap Tisha dengan senyuman paling manisnya, seraya mengedip-ngedipkan matanya tepat di depan wajah Samuel. Namun, hal itu tidak mampu menggetarkan hati Samuel.
Tidak berselang lama dari perdebatan mereka, pintu ruangan tempat Samuel dirawat pun terbuka. Masuklah sepasang suami istri yang tidak muda lagi. Membuat Samuel menghela napasnya.
"Sayang, kenapa kamu malah memilih mengobati dia dulu, daripada Ayahmu sendiri," protes Dirga saat mengetahui putrinya yang masih menempelkan plester di lengan Samuel.
Samuel bangun dari duduknya dan segera berdiri, tapi segera di tahan oleh Tisha. Gadis itu memberi isyarat agar Samuel tetap duduk di tempatnya.
__ADS_1
"Sayang, Ayah juga terluka," rajuk Dirga seraya menekan bagian dadanya.
"Ayah, kan ada Mama. Kalau Kak Samuel nggak ada siapa-siapa yang bantu ngobatin lukanya," elak Tisha.
Dirga menatap Samuel dengan tatapan penuh permusuhan. Melalui tatapan matanya itu, Dirga mengancam Samuel. Dan seolah Samuel mengerti akan tatapan dari bos besarnya. Kau telah merebut putriku, dariku. Bersiap-siaplah kehilangan kepalamu. Begitulah kiranya ancaman Dirga yang dapat Samuel tangkap.
Sementara, dokter Ayu memutar matanya jengah melihat sikap suaminya yang terlalu posesif terhadap putri semata wayang mereka.
Hari pun silih berganti. Dua minggu sudah terlewati. Dan sekarang Bryan diperbolehkan untuk pulang. Kondisi Manika pun juga berangsur membaik.
Di dalam sebuah kamar, ada sepasang suami istri yang tengah menikmati dinginnya malam ini. Mereka saling menatap dalam diam. Menikmati keindahan yang terpahat dengan sempurna di wajah lawannya.
"Sayang...," panggil Bryan dengan begitu mesra.
"Iya, Mas," jawab Manika tak kalah lembut dengan suaminya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau malam ini? Mumpung Cloe sudah tidur," pintanya tanpa basa basi terlebih dulu.
"Kondisimu belum pulih dengan sempurna, Mas. Puasa sedikit lebih lama dulu, ya?" bujuk Manika. Karena memang kaki Bryan belum sembuh total. Bahkan sampai saat ini kakinya masih mengenakan gips.
"Yang bekerja, kan 'ini' ku, Sayang. Bukan kakiku," Bryan tetap melakukan negosiasi dengan sang istri.
Jika di malam-malam sebelumnya dia bisa menahannya, tapi tidak dengan malam ini. Entah mengapa keinginannya untuk melakukan 'itu' sangatlah besar.
"Tapi, Mas...," Manika merasa kasihan dengan suaminya. Tapu ia sedikit ragu jika melakukannya sekarang. Karena Bryan tidak bisa bergerak dengan leluasa.
"Kamu yang di atas, Sayang," bisik Bryan dengan ide jahilnya. Pikirannya terlalu liar saat ini. Hanya membayangkan Manika yang memegang kendali, seketika miliknya langsung merespon.
"Enggak," tolak Manika. Dia merasa cukup malu jika dia yang memimpin.
"Kamu nggak kasihan sama dia?" tunjuk Bryan dengan tatapan memohon nya pada Manika.
__ADS_1
Benar saja, alat penabur benih itu sudah siap untuk diajak bercocok tanam. Lantas, Manika hanya bisa pasrah. Membuang rasa malunya demi memenuhi kebutuhan rohani sang suami.
Pasangan suami istri itupun menikmati malam mereka dengan penuh saling memburu. Karena memang sudah lama mereka menunda untuk melakukan itu. Mereka melakukannya tanpa suara yang saling bersahutan seperti yang biasa mereka lakukan. Karena ada putri mereka yang tengah tidur tidak jauh dati tempat mereka berdua.