Bibit Bayaran

Bibit Bayaran
Gusar


__ADS_3

"Emm... boleh minta nomor telponmu?" tanya Casandra dengan nada hati-hati.


Bryan terdiam menatap Casandra begitu lekat. Setelah beberapa saat terdiam, terlihat Bryan mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Casandra.


Lantas dengan wajah yang begitu gembira, Casandra dengan sigap mengetik nomor telponnya ke ponsel milik Bryan. Lalu mendial nomornya sendiri, sehingga terdengar nada dering di ponselnya.


Casandra tersenyum ke arah Bryan seraya mengembalikan ponsel milik mantan kekasihnya itu. "Makasih," ucap Casandra. Bryan tak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian melajukan mobilnya menuju kediaman Natakusuma.


Setelah sampai di rumah, Bryan melepas kemeja yang sedari tadi ia kenakan. Lalu mendudukkan tubuhnya di sofa yang terdapat di ruang tamu kediaman Natakusuma tersebut.


Bryan menengadahkan kepalanya ke sandaran sofa. Menatap lurus ke arah langit-langit ruang tamu rumahnya. Pikirannya sedang kacau saat ini. Dia bingung serta bimbang dengan keadaannya saat ini.


"Apa yang harus aku lakukan?" lirih Bryan meraup kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Dia benar-benar bingung saat ini. Di satu sisi, dia sudah berkomitmen dengan Manika, ibu dari putrinya. Sedangkan disisi lain hatinya tak bisa berbohong, jika masih mempunyai rasa pada mantan kekasih yang dulu meninggalkannya, Casandra.


Melihat Bryan yang terlihat sedang gusar, Arya yang baru saja dari dapur untuk mengambil minuman, melangkah mendekat ke tempat putranya berada. Arya duduk di samping Bryan tanpa bersuara.


Tentu saja hal itu mengagetkan Bryan. Karena ia pikir semua penghuni rumah sudah tidur di kamar mereka masing-masing. Secara ini sudah pukul setengah dua belas malam.


"Minum dulu," Arya menyerahkan gelas yang berisi air putih kepada Bryan. Bryan menatap kearah papa-nya sebentar, lalu menerima minuman tersebut. Dia menghabiskannya dengan sekali teguk.


Arya menggeleng. Dia memperhatikan wajah putranya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu yang serius. Lalu Arya memberanikan diri untuk bertanya kepada sang putra. Karena selama ini Arya memang sangat jarang, duduk santai dan mengobrol berdua seperti ini dengan putranya tersebut.


"Ada masalah apa lagi? Bukannya ibu dari anakmu itu sudah menerima mu untuk menjadi suaminya?" tanya Arya membuka percakapannya dengan Bryan.


Bryan menyugar rambutnya dengan satu tangannya. Dia benar-benar pusing kali ini. Perasaan dan pikirannya tak bisa bekerja sama. Mereka memiliki pendapat masing-masing.

__ADS_1


"Casandra pulang, Pa," lirih Bryan.


"Casandra....," mata Arya melebar tak percaya setelah mendapat anggukan dari Bryan.


Perempuan yang menjadi alasan Bryan menjajah wanita itu hadir lagi di hidup sang putra. Namun, kali ini Arya tidak mau ikut campur. Putranya sudah dewasa. Dia sudah bisa menyikapi hal ini dengan bijak. Tak tahu jika sampai istrinya tahu akan keberadaan Casandra. Entah apa yang akan dilakukan olehnya.


"Lalu, apa yang membuatmu terlihat gusar seperti ini?" kali ini Arya ingin memposisikan dirinya sebagai teman ngobrol untuk putranya.


Bryan menghela napasnya kasar. Disaat dirinya sudah mempunyai dua perempuan yang ingin dia bahagiakan dan lindungi. Mengapa orang orang yang menorehkan luka di masa lalunya itu muncul kembali. Apalagi rasa untuk orang itu masih ada.


Dia sudah berusaha sekuat hati untuk melupakan orang itu, tapi kenangan manis bersamanya selalu muncul tanpa disuruh. Itulah yang membuat Bryan sangat berat untuk membuka hatinya kembali. Dan juga takut, jika dirinya sudah sangat mencintai seseorang, dia akan ditinggalkan lagi.


"Aku juga tak tau dengan apa yang diinginkan oleh hatiku," ucap Bryan membungkukkan tubuhnya dengan kedua siku bertumpu pada lututnya.

__ADS_1


__ADS_2