Bibit Bayaran

Bibit Bayaran
Ingin Bersama


__ADS_3

Bryan segera melepas tangan Sela dari pinggangnya. Dirinya terlihat begitu panik saat Manika melangkah menuju tempat dirinya dan Sela berdiri sekarang ini. Dia khawatir akan terjadi perang dunia ke-sepuluh sebentar lagi.


"Sayang... aku bisa jelaskan," Bryan buru-buru meraih pergelangan tangan Manika. Lalu segera menariknya ke dalam pelukannya. Berharap dengan cara itu, wanitanya itu tidak jadi emosi. "Aku dan dia tidak ada apa-apa," lanjut Bryan. Semenjak mereka menjalani sebuah hubungan yang serius, mereka saling berkomitmen untuk tidak dekat dengan lawan jenis mereka masing-masing.


Namun, apa yang ditakutkan Bryan tidak terjadi. Dengan tenang, Manika tersenyum ke arah Bryan lalu berpindah menatap perempuan yang tadi memeluk ayah dari putrinya tersebut.


Manika melepas diri dari dekapan Bryan, kemudian melangkah menuju dimana Sela berdiri. Bryan dibuat tercengang dengan sikap Manika. Dia pikir, Manika akan marah padanya dan memulai perang dunia bersama Sela. Namun, ternyata itu hanya ketakutannya saja.


Terlihat sekarang Manika tersenyum ramah pada Sela, lalu menjulurkan tangannya ke arah Sela. "Hai, salam kenal," ucap Manika dengan ramah.


Sela nampak ragu menyambut uluran tangan Manika. Ia menatap ke arah Bryan yang diam saja, sebelum menyambut uluran tangan dari Manika.


"Sela," ucap Sela seraya menganggukkan kapal nya sopan. Pasalnya dia belum tahu siapa Manika. Begitu juga sebaliknya.

__ADS_1


"Manika," ucap Manika memperkenalkan dirinya.


Setelah itu Bryan segera menghampiri Manika. Dia tahu, wanita itu pasti sedang menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya.


"Udah belanjanya?" tanya Bryan kemudian mengambil alih ranjang belanjaan yang ada di tangan Manika.


Sela menatap kearah mereka tidak percaya. Bryan yang terlihat dingin saat berada di luar kamar itu, kini berubah menjadi lelaki yang begitu hangat. Terlebih lagi dia memperlihatkan sikap hangatnya itu di tempat umum. Sangat berbeda dengan Bryan yang dia kenal dulu.


"Ya udah, kalau begitu kita langsung pulang," ucap Bryan ingin segera mengajak Manika pergi dari sana. Lebih tepatnya dia tidak ingin sampai Manika tahu, hubungan seperti apa yang terjadi antara dirinya dan Sela.


"Tunggu Bry!" cegah Sela meraih tangan Bryan. "Kita belum ngobrol, setelah begitu sekian lama nggak bertemu," ucap Sela kemudian. Ia ingin mengetahui akan seperti apa reaksi yang akan di tampilkan oleh wanita yang bernama Manika tersebut.


Memang antara dirinya dan juga Bryan tidak ada hubungan yang mengikutsertakan perasaan mereka masing-masing. Namun, Sela merasa tidak ada lelaki yang lebih hebat daripada Bryan selama ini untuk urusan mencapai kepuasan. Jadi, dia menginginkan Bryan untuk menjadi partnernya kembali.

__ADS_1


Alih-alih merasa kesal dan akan marah pada Sela. Manika justru menampilkan ekspresinya tidak keberatan ke arah Sela. Dia tersenyum lembut ke arah Bryan, seraya berkata.


"Lebih baik kamu temani dulu, teman kamu, Mas. Sepertinya dia masih ingin bersamamu," ucap Manika tersenyum lembut, tapi penuh akan makna. Dan hal itu sukses membuat Bryan bergidik ngeri.


"Tapi Say--" ucapan Bryan terpotong saat dengan tidak tahu malunya Sela menarik lengannya dari samping. Karena tidak siap, otomatis membuat tubuh Bryan terhuyung ke arah Sela dan hampir saja menabrak tubuh wanita itu.


"Ayo, Bry! Aku sudah tidak sabar ingin merasakan lagi tangguhnya milikmu itu!" ucap Sela seraya melirik sekilas ke arah Manika.


Mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Sela kepada Bryan, seketika mata Manika membola tak peracaya. Begitupun dengan Bryan. Beneran mampus dah kali ini aku. Rutuk Bryan dalam hati.


Manika mengatur napasnya agar terlihat tenang, dia berusaha untuk tidak terkejut dan akan membalas Bryan nantinya.


"Oh... kalau begitu selamat menikmati harimu yang bakalan sibuk, Mas." ucap Manika tersenyum penuh arti. Lalu .mengambil alih barang belanjaannya dari tangan Bryan. Kemudian Manika memutuskan untuk pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2