Bibit Bayaran

Bibit Bayaran
Pertahankan Milikmu


__ADS_3

Sedangkan disisi lain, terlihat Manika sangat sibuk dengan pekerjaannya. Lebih tepatnya menyibukkan diri. Dia tidak mau berpikiran yang aneh-aneh tentang suaminya. Tapi, hati wanita mana yang tidak sakit, jika melihat suaminya dipeluk oleh wanita lain? Manika tidak bisa mengelak tentang itu.


Bisa saja dia tadi langsung marah kepada Bryan, namun dia juga harus bersikap profesional dalam bekerja. Karena ini masih merupakan jam kerja kantor.


Beberapa kali nada di ponselnya berdering. Manika menatap malas saat nama suaminya muncul di layar ponsel miliknya. Emosi masih menguasai hatinya, ia takut jika nanti tidak bisa mengendalikan dirinya dan malah memarahi Bryan disini.


"Kamu nggak jadi makan sama dia, Ka?" tanya Gauri heran saat melihat rekan kerjanya itu tidak beranjak dari sana.


"Aku tidak lapar, Ga," jawab Manika sambil menata berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya.


"Nggak gitu juga kali, Ka. Meskipun sedang cemburu, kamu tuh harus tetep makan. Biar kuat nanti kalo semisal mau jambak-jambakan," ujar Gauri yang sangat mengerti ekspreuajah Manika. Lantas, Gauri langsung menarik tangan Manika.


"Udah, yuk! Kita ke kantin. Siapa tau ada cowok yang bening nyasar ke kantin," ucap Gauri seraya menarik tangan Manika menuju ke kantin.


Tak bisa memilih, akhirnya Manika menurut saja. Lagian cacing diperutnya juga sudah teriak minta diisi.

__ADS_1


"Ingat, Ga. Kamu udah punya cowok," ingat Manika akan status Gauri yang sudah mempunyai kekasih.


"Udah putus!" jawab Gauri santai.


"Hah?" Manika terlihat kaget. Pasalnya hubungan Gauri dan kekasihnya terlihat baik-baik saja selama ini.


"Nggak usah kaget gitu! Dia yang selingkuh," kali ini pernyataan Gauri lebih membuat Manika terkejut tak terkira. Bagaimana bisa, rekan kerjanya itu bisa bersikap tenang saat hatinya sedang patah hati.


"Ga, kamu nggak...," ucapan Manika terhenti saat Gauri tiba-tiba saja berhenti dan berbalik badan menghadap kearahnya.


Kali ini Manika benar-benar merasa malu di depan Gauri. Karena dirinya malah memberikan kehormatannya untuk orang asing yang tidak ia kenal. Dan lebih parahnya lagi, hubungan semalam yang mereka lakukan menghasilkan seorang bayi yang begitu menggemaskan. Dirinya masih beruntung, orang asing tersebut kini menjadi suaminya.


"Pertahankan apa yang jadi milikmu sekarang. Apalagi kalian sudah menikah," ucap Gauri lagi. Dan itu membuat Manika menatapnya penuh tanda tanya.


"Aku bukan wanita bodoh yang bisa kamu bohongi, Nika. Aku tau apa arti dari cincin berlian yang melingkar di jari manis mu itu," lanjut Gauri seraya menunjuk jari Manika.

__ADS_1


"Rahasiakan ini, Ga," pinta Manika menatap Gauri penuh permohonan.


Gauri menatap ke depan. Ia nampak memikirkan sesuatu yang membuat Manika semakin gusar. Takut jika Gauri akan mengatakan kepada karyawan yang lain.


"Ga...," Manika menarik tangan Gauri sehingga langkah mereka terhenti.


"Bagaimana perasaanmu saat ini?" bukan malah menanggapi, Gauri justru memberinya pertanyaan. Kini Gauri dapat melihat siapa orang yang tengah membuntuti mereka sedari tadi.


"Kami bersatu karena adanya anak diantara kami. Dan aku tahu, dia belum bisa mencintaiku sepenuhnya, Ga. Tapi entah kenapa, hatiku terasa sakit jika melihatnya berpelukan dengan wanita lain. Ingin aku memarahinya langsung. Tapi aku merasa tidak berhak, karena hatinya bukan milikku," ucap Manika sembari menahan air yang mau keluar dari pelupuk matanya.


Gauri menangkup kedua bahu Manika. Mengangkat wajah rekannya itu agar menatap dirinya.


"Kamu berhak atas dia, Nika. Kamu berhak lebih dari siapapun. Karena dia milikmu seutuhnya," ucap Gauri meyakinkan perasaan Manika.


Sementara itu, orang yang berdiri dibelakang Manika tak hentinya menyunggingkan bibirnya keatas membentuk sebuah senyuman.

__ADS_1


__ADS_2