Bibit Bayaran

Bibit Bayaran
Jangan Dipaksa


__ADS_3

Mendengar itu semua, membuat Bryan bangun dari tidurnya. Meski badannya masih terasa sakit, Bryan memaksakan diri untuk bangun. Ayumna yang melihat kakaknya, segera menghampiri dan membantu Bryan untuk duduk.


"Kalau masih sakit, jangan dipaksa, Kak." ingat Ayumna. Ia tahu kalau kakaknya itu pasti juga ingin ikut mereka. Namun, kondisi kaki Bryan yang tak memungkinkan untuk ikut.


"Kakak masih kuat, Ay." ucap Bryan seraya menurunkan kakinya yabg sebelah kiri.


Hal yang dilakukan oleh Bryan membuat semua orang menatapnya khawatir. Mereka tahu kalau Bryan tidak akan bisa di tahan.


"Bry mau ikut ke sana, Yah," ucapnya.


"Kamu masih sakit, Sayang. Biarkan semua kita serahkan pada Langit dan Ayah Dirga." Shakki menghampiri putranya berusaha untuk mencegah Bryan.


"Tapi Nika membutuhkan Bryan saat ini, Ma. Dia pasti ketakutan sekarang," Bryan tetap keukeh dengan keinginannya.


Bryan merintis kesakitan saat menurunkan kakinya yang mengalami patah tulang bagian bawah. Namun, rasa sakit itu tidak mengurungkan niatnya untuk menyelamatkan sang istri.

__ADS_1


"Apa kau yakin, Boy?" tanya Arya memastikan. Bryan mengangguk mantab. "Dengan kondisimu yang seperti ini, apa yang bisa kau berbuat nanti?" lanjut Arya kembali.


Arya tidak mau nanti putranya merasa sebagai lelaki yang tidak berguna di depan istrinya. Karena tidak bisa berbuat apa-apa dengan kondisinya sekarang.


"Bukankah kau nanti akan menjadi beban bagi yabg lain? Karena kamulah tujuan mereka," tambah Dirga.


"Tapi Nika istriku, Yah!" pekik Bryan membenarkan perkataan kedua papa-nya.


Lalu, Bryan mencoba berdiri tanpa mau menerima bantuan dari Ayumna. Dengan menahan rasa sakit yang teramat sangat, Bryan mampu berdiri sendiri. Membuktikan pada semua keluarganya kalau dia bisa tahan.


Dia berencana akan meminta ijin pada sang dokter untuk membolehkan kakaknya keluar sebentar saja. Karena ada keadaan yang darurat. Dan Ayumna bilang kalau ini menyangkut nyawa seseorang.


Awalnya sang dokter tidak mengijinkan, tetapi setelah mendengar alasannya, akhirnya dokter Heru pun mengijinkannya. Dengan syarat Bryan tidak boleh berada di luar lebih dari delapan jam.


Sebelum Bryan keluar, dokter Heru menyuntikkan obat pereda nyeri dibagian kaki Bryan yang mengalami patah tulang.

__ADS_1


"Ingat pesan saya, Tuan. Anda tidak boleh berada diluar lebih dari delapan jam. Jika Anda tidak mengisahkan ucapan saya, maka anda akan kehilangan fungsi kaki anda yang sebelah." jelas dokter Heru pada Bryan.


"Baik, Dok. Akan saya ingat. Terimakasih," ucap Bryan. Dokter Heru mengangguk lalu meninggalkan ruang rawat yang di tempati Bryan.


Tanpa menunggu lama, mereka pun bergegas keluar dari rumah sakit menuju mobil mereka yang terparkir di depan rumah sakit. Ada Samuel yang sudah berdiri di samping mobil dan beberapa orang bertubuh kekar dengan pakaian yang serba hitam.


"Sorry, gue nggak bisa ikut, Lang. Istri gue lebih butuh gue disaat-saat seperti ini," ucap Erlangga merasa tak enak. Tapi istrinya lah yang lebih penting saat ini. Karena HPL Yutasha dalam minggu-minggu ini.


"Iya, gue ngerti kok. Apalagi ini kelahiran anak pertama kalian. Dia lebih butuh lo untuk berada di sampingnya sekarang," Langit mengerti kegelisahan Erlangga.


Karena dia juga pernah mengalami masa-masa yang mencengangkan dan bersejarah bagi sang istri. Masa dimana seorang ibu yang akan mempertaruhkan nyawa mereka untuk melahirkan sang buah hati.


"Salam untuk Yuta, ya Mas," ucap Ayumna yang berdiri di samping suaminya.


Erlangga mengangguk lalu berpamitan kepada seluruh keluarga Langit. Kemudian Erlangga masuk ke dalam mobilnya sendiri dan melajukannya menuju bandara.

__ADS_1


Tentu saja, di belakang mobilnya ada dua mobil pengawal yang setia mengikutinya kemanapun pemuda milyader itu pergi. Pengalaman yang dulu pernah menimpa istrinya, menjadikan Erlangga untuk selalu bersikap waspada.


__ADS_2