Bibit Bayaran

Bibit Bayaran
Atur Strategi


__ADS_3

Setelah kepergian Erlangga, semua orang ini masuk ke dalam mobil dan menuju tempat dimana Mnaika berada. Kecuali Shakki dan Ayumna, mereka tidak ikut karena harus menjaga Ghani dan Cloe. Dan mereka barusan mendapat kabar dari asisten rumahnya, kalau Annyra dan Dahruslia baru sampai dikediaman Natakusuma. Shakki dan Ayumna langsung bergegas pulang setelah berpamitan pada suami mereka.


"Apa kau yakin bisa bertahan?" tanya Langit pada Bryan yang duduk di sebelahnya.


"Demi istriku, aku harus kuat," tegas Bryan.


Tatapan mata Bryan menuju ke depan. Menerka-nerka bagaimana keadaan Manika sekarang. Apakah berada di tempat yang gelap tanpa cahaya sedikitpun? Atau berada di tempat yang sangat kotor dan dingin? Sungguh, Bryan frustasi memikirkan hal itu.


Kemudian Samuel melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota menuju ke pinggiran kota. Waktu menuju ke tempat itu membutuhkan dua jam. Akhirnya mereka pun sampai ke tempat tujuan.


Samuel dan yang lain sengaja memberhentikan mobilnya agak jauh dari gedung yang dibuat menyekap Manika. Semua orang turun satu persatu, dengan senjata yang melekat di tubuh mereka.

__ADS_1


Arya dan Dirga mulai memeriksa senjata mereka. Sedang Bryan turun dari mobil dengan dibantu oleh Langit. Meski kakinya belum bisa berjalan dengan normal, tapi rasa sakit itu telah pergi setelah mendapat suntikan dari dokter Heru tadi.


Bryan harus bisa memanfaatkan waktu yang tinggal enam jam buatnya, untuk menyelamatkan sang istri. Kemudian dia mulai merakit senjatanya sendiri. Sudah cukup lama Bryan tidak memegang kekasih pertamanya itu.


"Apa kau yakin Bry, ikut masuk ke dalam sana?" kali ini Devan melangkah mendekat ke tempat Bryan dan Langit berdiri.


"Gimana keadaan di dalam, Dev?" melihat Devan datang ke arah mereka, Bryan langsung melayangkan pertanyaan yang sedari tadi mengganjal di pikiran. Bahkan di a tidak menjawab pertanyaan dai Devan.


"Belum ada pergerakan. Kita cari celah yang pas untuk menyusup ke dalam. Karena terlalu banyaknya penjaga, dan jika kita gegabah, takutnya membahayakan keselamatan istrimu," sahut Franky yang berjalan dibelakang Devan.


Meski Arya dan Dirga sudah berumur setengah abad, tapi tidak membuat mereka lemah. Karena mereka tetap menjaga stamina mereka dengan berlatih di waktu senggang yang mereka miliki. Bahkan Dirga kembali membangun sebuah organisasi yang lebih mengerikan lagi dari yang pernah Bryan pegang dulu.

__ADS_1


"Udah, jangan pada ghibah. Mending kita cepat gerak saja. Kasihan menantuku di dalam sana. Pasti dia ketakutan menghadapi situasi yang seperti ini," potong Arya. Kemudian mereka pun mulai bergerak.


Semua orang mengambil posisi masing-masing. Samuel berada di pasukan utama, lalu disusul dengan Franky dan Devan di pasukan kedua. Mereka menyerang dari sisi kanan dan kiri bangunan.


Sementara Arya dan Dirga, mereka hanya membawa dua orang untuk mengikutinya menyerang dari arah belakang bangunan. Karena mereka lebih leluasa jika bergerak sendiri tanpa banyak pengawal.


Sedangkan Langit dan Bryan, memilih lewat jalur depan. Karena Bryan lah yang sebenarnya diharapkan menjadi tamu mereka malam ini. Dengan langkah pelan, Bryan berjalan menuju pintu depan bangunan dengan tenang. Senjata yang dia bawa pun, tersembunyi dengan sempurna dibalik kemeja yang dia kenakan saat ini.


Sementara itu, suasana di dalam bangunan terlihat begitu ramai. Terdengar suara gelak tawa dari penghuni yang ada di dalamnya.


"Haha... Kali ini dia akan benar-benar hancur!" ucap seseorang yang tengah duduk di depan Manika.

__ADS_1


Ya, Manika duduk di kursi menghadap orang itu. Dengan tangan yang diikat ke belakang tubuhnya, serta kaki yang disatukan juga dengan keadaan diikat.


"Apa kita boleh menyicipinya terlebih dulu, Nyonya?" tanya seorang laki-laki pada perempuan yang tengah menikmati hisapan rokoknya.


__ADS_2