
Setelah memutuskan intuk saling terbuka, Bryan selalu datang ke rumah Manika setiap kali ada kesempatan. Dia selalu merindukan wajah putrinya yang sangat menggemaskan.
Contohnya saja seperti saat ini. Bryan datang ke rumah Manika dengan membawa berbagai mainan untuk sang buah hati. Dia ingin putrinya itu merasa tidak kekurangan sedikitpun. Dan sikap Bryan seperti inilah yang membuat Manika selalu marah padanya.
"Mas mau buka toko mainan disini?" tanya Manika menatap tajam ke arah Bryan.
Bryan sudah tahu pasti Manika akan marah padanya. Namun, saat dia melewati toko mainan waktu perjalan menuku ke rumah Manika, tangannya selalu gatal ingin membelikan putrinya itu berbagai macam mainan khusus anak perempuan. Meski Cloe masih mempunyai banyak mainan baru yang belum dibuka.
"Hanya ini saja, Sayang," jawab Bryan seraya mengangkat tiga kantung plastik berukuran yang sangat besar dan berisikan mainan tersebut.
__ADS_1
"Jangan belikan Cloe barang yang tidak ada gunanya untuk dia, Mas. Lagian masih banyak mainan dia yang belum dibuka," Manika tidak mengerti jalan pikiran Bryan. Pria itu selalu saja memberikan barang yang tidak sedikit.
"Iya, iya Mama...!" pasrah Bryan. Lebih baik dia mengalah daripada perdebatan ini tidak akan ada habisnya. Karena perempuan yang menjadi ibu dari anaknya itu tidak akan mau menyerah begitu saja. "Lihat, Sayang. Daddy baru datang udah di marahi sama Mama," adu Bryan pada Cloe yang mengarahkan kedua tangannya kepada Bryan.
Lalu Bryan mengambil alih Cloe dari gendongan tangan Manika. Bocah kecil itu terlihat sangat senang saat Bryan menggendongnya. Dia semakin terkekeh kegelian dikala Bryan menciumi dengan gemas perut gembulnya tersebut. Dan Bryan sangat suka memperlakukan Cloe seperti itu.
"Oh, ya. Mana Mama?" tanya Bryan yang tak melihat mama Annyra, mama-nya Manika.
"Kalau Nenek?" tanya Bryan lagi tanpa melihat ke arah Manika. Dia sekarang tengah sibuk menggoda putrinya yang tak berhenti tertawa kegelian, karena ulah tangan jahil Bryan yang tak henti menggelitik perut serta leher sang putri.
__ADS_1
"Nenek sedang arisan di rumah temannya," jawab Manika. Lalu dia berjalan ke arah dapur untuk membuatkan Bryan minuman. "Mas mau minum apa? Teh apa kopi?" teriak Manika dari arah dapur.
"Wedang jahe saja kalau ada!" jawab Bryan dengan suara yang keras juga. Hingga mengakibatkan Cloe menangis karena kaget.
Melihat Cloe yang menangis karenanya, dengan sigap Bryan menimang Cloe, lalu melambungkan Cloe ke udara. Hingga bocah kecil itu tertawa kegirangan karena sangat suka di perlakukan seperti itu oleh Daddy-nya.
Tidak lama kemudian, Manika datang dengan membawa nampan yang berisikan wedang jahe buat Bryan dan teh untuknya. Serta beberapa camilan untuk Cloe, putrinya.
"Tumben minum wedang jahe, Mas?" tanya Manika merasa heran. Semenjak mereka sepakat menjalin sebuah hubungan, Manika tidak pernah melihat Bryan minum minuman seperti itu. Biasanya dia lebih sering meminta untuk dibuatkan kopi.
__ADS_1
"Karena kamu nggak ada di sampingku setiap malam," jawab Bryan asal. Manika semakin mengernyitkan dahinya menatap tidak mengerti dengan jawaban yang dilontarkan oleh Bryan. Karena menurutnya sangatlah tidak nyambung.
"Maksudnya?" tanya Manika dengan polos. Bryan menoleh ke samping, dimana Manika duduk dengan menikmati secangkir teh nya. Lalu mengacak pelan rambut wanitanya tersebut.