Bibit Bayaran

Bibit Bayaran
Sebuah Komitmen


__ADS_3

Setelah kepergian Manika, secepatnya Bryan mengibaskan tangan Sela. Menatapnya dengan tatapan yang menusuk tajam.


"Ingat ini ya. Kita udah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi jangan pernah muncul di hadapanku lagi!" tekan Bryan kemudian segera menyusul Manika.


Bryan melangkahkan kakinya lebar menuju arah luar toko tersebut. Untung saja Manika belum sampai jauh, jadi dia bisa mengejarnya dan membujuknya kembali.


Sementara itu Sela menghentakkan kakinya, karena gagal merayu Bryan dan gagal untuk bisa merasakan ketangguhan milik Bryan kembali.


"Tunggu, Sayang! Aku bisa jelasin semua," ucap Bryan meraih tangan Manika, saat wanitanya itu ingin menyebrang.


Manika diam tidak berkata sepatah kata pun. Walaupun kini Bryan menariknya dan mengajaknya masuk ke dalam mobil Bryan. Manika tetap membungkam mulutnya serta menatap ke arah depan. Dia tidak melihat kearah Bryan sedikit pun.


"Sayang ... dia adalah bagian masa lalu ku yang kelam, dulu. Jauh sebelum bertemu dengan kamu pada malam itu," Bryan mulai menjelaskannya dengan sangat hati-hati. Lalu mencoba meraih kembali pergelangan tangan Manika, yang sedari tadi mencoba menghindar darinya.

__ADS_1


Setelah berhasil meraih tangan Manika, Bryan mengusap lembut punggung tangan wanitanya, lalu mengecup penuh mesra serta tatapannya yang menatap ke arah Manika begitu menggoda.


Manika berusaha untuk tidak goyah diperlakukan sedemikian romantis seperti itu. Entah mengapa, melihat Bryan sedang berpelukan dengan perempuan lain hatinya merasa sedikit nyeri.


"Tapi kamu terlihat sangat nyaman peluk dia tadi," ucap Manika ketus. Membuat Bryan beranggapan kalau wanitanya itu sedang cemburu.


"Itukan rejeki, Sayang." goda Bryan yang langsung mendapat pelototan tajam dari Manika.


Manika sendiri tidak tahu mengapa dirinya ingin sekali memonopoli Bryan sendiri. Padahal ia tahu, sampai sekarang belum ada kejelasan tentang hubungan mereka.


Bryan tersenyum mendengar ungkapan yang diucapkan oleh Manika. Dan hal itu semakin memantapkan dirinya untuk rencana yang telah ia susun malam ini untuk Manika.


Bryan sengaja tidak mengatakannya terlebih dulu kepada Manika. Dia ingin memberi kesan yang sangat romantis dan paling terkesan di dalam hidup wanitanya itu.

__ADS_1


"Semenjak aku merasakan tubuhmu, tanpa aku sadari tubuhku tidak mau menuruti perintah dari otakku sendiri," ucap Bryan dengan bahasa yang absurd.


"Maksud, Mas?" tanya Manika tidak mengerti. Lalu Bryan menarik bahu wanitanya itu ke dalam pelukannya.


"Otakku yang selalu menyuruhku untuk mencari kepuasan di atas ranjang. Namun, tubuhku tidak mau melakukannya lagi dengan wanita lain selain dirimu, Sayang." jelas Bryan yang kemudian mendapat cubitan dari Manika.


"Kau berani melakukannya lagi setelah denganku? Hmm?" tanya Manika sambil mencubiti pinggang Bryan. Karena pria itu masih berani berpikir hal yang absurd dengan wanita lain.


"Ouch! Sakit, Sayang! Kenapa kamu sekarang hobi banget nyubiti aku, sih!" Bryan mencoba menghindar dari serangan tangan Manika yang sangat lincah.


"Biarin! Siapa suruh masih memikirkan melakukan hal itu dengan perempuan lain!" Manika semakin gentar memberi cubitan demi cubitan ke pinggang dan perut Bryan.


Mereka terlihat sangat bahagia saat ini. Tanpa tahu kalau ada sesuatu yang cukup menguji perasaan mereka ke depannya.

__ADS_1


__ADS_2