
"Aku mau," jawab Manika menyerah. Membuat senyum Bryan semakin tersinggung dan ingin menggoda wanitanya lebih lama lagi.
"Mau apa?" goda Bryan dengan sesekali menusukkan kembali jemarinya. Dan itu semakin membuat Manika kesal.
"Mau menikah dengan Mas, puas!" teriak Manika menatap tajam pada Bryan lalu tangannya menarik leher Bryan. Ingin menyalurkan hasrat yang ia pendam selama ini.
"Aku belum puas, Sayang," ucap Bryan kemudian bibirnya dilumat habis oleh Manika.
Dan Bryan suka sikap Manika yang agresif seperti dulu, saat mereka melakukannya untuk pertama kali. Kemudian Bryan menggerakkan jemarinya di bawah sana dengan lebih cepat dan lebih intens. Sampai membuat Manika memekik puas, karena apa yang sedari tadi ingin keluar akhirnya keluar juga.
Setelah dirasa wanitanya itu selesai mengeluarkan cairan nikmatnya, Bryan mengeluarkan jemarinya dari dalam bibir bagian bawah milik Manika. Dengan matanya menatap menggoda ke arah Manika, membuat Manika sedikit salah tingkah. Sadar akan apa yang baru saja ia lalui.
__ADS_1
Dengan napas terengah-engah, menikmati sisa-sia kenikmatan yang baru saja ia gapai, Manika menatap lega ke arah Bryan. Kini, pria itu terlihat turun dari ranjang membuat Manika bisa bernapas lega. Karena ia pikir Bryan akan membebaskannya saat apa yang ingin pria itu dengar itu terucap.
"Huft! Untung, dia berhenti," gumam Manika lirih menatap langit-langit kamar yang menjadi saksi bisu kepuasan dirinya.
Jika diingat kembali kejadian lima menit yang lalu, Manika merasa dirinya orang paling bodoh sedunia. Bagaimana bisa tubuhnya sangat menikmati sentuhan dari pria yang mengaku ayah dari putrinya tersebut.
Meskipun semua kejadian yang mengarah kalau memang benar Bryan adalah pria yang tidur dengannya satu tahun yang lalu, Manika tidak bisa langsung mempercayai itu begitu saja. Dia butuh bukti yang valid. Dan Manika berencana akan melakukan tes DNA dengan meminta bantuan kepada tantenya, dokter Ayu.
Tanpa Manika duga dan ia sangka sebelumnya. Pria yang ia kira sudah keluar dari kamar tersebut, ternyata kini berjalan ke arah ranjang. Pria itu langsung menindih tubuh Manika, disaat Manika akan beranjak dari tempat tidur tersebut.
"Mau apa kamu Mas? Bukannya kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau?" tanya Manika berusaha lepas dari jeratan tangan Bryan.
__ADS_1
Bryan tersenyum menyeringai, membuat bulu kuduk Manika meremang seketika. Manika sudah hafal arti dari tatapan Bryan saat ini. Tatapan pemangsa yang siap melahap mangsanya dengan sangat buas.
"Sekarang giliran kamu yang memuaskan aku, Sayang," ucap Bryan dengan suara parau. Kemudian memposisikan tubuhnya di depan tubuh Manika. Dengan kedua tangannya membuka lebar-lebar kaki Manika. Sehingga kini terlihat bibir bagian bawah tubuh Manika bak bunga yang sedang merekah.
Tentu saja itu semakin membuat Bryan tidak sabaran. Ingin sekali lagi, bahkan mungkin lebih darii satu kali untuk merasakan kembali kesempitan yang mencengkeramnya satu tahun yang lalu. Yang berhasil membuat miliknya tidak merespon dengan milik wanita lain.
Rasa panas, ngilu, sesak dan entah apalagi yang tak bisa Manika ungkapkan. Rasa yang begitu asing baginya, namun juga sangat nikmat efek yang ditimbulkan.
Suara jeritan Manika seketika berubah menjadi ******* paling merdu, dikala Bryan menggerakkannya dengan ritme pelan, lalu berubah dengan sangat kencang. Sungguh nikmat luar biasa yang baru Manika rasakan. Meskipun ini yang kedua baginya, karena dulu dia tidak dapat mengingat seperti apa rasanya.
"Rasa nikmat tubuhmu masih sama seperti satu tahun yang lalu, Sayang," ucap Bryan dengan napas yang memburu.
__ADS_1
Kamar apartemen itu menjadi saksi penyatuan mereka kembali setelah satu tahun yang lalu. Dan sura ******* maupun pekikan dari keduanya memenuhi seisi ruangan tersebut.
Atmosfer udara yang seharusnya mulai dingin, karena malam akan tiba, kini berubah semakin panas saat Bryan kembali menumpahkan benihnya ke dalam rahim Manika yang entah sudah ke berapa kali.