
Karena banyaknya timah yang menembus di dada Eva, dia pun langsung mati seketika. Bibirnya mengulas sebuah senyuman yang putus asa, serta sorot matanya tak teralihkan dari Arya. Kini, tubuhnya tergeletak di lantai yang sangat dingin. Darah mengalir dari berbagai luka yang dilewati oleh timah panas milik Dirga.
Arya menghela napasnya. Hanya karena cinta dan obsesi, banyak nyawa yang menjadi korban. Permasalahan yang dimulai dari generasinya, kini berakhir di generasi putranya.
Sementara Dirga mengusap kasar wajahnya. Ia tidak menyangka akan membunuh seorang perempuan. Namun, dia tidak bisa membiarkan keluarganya menjadi korban terus menerus hanya karena cinta dan obsesi.
Sedangkan Langit kini membantu Bryan yang menggendong istrinya. Langit mencoba mengambil alih karena kondisi kaki Bryan tidak memungkinkan untuk menahan beban lebih berat lagi. Bryan menyadari kondisinya, lalu memberikan Manika kepada adik iparnya tersebut. Mereka melangkah keluar dari ruangan itu, untuk kemudian menuju mobil mereka yang sudar terparkir di depan gedung.
Franky, Samuel dan orang-orang Bryan, membantu mengevakuasi anak buah Eva yang telah gugur. Sementara Devan segera mengangkat Casandra untuk segera dilarikan ke rumah sakit.
__ADS_1
Namun, semua itu terlambat. Casandra kehilangan banyak darah, sehingga pada saat baru sampai di mobil, Casandra menghembuskan napasnya untuk terakhir kali.
Malam ini sungguh menjadi malam yang bersejarah bagi banyak pihak. Terutama bagi keluarga Bagaskara dan Natakusuma. Mereka mengadakan pemakaman untuk Eva dan Casandra pada malam itu juga.
Bryan tidak ikut hadir, karena ia harus mendapat perawatan yang lebih intens pada kakinya. Dan juga istrinya yang mengalami shock berat pada kejadian malam ini. Ya, kini mereka berada di rumah sakit yang sama. Bahkan Bryan meminta dirawat di ruangan yang sama dengan istrinya. Ia tidak mau istrinya itu jauh dati jarak pandangnya.
Shakki, Ayumna, Annyra, Tisha dan dokter Ayu pun langsung datang ke rumah sakit tempat Bryan dan Manika dirawat. Sementara Dahruslia menjaga cucunya dan juga anak Ayumna di rumah utama keluarga Natakusuma. Sementara para laki-laki di keluarga mereka, mengantar kepergian Eva dan Casandra di tempat peristirahatan mereka yang terakhir.
"Iya, Sayang. Mama ada di sini," ucap Annyra tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang mulai ada kerutan.
__ADS_1
"Nika takut, Ma," lirih Manika seraya memeluk erat tubuh mamanya. Annrya terus mengusap kepala Manika untuk menenangkan putrinya tersebut.
Bryan baru masuk ke dalam ruangan setelah baru mendapat perawatan intens pada kakinya. Ayumna mendorong kursi roda yang diduduki Bryan ke arah dimana Manika terbaring dengan lengan yang memeluk erat mama Annyra.
"Sayang...," lirih Bryan. Ayumna semakin mendekatkan mereka.
Mendengar suara menantunya, lekas membuat Annyra sedikit menggeser tubuhnya ke samping. Memberikan tempat untuk menantunya tersebut.
Tangis Manika pecah saat melihat keadaan Bryan. Tanpa mendengar peringatan dari semua orang yang berada di ruangan itu, Manika turun dari brankar pasien dan langsung menghambur ke pelukan suaminya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Mas. Maafkan aku," Manika menangis histeris.
Manika merasa dirinya telah kotor, karena ada lelaki lain yang menyentuh tubuhnya. Manika tidak mengingat kejadian yang keseluruhan. Yang dia ingat, tiga orang pria itu menjamah tubuhnya, lalu membiusnya. Setelah itu Manika tidak tahu adegan apa selanjutnya yang terjadi padanya.