
Menjelang jam makan siang, Manika terlihat sangat gusar. Pasalnya Bryan mengajaknya untuk makan siang bareng di ruangannya. Manika takut, jika ada karyawan lain yang akan melihat mereka sedang berduaan di dalam ruangan yang sama. Manika adalah tipe orang yang malas mencari perhatian dari orang lain. Dia nggak mau jika akan menimbulkan gosip lagi. Meskipun itu benar adanya.
"Kamu kenapa, Nika?" ternyata kegusaran Manika terlihat oleh Gauri. "Diajak ke atas lagi?" rekan kerjanya itu memang selalu peka terhadap sekitar. Terkadang Manika dibuat penasaran olehnya, apakah mungkin Gauri bisa membaca isi otak manusia? Karena tebakannya itu selalu benar.
"Aku nggak mau jika jadi bahan gosip lagi, Ga. Kamu tau sendiri, kan? Kalau Bu Nada juga menyukai direktur kita," lirih Manika.
Nada adalah salah satu manajer di perusahaan ini. Perasaannya terhadap Bryan terlihat jelas oleh karyawan yang lain. Karena semenjak Bryan masuk ke perusahaan ini, Nada selalu mencari perhatian dari direktur muda itu. Dan hal itu Nada lakukan tidak mengenal tempat. Sehingga bukan rahasia lagi kalau dia menyukai direktur perusahaan ini.
"Iihhh... Mana ada Pak Bryan suka sama dia. Dia kan lebih tua dari Pak Bryan, Ka. Ya jelas Pak Bryan milih kamu, lah! Apalagi kamu lebih seksi darinya," ucap Gauri seraya menggoda Manika dengan mengeringkan matanya.
"Iisshh apaan, sih!" Manika tersipu meski yang mengatakannya itu seorang perempuan. Karena memang bentuk tubuhnya adalah dambaan setiap perempuan yang ingin memiliki tubuh proposional seperti dirinya.
__ADS_1
"Lah, emang bener, kan!" Gauri tak henti-hentinya menggoda rekan kerjanya.
Meski status temannya itu sudah berubah menjadi tunangan bos-nya, Manika tetap bersikap biasa dan ramah terhadap teman yang lain. Bahkan dia meminta Gauri untuk menyembunyikan statusnya. Dan Gauri belum tahu, jika status Manika sekarang sudah naik satu tingkat, yaitu menjadi istri dari bos-nya tersebut.
Manika memang sengaja tidak menceritakan tentang pernikahan mereka pada Gauri. Dia tidak mau, jika sampai ada banyak yang mengetahuinya, mereka akan bersikap berlebihan kepadanya. Terlebih lagi Nada. Dia pasti akan menjambak rambut Manika, karena telah merebut pria incaran sang manajer tersebut.
Disaat mereka sedang asik saling menggoda sembari menunggu jam makan siang, datanglah seorang perempuan cantik dengan dandanan yang sedikit berlebihan. Seperti akan datang ke sebuah club malam. Perempuan itu mendatangi tempat mereka. Dengan membawa sebuah tempat bekal di tangan kirinya.
"Selamat siang, ada yang bisa Saya bantu?" sapa Manika ramah saat perempuan itu berada tepat di depan meja kerjanya.
"Dimana ruangan Pak Bryan?" tanya perempuan itu tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Maaf, apa anda sudah ada janji dengan beliau?" kali ini Gauri yang bertanya.
Gauri melirik ke arah Manika, seolah bertanya 'siapa dia?' Melalui tatapannya. Manika hanya mengangkat kedua bahunya. Memang dia tidak mengenali perempuan yang dengan pakaian yang minim tersebut.
Casandra nampak berpikir. Jika dia jawab belum, pasti kedua perempuan yang ada di depannya ini tidak akan memberitahukan dimana ruangan Bryan.
"Aku sudah ada janji dengannya," Casandra berbohong demi untuk bisa bertemu dengan Bryan. Karena selama ini dia sangat sulit menghubungi pria itu.
"Tunggu sebentar, saya hubungkan dulu," jawab Gauri. Tangannya ingin meraih ganggang telpon yang berada di atas mejanya. Namun, dicegah oleh Manika.
Manika nampak menelisik tamu perempuan itu dari bawah sampai atas. Dia ingin tahu, siapa sebenarnya perempuan ini. Ada urusan apa sama suaminya dengan penampilan yang seperti wanita malam.
__ADS_1
Manika tahu betul seperti apa kehidupan malam. Karena dirinya dulu juga pernah mengalami masa-masa seperti itu.
"Biar aku saja yang mengantar Ibu ini ke ruangan Pak Bryan," ucap Manika seraya menatap intens kepada Gauri. Gauri tahu apa arti tatapan Manika.