Bibit Bayaran

Bibit Bayaran
Negosiasi


__ADS_3

Bryan mulai menggoda tubuh Manika. Dia menyesap apapun yang dilewati oleh bibirnya. Setelah puas dengan area leher, yang merupakan tempat paling sensitif bagi Manika. Kini Bryan turun ke bawah, menatap sejenak dua gundukan yang masih terbungkus oleh kain.


Tangannya meremas pelan salah satu gundukan tersebut, lalu dengan cepat melepas kain penghalang yang menutupi indahnya bentuk benda itu. Begitu bulat, kencang dan berisi.


Jika tidak ingat akan Cloe, Bryan sudah melahap habis puncak dari benda tersebut seperti yang ia lakukan satu tahun yang lalu. Kini, yang bisa Bryan lakukan hanyalah memberi jejak lebih banyak lagi di bagian benda tersebut.


Puas menggoda bagian atas tubuh Manika, Bryan mulai mengarahkan tangannya yang bebas turun ke bawah. Dengan gerakan lembut, tangan Bryan meraba perut Manika. Merabanya sedikit lama yang menimbulkan rasa geli pada tubuh Manika.


Lalu tanpa Manika duga, tangan Bryan mengarah ke bawah. Mengarah ke bagian pribadinya. Tangan Bryan menelusup ke dalam celananya dan mulai menyentuhkan jari jemarinya di bagian bibir bawahnya.


Manika wanita normal. Wanita yang akan terbuai jika bibir bawahnya digoda seperti sekarang ini. Ada rasa rindu yang Manika rasakan akan sebuah sentuhan seperti ini.

__ADS_1


Mungkin, karena dulu Manika dalam kondisi mabuk berat dan tidak bisa mengingatnya. Tapi, tubuh Manika masih mengingat dengan jelas sentuhan demi sentuhan yang Bryan berikan padanya.


"Emmhh!" Manika mencoba untuk tidak mengeluarkan suaranya ketika tanpa aba-aba Bryan memasukkan jemarinya ke dalam bibir bawahnya. Tidak hanya satu, tapi dua jari sekaligus.


Ingin rasanya Manika menahan jari jemari nakal milik Bryan, yang saat ini menggodanya di bawah sana. Namun, apalah daya jika kedua tangannya masih dikunci erat oleh tangan Bryan.


Bibir Bryan terangkat membentuk sebuah senyuman kemenangan, saat matanya melihat ekspresi wajah Manika yang memerah menahan sesuatu. Gerakan bulu lentik mata Manika begitu menggodanya. Manika tak henti-hentinya mengerjapkan matanya ketika jari Bryan bergerak sedikit lebih cepat.


"Apa, Sayang? Kau menginginkan apa? Katakan. Aku akan melakukan semuanya untukmu?" tanya Bryan sambil menusukkan jemarinya lebih dalam lagi. Menggoda bagian terdalam yang bisa di jangkau oleh ujung jemarinya. Dan itu membuat wajah Manika memerah serta mengerjakan beberapa kali matanya dengan bibir terbuka.


Manika tak bisa menjawab pertanyaan Bryan, pikirannya semakin melambung tinggi ketika pria itu lagi dan lagi menggodanya lebih intens. Jemari pria yang sedang menatapnya dengan senyuman menyebalkan di bibirnya itu, kini bergerak semakin cepat dan semakin dalam. Membuat tubuhnya tidak kuat menahan gejolak yang ingin keluar dari dalam tubuhnya.

__ADS_1


"Mas...," rintih Manika lagi. Dengan tatapan memohon sesuatu kepada Bryan.


Dan Bryan tau apa yang diingkan oleh wanitanya tersebut. Namun, dengan sengaja Bryan ingin menggodanya lebih lama lagi dan akan memberikan sesuatu yang diinginkan oleh Manika jika negosiasinya berhasil.


Tangan Manika mencoba meraih bahu Bryan, tapi Bryan menjauh dari jangkauan tangan Manika. Membuat wajah wanitanya itu cemberut kesal dengan raut yang begitu menggoda iman Bryan. Namun, dirinya harus bersabar sebentar lagi.


"Menikahlah denganku, Sayang. Jika ingin aku menyelesaikan ini untukmu," ucap Bryan menghentikan gerakan jemarinya di dalam sana. Dan hanya sesekali menggerakkan jemarinya hanya untuk menggoda Manika.


"Enggak bisa, Mas," jawab Manika seraya menggelengkan kepalanya cepat.


Lalu dengan gerakan sedikit kasar, Bryan menggerakkan jemarinya di bawah sana. Lebih cepat dan semakin kasar. Namun, itu malah membuat Manika tak kuasa menahan sesuatu yang ingin keluar. Akan tetapi saat dia ingin mencapai puncak, Bryan menghentikan pergerakan jemarinya. Tentu saja hal itu membuat Manika kesal.

__ADS_1


"Bagaimana? Masih tidak mau menikah denganku? Hmm?" goda Bryan lagi. Dan Bryan melakukan itu berkali-kali sampai Manika menyerah dan setuju dengan apa yang ditawarkan oleh Bryan.


__ADS_2