Bibit Bayaran

Bibit Bayaran
Bagaimana Keadaanmu?


__ADS_3

Bryan semakin erat merengkuh tubuh sang istri. Air matanya pun tak kuasa ia cegah. Mengalir begitu saja tanpa meminta ijin terlebih dulu.


"Mereka sudah menyentuh ku," lirih Manika disela isak tangisnya. Tangannya gemetar kala mengingat kejadian yang menimpa dirinya beberapa jam yang lalu.


"Enggak, Sayang. Mereka nggak sampai merenggut kehormatan mu. Karena aku datang tepat waktu," jelas Bryan sembari tangannya mengusap penuh kasih kepala Manika. Menyibakkan rambut yang menutupi wajah cantik sang istri.


Manika mendongakkan wajahnya, meminta penjelasan apa yang baru saja ia dengar. Benarkah orang-orang keji itu tidak sampai menyentuh kehormatannya? Bryan menganggukkan kepalanya pelan, seolah tahu apa yang ditanyakan Manika melalui sorot mata yang sendu tersebut.


"Iya, Sayang," yakin Bryan sekali lagi. "Maafkan aku, Sayang. Karena aku, kamu mengalami hal seperti ini," sesal Bryan yang tidak bisa melindungi istrinya dengan baik.


Manika menggeleng, lalu memeluk suaminya kembali. Ia tidak menyesal telah memilih Bryan sebagai suaminya. Justru karena Bryan lah dirinya mengerti akan kasih sayang yang tulus dari seseorang.


"Ya sudah, kalau begitu kami keluar dulu, kalian segera istirahatlah." pamit Annyra kemudian diikuti semua orang yang juga ikut keluar. Membiarkan sepasang suami istri itu berdua.


Setelah kepergian anggota keluarganya, Manika membantu Bryan untuk berpindah ke brankar pasien miliknya. Karena memang kini kaki kanan Bryan benar-benar harus beristirahat, agar cepat pulih dan normal seperti semula.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kakimu, Mas?" tanya Manika. Tangannya menjulur mengusap kaki Bryan dengan sangat hati-hati.


"Nggak apa-apa, Sayang. Nggak ada yang harus dikhawatirkan. Palingan baru bisa normal kembali dua bulan," jelas Bryan. "Tapi kalo untuk diajak kerjasama membuatkan Cloe adik, masih bisa kok Sayang," bisik Bryan dengan kalimat absurdnya. Tentu saja Manika langsung melayangkan sebuah cubitan di lengan Bryan.


"Kamu kok bisa-bisanya sih, Mas. Disaat seperti ini malah mikirin begituan," kesal Manika dengan wajah cemberutnya.


Bryan tersenyum tipis, setidaknya dengan dia bersikap seperti biasa, bisa membuat Manika melupakan kejadian yang barusan menimpa mereka dengan cepat. Meski ia tahu, besar kemungkinan hal itu akan membuat Manika trauma. Bryan akan melakukan apa saja, untuk kebahagian orang tercintanya.


Sementara itu, di ruangan yang tidak jauh dari ruangan Bryan dan Manika. Terlihat seorang gadis yang memisahkan diri dari orang tuanya. Gadis itu berjalan mengendap, memasuki sebuah ruangan yang ia tahu siapa pasien di dalamnya.


Ya, gadis yang secara diam-diam masuk ke dalam ruangan pasien yang bernama Samuel itu, ialah Tisha Adisha Bagaskara. Putri dari Dirga Bagaskara dan Ayu Adhisa.


"Kenapa Nona masuk ke sini? Bagaiman jika ada orang yang tau?" tanya Samuel dengan nada datar, tapi tersirat kekhawatiran.


"Justru itu yang aku inginkan," ucap Tisha dengan senyuman penuh arti.

__ADS_1


"Jangan membuat orang salah paham, Nona. Lebih baik Nona segeralah keluar dari ruangan ini," ingat Samuel kembali.


Namun, gadis itu malah semakin mendekat ke arahnya. Lalu kemudian duduk di pinggir tempat tidur pasien tanpa canggung sedikitpun.


"Bagaimana kamu tidak bisa menjaga dirimu sendiri, Mas? Kok bisa sampai terluka begini?" keluh Tisha. Ia memeriksa lengan Samuel yang terdapat luka-luka sayatan dari benda tajam.


Memang waktu itu Samuel sedikit lengah, sehingga menyebabkan dirinya terluka. Tapi sebenarnya tidak terlalu parah. Hanya saja Dirga yang terlalu lebay menanggapi luka Samuel.


Samuel diam tidak menjawab pertanyaan dari putri majikannya itu. Agar gadis itu tidak nyaman berada di dekatnya.


"Kamu tau perasaanku, Mas. Tapi kenapa kamu seolah buta akan hal itu," ucap Tisha seraya menempelkan plester yang sengaja ia bawa di dalam tasnya.


Semenjak mengenal Samuel, Tisha selalu membawa peralatan PPPK di dalam tasnya. Karena ia tahu, pria yang berhasil menarik perhatiannya itu terlalu sering terluka. Meskipun itu hanya luka kecil sekalipun.


"Maaf, sebaiknya Nona segera keluar. Saya mau istirahat." seperti biasa, Samuel selalu menghindari pembahasan tentang perasaan Tisha terhadapnya.

__ADS_1


Ia selalu bersikap datar kepada gadis itu. Namun, hal itu tidak pernah membuat Tisha jera akan sikap Samuel. Gadis itu merasa semakin tertantang untuk mendekati pria bermuka datar tersebut.


__ADS_2