
Sementara di bagian sisi kiri dan kanan gedung, keadaan sudah aman. Samuel, Franky dan Devan berhasil melumpuhkan mereka tanpa menimbulkan suara yang menyita perhatian sekitar. Entah, keahlian apa yang mereka miliki sehingga bisa menyelesaikannya dengan cepat.
Dan di bagian pintu depan, Langit dengan gerakan tangannya yang lincah berhasil melumpuhkan mereka, tanpa ada sesuatu yang serius terjadi padanya.
Saat mereka melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan dimana adanya Manika, betapa terkejutnya mereka saat melihat apa yang ada dihadapan mereka. Terutama Bryan.
Dengan memaksakan kakinya, Bryan berlari menuju Manika yang tengah diraba oleh tiga pria dengan kondisi mereka sudah tidak memakai pakaian.
"Jangan sentuh, istriku!" pekik Bryan seraya mengarahkan senjatanya tepat pada ketiga orang itu.
Timah panas pun meluncur dengan sangat mulus tepat di punggung mereka satu persatu. Tidak hanya satu kali, Bryan meluncurkan timah panasnya hingga isi yang ada di dalam benda itu habis tak tersisa.
Tidak ada perlawanan dari mereka yang ada di dalam. Karena kedatangan Bryan dan Langit tidak disadari oleh mereka. Sementara orang yang berjaga di sekitar Eva dan Casandra, mereka mulai menodongkan senjatanya kearah Bryan.
__ADS_1
Namun, sebelum mereka menarik pelatuk mereka, Dirga dan Arya lebih dulu menembak mereka dengan dibantu Langit yang memang berada di ruangan yang sama.
Suara tembakan pun saling bersahutan. Terlihat Casandra sangat ketakutan saat melihat Bryan. Bryan melepas jaket yang dia pakai, lalu menutup tubuh Manika yang hanya tertutup oleh pakaian dalamnya. Ada sedikit rasa lega di hatinya, karena Manika tak sampai di jamah oleh mereka. Dan keadaan Manika yang tak sadarkan diri, membuat kemarahan Bryan memuncak.
"Sudah aku ingatkan, jangan sentuh milikku!" gertak Bryan menatap tajam pada Casandra. Membuat tubuh Casandra semakin gemetar. Sangat berbeda dengan sikap arogannya beberapa saat lalu.
"Bry... Bisa aku jelasin. Aku hanya ingin main-main aja sama dia. Aku ingin kamu kembali padaku. Dan semua ini karena tante Eva yang datang kepadaku. Menawari sebuah tawaran yang sangat menggiurkan bagiku," elak Casandra.
"Akhhh!!" rintih Casandra. Darah segar pun mulai mengalir dari balik bajunya.
"Beraninya kau menyalahkanku!" ucap Eva semakin memperdalam pisau yang dia pegang ke bagian pinggang Casandra sebelah kanan.
"Kau gila, Eva!" teriak Arya.
__ADS_1
Mereka semua tidak kaget dengan adanya Eva. Karena pihak lapas sudah mengabari kalau Eva kabur dari penjara. Dan sifat gilanya itu semakin tak terkendali.
"Aku memang sudah gila, Sayang. Dan ini semua gara-gara kamu yang membuat hidupku semakin menderita!" pekik Eva. Ia sudah tidak peduli lagi akan bagaimana nasibnya nanti.
Eva melempar tubuh Casandra yang berlumuran darah ke samping. Lalu berjalan mendekat dimana Arya berdiri. Dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya, langkah Eva semakin dekat dengan tempat Arya.
"Kita ditakdirkan untuk bersama, Sayang." ucap Eva tersenyum sumbang. Pisau yang digunakan untuk menusuk Casandra tadi, masih dipegang erat oleh tangannya sebelah kanan.
Tidak mau mengambil resiko, dan mengulang lagi kejadian masa lalu, jika membiarkan Eva hidup. Untuk kemudian Dirga mengarahkan senjatanya tepat kearah Eva.
"Sepertinya kita harus memutuskan rantai pembantaian di sini. Aku tidak ingin ada korban selanjutnya lagi dari kita. Maafkan aku, tapi kau yang memilih mati dengan cara ini. Aku tidak bisa lagi bersikap lunak kepadamu seperti apa yang Arya lakukan padamu, Eva. Selamat tinggal." setelah mengucapkan itu, sebelum Eva benar-benar dekat dengan Arya. Dirga menarik pelatuknya beberapa kali dan meluncurkan timah panasnya tepat di dada Eva.
Tindakan Dirga membuat Arya dan yang lain kaget. Namun, keputusan itu sangatlah tepat. Karena permasalahan semua ini bermula dari generasi mereka. Dirga hanya tidak ingin ada korban lagi dari kesalahan rasa yang dimiliki generasi mereka. Dan menjadikan generasi penerus mereka menjadi sasaran balas dendam.
__ADS_1