
"Aku tunggu jam makan siang di ruangan direktur. Nanti kita akan menemui Mama di butik anak teman Mama," lirih Bryan lagi membuat Manika bingung. Dan setelah mengatakan itu, Bryan melangkah pergi meninggalkan meja kerja Manika.
Manika tidak mungkin berani datang ke ruangan direktur jika tidak disuruh oleh direktur-nya langsung. Bisa-bisa ia akan dipecat jika sampai berani lancang kesana.
Bryan benar-benar menyuruh Manika untuk datang ke ruangannya disaat jam makan siang tiba. Bahkan dia mengutus Miko untuk menjemput Manika di lobby. Sontak hal itu membuat desas desus yang negatif bagi Manika.
Namun, saat ada yang mengatakan jika Manika adalah simpanan direktur perusahaan tempat mereka bekerja, Manika langsung menghampirinya. Karena yang mereka tahu selama ini direktur meraka sudah mempunyai seorang tunangan. Dan berita itu baru Manika ketahui hari ini.
Manika begitu geram dengan cepatnya berita buruk tentang nya tersebar luas di perusahaan ini. Padahal Manika dan Bryan terlihat dekat hanya tadi pagi.
Dengan hati yang kesal, Manika masuk ke dalam ruangan direktur tersebut. Kini dia tahu siapa sebenarnya Bryan.
Brak!
__ADS_1
Manika membuka pintu ruangan direktur utama itu dengan sangat kencang. Bahkan Miko dibuat kaget olehnya. Baru kali ini ada orang yang berani bersikap seperti itu kepada atasannya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Bryan terkejut dengan perubahan sikap Manika.
"Apa maksud semua ini, Mas?" tanya Manika penuh dengan emosi. "Apa kamu mau mempermainkan aku?" lanjutnya lagi. Menatap tajam ke arah Bryan yang terlihat bengong.
"Maksud kamu apa, Beibeh? Aku nggak ngerti." ucap Bryan dengan lembut seraya melangkah mendekati Manika.
"Kenapa kamu tidak menjelaskan padaku jika kamu adalah direktur di perusahaan ini?" tanya Manika penuh dengan nada emosi.
Miko yang menyadari kesalahannya, karena telah memberitahukan terlebih dulu siapa direktur mereka tanpa meminta ijin kepada Bryan terlebih dulu. Dia berjalan melipir ke arah pintu lalu melangkahkan kakinya keluar fari ruangan tersebut.
"Tenang dulu. Aku bisa jelaskan," ucap Bryan sembari memeluk tubuh Manika untuk menenangkan wanitanya tersebut. Manika berusaha untuk lepas dari dekapan Bryan. Namun, dia tetap kalah tenaga.
__ADS_1
"Kamu pembohong, Mas!" pekik Manika seraya memukul bagian belakang bahu Bryan. "Aku pikir, aku bisa mempercayai dan membuka hatiku kembali pada seorang laki-laki. Tapi ternyata, kamu saja seperti mereka. Setelah apa yang kamu dapatkan, kamu pasti juga akan membuangku. Aku terlalu bodoh, karena terbuai dengan rayuanmu," ucap Manika panjang lebar. Tidak memberi Bryan kesempatan untuk menjelaskan semuanya.
Dengan air mata yang mengalir deras, juga luka di hatinya yang kembali terbuka, Manika berusaha sekuat tenaga untuk lepas dari dekapan Bryan.
"Maaf, jika aku tidak jujur kepadamu dari awal siapa sebenarnya diriku. Tapi aku tidak sepenuhnya salah disini, Sayang," Bryan mencoba membela dirinya. Karena memang ini bukan kesalahannya sepenuhnya. "Pada hari pertama aku pindah ke sini, kamu tidak memperhatikan aku. Padahal waktu itu aku selalu memperhatikan mu dari jauh." jelas Bryan. Karena Bryan telah menemukan wanita yang selama ini ia cari.
Kedua tangan Bryan membingkai wajah Manika, lalu mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi mulus wanitanya itu dengan kedua ibu jarinya.
Entah mengapa, dirinya selalu tidak tega jika melihat air mata wanitanya itu menetes. Ada rasa sesak di dalam dadanya.
Jika dirinya beranggapan kalau ini adalah rasa cinta yang mulai tumbuh di hatinya untuk Manika, dia salah besar. Karena nyatanya di dalam lubuk hatinya paling dalam, masih tersirat nama mantan kekasihnya yang pergi meninggalkan dirinya dengan menggoreskan luka di dada.
Entah hasrat atau cinta yang dirasakan oleh Bryan kepada Manika saat ini. Satu hal yang ia tahu, ia ingin memberi kebahagian kepada dua wanitanya tersebut. Manika dan Cloe, putrinya.
__ADS_1