Bibit Bayaran

Bibit Bayaran
Sudah Direncanakan


__ADS_3

Hari ini, Bryan mengajak istri dan putrinya pergi ke sebuah Mall yang ada di kota ini. Setelah mengutarakan keinginannya pada kedua orang tuanya minggu lalu, akhirnya Bryan bisa pergi berlibur sekaligus bulan madu untuk mereka berdua. Dan mereka akan berangkat dua hari lagi.


Manika tengah sibuk memilih baju untuk putrinya. Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya Cloe juga ikut. tentu Shakki dan Arya pun juga ikut menemani mereka. Meski nanti tempat menginap mereka terpisah.


"Bagaimana kalau yang ini , Mas?" Manika menunjukkan sebuah setelan baju yang sama motifnya.


"Itu juga bagus, Sayang." jawab Bryan yang tengah menggendong Cloe.


Mereka tampak begitu bahagia dan menikmati sesi belanja mereka. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari jauh, dengan mengepalkan tangannya serta tatapannya yang tajam mengarah ke mereka.


"Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia di atas penderitaan yang selama ini aku lalui. Kalian harus membayar apa yang telah kalian lakukan padaku." kata orang itu lalu pergi dari sana.

__ADS_1


Setelah puas belanja apa saja keperluan mereka nanti, bryan mengajak istri dan anaknya untuk segera pulang. Karena hari sudah mulai sore, takut jika Cloe kecapean.


Dua hari pun berlalu dan kini tiba saatnya hari yang di tunggu-tunggu oleh Bryan. Mereka pun bersiap pergi menuju bandara dengan menggunakan mobil yang berbeda. Bryan dan Manika berada di mobil yang sama tanpa sopir. Sementara Arya dan Shakki di mobil yang lain bersama Cloe.


Mobil mereka melaju dengan kecepatan tinggi, karena waktu keberangkatan sebentar lagi. Namun, pada saat mobil yang dikemudikan Bryan sampai di persimpangan, tiba-tiba saja ada mobil yang menghadang mobil mereka.


CKIITT!


Bryan langsung menginjak pedal remnya dengan cepat. Dia mengumpat beberapa kali pada orang yang mengendarai mobil di depannya.


"Sayang, kamu tunggu disini sebentar, ya. Jangan keluar apapun yang terjadi nanti," perintah Bryan seraya menangkup kedua pipi Manika.

__ADS_1


"Mas, kamu mau kemana? Jangan gegabah, Mas! Lebih baik kita menunggu bantuan datang," Manika nampak khawatir saat Bryan meraih ganggang pintu mobil.


Dia sangat takut jika terjadi apa-apa pada Bryan. Apalagi melihat orang yang berbadan besar itu melangkah mendekat ke arah mobil yang mereka tumpangi.


"****! Kenapa aku bisa melupakan itu," umpat Bryan saat tidak menemukan senjata apinya yang biasa ia taruh di belakang jok kemudinya. "Sayang, kamu tunggu disini. Ingat apa yang aku katakan, kan?" Bryan mengecup bibir Manika setelah itu membuka pintu mobilnya dan keluar menghampiri lima orang yang berpakaian seba hitam.


"Mau apa kalian?" tanya Bryan dengan suara lantang.


Ada yang aneh dengan persimpangan jalan yang mereka lewati. Tiba-tiba saja jalan itu sepi oleh pengendara yang lewat. Padahal tadi normal-normal saja.


"Sudah direncanakan ternyata," lirih Bryan mengawasi sekitar, lalu menoleh kearah sang istri yang terlihat sangat khawatir dan ketakutan. "Bisa-bisanya aku teledor seperti ini." rutuk Bryan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Salah satu dari mereka maju mendekat dimana Bryan berdiri dengan sikap siaga. Bryan menggulung lengan kemejanya hingga sampai siku, melepas dua kancing bagian atas kemeja. Serta kakinya memasang gaya kuda-kuda, siap untuk bertarung.


"Lebih baik anda menyerah tanpa perlawanan, daripada anda tersakiti oleh kami, Tuan." ingat orang tersebut. Bukan Bryan namanya jika harus menurut pada orang lain.


__ADS_2