
Berita itupun akhirnya sampai ke telinga Dirga. Dengan penuh amarah, Dirga langsung pergi ke rumah sakit dimana Bryan dirawat. Dia tidak membawa dokter Ayu bersamanya, takut jika istrinya itu melihat dirinya yang murka.
BRAAAKK!!
Dirga membuka pintu ruang rawat Bryan dengan kasar. Sontak semua Irang yang tengah berusaha membangunkan Bryan pun menoleh ke asal suara.
Arya menatap jengah dengan sikap sahabatnya yang tidak bisa mengontrol emosi. Sementara Langit menepuk jidat nya. Inilah yang ditakutkan olehnya sedari tadi. Sedangkan Erlangga menatap bingung, siapa pria paruh baya yang baru datang itu.
"Siapa yang berani melakukan ini pada putraku?" tanya Dirga dengan suara lantang.
Shakki yang geram pun melangkah mendekati pria tua yang selalu lupa akan tempat dan umur. Tanpa basa basi terlebih dulu atau menjawab pertanyaan Dirga, Shakki langsung memukul kepala Dirga dengan sangat kencang. Hingga kepala Dirga sampai menunduk ke bawah.
"Apa kau sudah gila! Kau tidak lihat ini dimana?" geram Shakki tertahan. Menatap tajam kearah Dirga.
__ADS_1
Bagaimana bisa pria tua itu bersikap kasar seperti tadi, sedang mereka berada di rumah sakit.
Dirga mengusap kepalanya yang dipukul oleh Shakki. "Aku hanya khawatir sama putraku, Sha. Siapa yang berani melakukan ini padanya?" kini suara Dirga lebih lirih dari yang tadi.
"Memangnya aku tidak khawatir? Dia juga putraku!" tekan Shakki pada kalimatnya.
Shakki ingin sekali memukul Dirga yang sikapnya tidak bisa berubah meskipun mereka sudah tua. Arya segera melerai pertengkaran yang tak berfaedah itu. Ayumna mendekati Erlangga yang menatap penuh tanda tanya.
"Pria itu namanya Om Dirga. Dia Ayah angkat Kak Bryan dan juga sahabat kedua orang tuaku. Dia juga merupakan Om-nya Mas Langit." jelas Ayumna pada Erlangga. Erlangga kemudian mengangguk paham.
"Boy," panggil Dirga dengan nada lirih. Dirga duduk disisi kanan Bryan. "Apa kau akan selamanya tidur? Apa kau tidak ingin menyelamatkan istrimu? Kalau memang tidak mau dengan Nika, aku akan menyuruh Samuel untuk menikahinya." ucap Dirga tepat di dekat telinga Bryan, seraya menekankan kalimat terakhirnya.
Ucapan Dirga membuat semua menatap pada pria paruh baya yang masih terlihat bugar diusianya. Sementara Dirga hanya bersikap cuek seraya melihat reaksi Bryan.
__ADS_1
Entah karena ucapan dari Dirga atau kuasa dari Author. Eh, kuasa dari sang pemilik kehidupan maksudnya. Bryan mulai mengerjakan matanya dengan pelan, tangannya pun juga bergerak begitu pelan.
Dirga yang berada paling dekat dengannya, segera meraih tangan Bryan. Ia genggam tangan yang masih lemas itu dengan begitu erat namun juga lembut. Seolah pria tua itu sedang menyalurkan kekuatannya pada pria yang tengah terbaring lemah di atas brankar.
"Boy... Kamu bisa dengar suara Ayah?" tanya Dirga penuh harap bahwa tidak akan terjadi apa-apa dengan ingatan Bryan. Sementara kaki Bryan yang sebelah kanan mengalami patah tulang. Sehingga mengharuskan untuk di pasang gips.
Bryan lebih lebar lagi membuka matanya. Ia mengamati ke sekelilingnya. Sejak kapan dirinya berada di ruangan yang serba putih ini. Lalu samar-samar terdengar suara tangisan dari mama-nya dan adiknya, Ayumna. Terdengar mereka sedang mengucap syukur kepada sang pemberi kehidupan.
"Boy... Apa ada yang sakit?" tanya Dirga kembali. Bryan menoleh kesamping kanannya, ia dapat melihat wajah ayah-nya yang terlihat begitu khawatir menatap dirinya.
Bryan menggeleng pelan, kemudian menatap orang yang berada di ruangan itu secara bergantian.
"Apa kau mencari istrimu?" tanya Dirga tahu siapa yang sedang dicari oleh Bryan. Bryan menganggukkan kepalanya pelan. Menatap lekat mata Dirga, menunggu jawaban dari semua kegelisahannya.
__ADS_1
"Dia sudah aku nikahkan sama Samuel," kata Dirga asal dengan wajah yang santai.