Bibit Bayaran

Bibit Bayaran
Jangan Menunda Lagi


__ADS_3

Jawaban Dirga membuat semua orang tercengang, terutama Bryan. Bagaimana bisa pria tua itu berkata seperti itu pada pasien yang baru sadar.


"Dasar! Pria tua gila. Sana pergi!" geram Shakki kembali memukul kepala Dirga. "Bisa-bisanya berkata seperti itu pada putraku yang baru sadar!" lanjutnya lagi.


"Bercanda, Sha. Biar dia cepat sadar dan menolong istrinya," cengir Dirga seraya mengusap kepalanya yang terasa sakit. "Ar! Kenapa istrimu semakin tua semakin bar-bar, sih! Untung aku udah nggak cinta lagi sama dia," dan kalimat terakhir yang Dirga ucapkan bagai bumerang baginya. Kini Shakki melayangkan pukulan demi pukulan kepada sahabatnya itu.


Erlangga menggelengkan kepala melihat tingkah setiap orang yang berada di keluarga Langit. Begitu unik dan bar-bar. Seketika dia ingat istrinya yang masih tinggal di Jember. Erlangga berada di ibu kota sekarang ini karena ada urusan bisnis dengan Langit dan mengharuskan dirinya yang hadir sendiri.


Wajah Bryan berubah menjadi sendu saat mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Bagaimana dirinya melihat sang istri ditarik paksa oleh dua orang agar masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Yah...," lirih Bryan. Dirga semakin mendekatkan wajahnya dan menajamkan pendengarannya. "Selamatkan istri Bryan apapun yang terjadi," lanjut Bryan dengan suara yang lemah.


Bryan mencoba meraih tangan Dirga dan Dirga segera menyambut tangan Bryan.


"Kamu tenang saja, Boy. Ayah pastikan orang yang membuat kalian seperti ini, tidak akan bisa hidup dengan tenang. Bahkan kalau boleh, akan Ayah lenyapkan mereka dari dunia ini." kata Bryan. Shakki melotot tak setuju dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Dirga. Namun, Dirga tak menghiraukan tatapan Shakki.


Mereka telah memilih lawan yang salah kali ini. Meski Bryan bukan anak kandungnya, tapi kasih sayang Dirga kepada Bryan itu tulus adanya. Dan Dirga tidak akan diam saja, anak angkatnya itu dibuat tak berdaya seperti ini.


"Devan dan Franky berada disekitar gedung yang digunakan untuk menyekap Nika. Mereka belum mengetahui pasti siapa pelakunya, karena mereka tidak mau mengambil resiko akan keselamatan Nika, jika mereka langsung menyerang," Langit mengambil napas, lalu melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Kalau menurut Franky, pelaku sebenarnya mengincar Bryan. Namun mereka menggunakan Nika sebagai umpan. Melihat dari rekaman video yang terdapat dari mobil Bryan. Sama halnya dengan kasus istrinya Elo." tunjuk Langit pada Erlangga yang juga masih berada di sana dengan dagunya.


"Kalau begitu mending kita langsung kesana saja, Lang. Daripada terjadi sesuatu yang tidak kita harapkan pada istrinya Bryan," sahut Erlangga memberi saran. Karena dia sendiri juga masih was-was dengan kejadian yang menimpa istrinya dulu. "Kurasa yang ngelakuin ini orang terdekat dari kalian," lanjutnya lagi.


Perkataan Erlangga dibenarkan oleh semua orang. Karena musuh yang paling berbahaya adalah orang terdekat mereka sendiri. Bahkan saudara pun bisa menjadi musuh jika berada dalam keadaan terdesak.


"Baiklah, kalau begitu jangan menunda waktu lagi," ucap Dirga lalu beranjak dari duduknya. Tangannya merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya.


Setelah nada sambungnya tersambung, Dirga mulai berbicara. "Sayang, aku ada urusan mendesak malam ini. Maaf, aku tidak bisa pulang dan menghangatkan tubuhmu malam ini. Jaga dirimu baik-baik, jangan merindukanku." ucap Dirga pada sang istri lalu memutuskan sambungan telpon mereka.

__ADS_1


"Udah tua juga, masih aja yang dipikirkan begituan," cibir Shakki.


"Itu nutrisi wajib, Sha." ucap Dirga seraya mengedipkan sebelah matanya. Membuat Shakki jengah menatap pria tua yang tidak ingat umur tersebut.


__ADS_2